Recommended film #5: ‘Akeelah and the Bee’

Akeelah Anderson,  seorang anak berkulit hitam yang berbakat dalam bidang mengeja. Dia mampu mendapatkan nilai sempurna dalam ulangan mengeja di sekolahnya, meskipun tanpa persiapan apapun. Kemampuan mengenal kata-kata dan mengeja setiap huruf itu diajarkan oleh ayahnya yang juga mencintai dunia kata. Namun, setelah ditinggal oleh ayahnya untuk selama-lamanya, Akeelah yang baru berumur 11 tahun menjadi kehilangan semangat dan menangisi ayahnya setiap hari. Untuk menghilangkan kesedihannya, dia banyak mengeja kata-kata yang ditemuinya.

Meskipun Akeelah termasuk anak yang malas mengerjakan tugas, bahkan sering membolos sekolah, namun gurunya tetap memuji kemampuan mengejanya. Setelah mendapat nilai sempurna dalam ulangan mengeja, Akeelah diminta oleh gurunya untuk mengikuti lomba mengeja di tingkat sekolahnya. Awalnya, ia minder karena tidak percaya diri di antara orang-orang kulit putih yang mungkin akan menertawainya. Di lomba itulah dia betemu dengan Dr.Larabee yang kelak menjadi pelatihnya. Akeelah menolak untuk dilatih, dia merasa bisa mempelajari sendiri semua kata-kata yang ada dan tidak memerlukan seorang pelatih. Namun, saat dia berhasil lolos pertandingan ke tingkat regional dengan nyaris tersisihkan, ia pun sadar bahwa dia memerlukan pelatih.

Dr.Larabee sangat disiplin dalam melatih Akeelah, tidak hanya cara mengeja yang diajarkannya, namun juga sikap yang baik, sopan santun, menghargai orang lain, cara berbicara, fokus & konsentrasi, percaya diri, kerja keras, pengorbanan dan tentu saja kedisiplinan. Dengan begitu, Dr.Larabee berhasil mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk Akeelah dan juga membangkitkan semangat juang Akeelah untuk memiliki tujuan hidupnya, untuk tidak takut pada dirinya sendiri, untuk percaya diri dan berdiri di kaki sendiri.

Banyak cobaan yang harus dilalui Akeelah, mulai dari kehilangan ayahnya yang membuat hatinya terpukul, ibunya yang kurang perhatian kepadanya karena harus bekerja keras seorang diri, serta ejekan-ejekan yang ia terima dari teman-teman sekolahnya, hingga dijauhi oleh sahabat terdekatnya sendiri.

“Ketakutan terdalam kita bukan karena kita tidak cakap. Ketakutan terdalam kita adalah kekuatan kita dalam mengukur. Kita bertanya pada diri sendiri, siapakah aku sehingga aku cerdas, hebat, berbakat dan menakjubkan? Sebenarnya, siapa dirimu? Kita dilahirkan untuk membuat manifestasi kemuliaan Tuhan dalam diri kita. Dan begitu kita biarkan cahaya kita menyala, kita tanpa sadar memberikan orang lain kesempatan untuk melakukan hal yang sama.”

Dr.Larabee yang memang berlatar belakang sebagai guru, secara khusus melatih Akeelah setiap hari dengan metode khusus. Metode yang dianggapnya pas. Metode yang bukan hanya menghafal kata-kata, tapi kita juga harus mengetahui makna dan penggunaan katanya. Namun, tantangan selanjutnya berasal dari ibunya yang melarang Akeelah mengikuti lomba tersebut dengan alasan tertentu. Akeelah harus melewati dan mengatasi segala rintangan yang muncul dalam upayanya untuk menjadi juara pertandingan mengeja tingkat nasional.

Sepanjang proses perlombaan, banyak nilai-nilai yang bisa kita ambil pelajaran, yaitu tolong-menolong meskipun kita bisa saja mengabaikannya untuk kepentingan kita sendiri. Rela mengorbankan semua impian kita demi kebahagiaan orang lain. Bahkan, pada momen-momen penting sekalipun, mereka tidaklah egois, mereka sama-sama memberikan kesempatan kepada satu sama lain untuk melakukan yang terbaik yang mereka mampu capai. Tidak egois, meskipun mereka bisa saja merebut kesempatan emas yang ada di depan mata, namun menimbulkan ketidakadilan bagi yang lain.

“Kau tidak perlu khawatir tentang hari esok, ataupun hari kemarin, yang terpenting ialah mengetahui bahwa kau telah melakukan yang terbaik yang kau bisa.”

Agustus, 2012