Jadi Panitia Ramadhan itu Luar Biasa!

Ternyata keputusanku untuk ikut berperan dalam panitia ramadhan maskam undip tahun 2015 adalah pilihan yang takkan kusesali. Kutahu infonya dari mustomah dan akhirnya aku memilih menjadi bagian dari panitia harian dengan koordinator akhwat temanku sendiri, yaitu nurul. Mungkin bagi beberapa orang hal ini ringan, biasa aja dan tak berbekas, tapi buatku, semua pengalaman selama hampir sebulan ini sangatlah berarti. Panitia harian membuatku nyaris taraweh di maskam setiap hari, membuatku rajin ke maskam meski sebelumnya aku selalu malas-malasan, membuatku mendapat rezeki tambahan karena sering sekali membawa pulang makanan buka yang masih tersisa banyak, membuatku mendapat gizi tambahan karena hampir setiap malam makan semangka dan sisa takjil lainnya, membuatku spesialis receh selama menghitung uang infaq yang terkumpul setiap malam, membuatku menjadi pengatur shaf yang sampe hapal dengan kata-kata, ‘yang depan tolong diisi dulu ya mbak’.

Dan yang paling penting, membuatku belajar memahami persaudaraan yang terbangun indah antar panitia ramadhan yang hampir setiap malam berkumpul bersama, makasih banget buat anak anak harian yang the best banget dengan koor ibuu kita mbak nurul dengan anak-anaknya yang sangat penurut, hahay ; yaitu ecaa, yang karena harian aku jadi banyak tahu tentang kamuu, makasih udaah bersedia nganterin pulang malem-malem, devita yang punya suara khas tak tergantikan, anak fkm dari bangka ini beneran ngeramein dan ngangenin deh pokoknyaa, paling rajin ngatur barisan sayap kanan dan kiri, ada juga ina, temen sepermainan devita yang cantik ini baik banget dan punya suara lembut, kiki yang telaten kalo ngatur barisan bawah dan sejak shafnya mengalami kemajuan pesat, maka ia pun banting setir di bagian belakang. Tak lupa temen-temen baikku, ada tomah dan duwiik yang selalu heboh dan jadi penghiburku. Makasih banget atas kebaikan kalian. Terakhir dan yang paling cetar ya jelaas doong, siapa lagi kalo bukan ibu kita, nuuruuull… yang paling-paling rame, tapi dibalik ramenya itu tersimpan tanggung jawab yang besar, kepedulian yang tinggi, kepekaan yang mengagumkan, dan tentunya always berusaha happy, semangat, totalitas, dan rajin. Pokoknya saluut deh dan makasih buat nurul. Kapan nih harian bakal kumpul lagi ?? dan tentunya bukan di tempat harian biasa nongkrong loh yaa,, haha..

Temen-temen laen juga bakal aku inget, ada ani anak antropologi angkatan pertama di undip ini selalu ceria, bendahara yang bertanggung jawab tinggi, tiap malem pulang paling akhir loh. Ada mbak yulis yang juga sering nemenin ani, orangnya banyak bantuin siapapun yang butuh bantuan, tanggap deh. Ada mbak rhea yang udah nganterin aku malem-malem cenglu ke rumaisha, berasa mau jatoh, sereem ituu. Dan fitri yang selalu stand by dalam urusan konsumsi buka puasa. Ada juga miza yang sangat tanggap membantu dan rajin menyapa. Makasih buat semua kenangan manisnya selama ramadhan dan pelajaran tentang persaudaraan. Maafkan aku yang udah banyak salah selama ini. Semoga amal kita yang sedikit ini mampu membawa kita berkumpul di surga karena rahmat Allah swt. Amin.

Oyaa, subhanallah nya, aku yang awalnya khawatir karena ramadhannya pas uas dan setiap hari harus pulang malam karena jadi panitia harian, yang waktu belajarnya otomatis terpotong dari sore sampai malam, tapi subhanallah banget, ip ku malah naik drastis dan ngga nyangka banget bisa mencapai segitu. Allah maha baik J

Kamis, 30 July 2015. 11;12 pm. @ kartosuro.

Hanya Renungan untuk Diri Sendiri

Lelah? Merasa benar? Merasa berjasa? Padahal kerja juga nggak ada. Sok ngomongin orang? Diri sendiri aja ilang-ilangan. Banyak membenarkan alasan-alasan yang sebenarnya tak pantas diucapkan. Sukanya mengeluh pada orang, emang berguna? Allah dikemanakan? Carilah solusi, bukan ghibah sana-sini. Hanya menjelek-jelekkan, apa murni ingin memperbaiki? Lihat ke dalam hati nurani, rajin evaluasi diri. Sok komentarin orang? Kerjaan sendiri aja orat-aritan. Luruskan niat, kerja disini buat siapa? Kalo semua karena Allah, insyaallah nggak ada tuh yang namanya rasa kecewa. Sabar dan syukur juga karena Allah. Ingat, hanya dengan mengingat Allah lah hati bisa tenang. Banyakin tilawahnya, khusyukin sholatnya, dan banyakin doanya. Jangan anggap diri sendiri itu baik, masih banyak kok yang lebih baik. Merasa banyak salah ? Ingat lagi niatnya, evaluasi diri. Orang mengkritik itu tanda sayang, orang kasih saran itu tanda perhatian, orang menyindir pedas itu tanda banyak memberi harapan. Ingat, jangan kecewakan kepercayaan. Yuk evaluasi, perbaiki diri sendiri dulu. Banyakin istighfar dan minta dimudahkan. Allah maha segalanya kok, nggak ada yang nggak bisa dilakukan sama Allah. Kalo udah tau salah, nggak usah mengeluh, lakukan perbaikan dan lakukan yang terbaik. Nggak usah minta dinilai orang, puas aja sama penilaian allah. Allah paling tau yang terjadi dan paling tau yang terbaik. Sedih, kecewa itu biasa. Sadar diri, kalo salah itu bukan untuk ditangisi, tapi segera diperbaiki. Tidak sempat bukan karena sibuk atau padatnya urusan, tapi lebih karena tidak menyempatkan, tidak memprioritaskan, tidak menganggap penting urusan. Urusan sekecil apapun, kalo tidak dilakukan, sadarkah telah mengecewakan orang lain? Mau diri ini dianggap sepele juga ? Ketika masih ada kesempatan bernafas, itu tanda Allah masih sayang dan memberi kesempatan perbaikan. Berdoalah agar lisan selalu terjaga dan akhlaq senantiasa terpelihara. Bukan waktunya lagi mempertanyakan pantas atau tidak pantas, kalau amanah menghampiri, berarti Allah sudah percaya sama kita. Pantaskah kita tidak percaya sama Allah yang memberi amanah ? Tinggal bagaimana memantaskan dan melakukan semampu dan seterbaik yang kita bisa. Semangat perbaikan karena Allah.

9 November 2015, @rumaisha1, 9 :31 PM

#Semester 5- Semester Hijrahku

Di semester 5 aku mulai berubah, mulai menyadari suatu tanggungjawab, mulai merasa malu akan kesalahan-kesalahan. Banyak faktor yang membuatku mulai berfikir dan akhirnya memutuskan untuk mulai berubah, terutama mengubah kebiasaan-kebiasaan dulu. Dari semua faktor, menurutku faktor terbesar adalah keberadaan adik-adik di wisma yang kritis-kritis, yang lebih baik dari aku, yang banyak cerita ini itu ataupun mengeluhkan sesuatu yang bahkan sebelumnya tak pernah terfikirkan olehku. Memang belajar tak perlu dengan orang yang lebih dewasa atau yang lebih pintar dari kita, karena sesungguhnya setiap orang pun bisa memberikan pelajaran berharga buat kita. Apabila dikerucutkan lagi, faktor terbesar dari keberadaan adik-adik di wisma yaitu faktor malu. Ya, malu. Malu ketika mereka lebih baik dariku dari segi banyak hal, malu ketika mereka lebih rajin membersikan kamar, malu ketika mereka bangun lebih pagi dariku dan lebih dahulu membangunkanku, malu ketika mereka berwudhu di sepertiga malam dan mendirikan tahajud, malu ketika mereka menjumpaiku tidur sehabis subuh, malu ketika mereka rajin puasa senin-kamis, malu ketika berangkat kuliah telat sedang mereka dengan semangatnya berangkat lebih pagi, malu ketika mereka lebih rajin datang kajian, malu ketika pengetahuanku belum seberapa dibanding mereka, malu ketika diri ini mengeluh sedangkan keadaan mereka tidak lebih baik dariku, malu ketika mereka lebih baik dan lebih rajin dalam membaca Al-Qur’an, malu ketika hafalannya jauh lebih banyak, malu ketika mereka dengan semangatnya berusaha berubah menjadi lebih baik, malu ketika mereka meminta nasehat ini itu tapi sebenarnya diri ini pun belum mampu, malu ketika belum bisa menjadi teladan yang baik buat mereka, malu ketika mereka lebih peka dariku, malu ketika dikritik dan dikomen ini itu, malu ketika banyak laporan dan keluhan datang kepadaku, malu ketika mereka yang mengingatkan dan menasehati tentang tanggungjawabku. Oh Allah, terimakasih atas segala nikmatmu, terimakasih atas segala takdir pertemuan ini, terimakasih telah diberi tempat belajar terbaik di Semarang ini.

Di semester 5 baru menyadari adanya tanggungjawab yang besar, baik di kampus maupun di wisma. Tanggungjawab untuk turut membangun peradaban Islam dengan rajin mengadakan mentoring. Tanggungjawab mensyi’arkan nilai-nilai Islam di lingkungan kampus ataupun di organisasi kampus. Tanggungjawab pembinaan di dalam wisma. Tanggungjawab terhadap saudara-saudara seiman, karena sudara-mu, amanah-mu.

Di semester 5 ini banyak orang yang menyadarkanku akan kesalahan-kesalahanku dan berusaha membuatku lebih baik. Terimakasih buat semua kritikannya, nasehat-nasehatnya, makasih sudah banyak mengingatkan, makasih udah marahin aku, makasih udah nge-jleb in aku, makasih udah nyindir-nyindir aku, makasih udah banyak memberi pelajaraan berharga dengan berbagai kisahnya, tapi aku tahu bahwa semua itu dilakukan untuk membuatku lebih baik lagi. Makasih buat semua ilmu yang kalian berikan dengan mewarnai hidupku di semester 5 ini, karena setiap jejak langkah, setiap detik waktu adalah pelajaran bagi orang yang mau mengambil pelajaran dan hikmah.

Di semester 5 aku telah melewati satu bagian dari kewajiban kuliah yang bernama KP alias kerja praktek. Berasa mengingat segala memori tentang KP yang sebenernya pengen aku lupakan. Memang setiap orang memiliki kisahnya masing-masing, memiliki perjuangannya masing-masing, maka dari itu hargailah setiap perbedaan yang ada, karena kalian memang berbeda. Pengalaman hiduplah yang memberikan persepsi berbeda pada setiap orang. Hargailah perbedaaan, dan jika terdapat kesalahan, maka nasehatilah dengan cara yang baik agar tidak menyakiti hatinya, dan aku pun masih belajar dalam hal ini. Cerita tentang KP itu perjuangan banget, kerasa banget ketika dibenturkan tuntutan KP harus cepat selesai dengan agenda-agenda penting yang juga tak bisa ditinggalkan begitu saja. Alhasil harus izin sana sini dan terkadang pun kabur-kaburan. Maafkaan L. Harus bisa pinter-pinter mencuri waktu di sela-sela kesibukan kuliah dan organisasi, belum lagi bukan hanya waktuku, tapi waktu teman-teman juga, karena aku ngga bisa kerja KP tanpa bantuan teman. KP itu perjuangan di wisma sendirian dan ngga pulang waktu minggu tenang. Merasakan sedihnya ketika dosen sendiri yang meragukanku dan bertanya, kira-kira selesai nggak ya KP-mu? Masih kurang ini kurang itu lho. Pengen nangis aja, tapi aku harus meyakinkan diriku bahwa KP harus selesai semester ini juga, apapun yang terjadi. Tapi, terimakasih buat dosen yang udah membimbing dan banyak ngingetinnya, dan semua itu dilakukan buat nyemangatin aku biar cepet selese. Terimakasih buat Tati dan Anggi yang udah mau diajak capek-capek ria dan panas-panasan nyari lichen. Hoho.. terimakasih buat semangatnya dan segala macam bantuannya. Makasih juga buat Tasya dan Vera yang sering ngingetin aku dan nyuruh-nyuruh aku buat ngerjain laporan KP. Makasih buat Tasya yang udah nemenin waktu-waktu krusial itu, waktu lembur-lembur ngga tidur sampe tengah malem kaya orang frustasi buat ngerjain revisi, udah ngehibur cerita sana-sini tapi ngga digubris, maafkaan, dan makasih udah puas ngetawain aku. But, semua itu akhirnya berlalu. It’s over. Alhamdulillah ya Allah J.

9:00 AM, 31 Januari 2016, @kamarhanin#Solo

Antara Amanah dan Pulang Kampung

Kemarin (rabu, 10 sept 14) ada acara temu wisma fsm undip tahun 2014 di wisma cordoba, acara pertama adalah wejangan-wejangan dari mbak nela selaku presiden wisma fsm yang seperti biasa, yakni selalu luar biasa. Mbak nela adalah salah satu orang yang aku kagumi di undip karena kejujurannya, keblak-blakannya dan ke mak jlebnya.

Pembicara yang dihadirkan yaitu bu Dini Inayati, yang memberikan tausiyah dan nasehat luar biasa. Salah satu yang disampaikan yakni tentang pulang kampung, yang sempat membuatku tersindir karena aku pun sering pulang di semester 2 kemaren.  Menurut bu dini, pulang kampung dengan alasan berbakti kepada orangtua memiliki perbedaan tipis dengan berjuang untuk dakwah di kota rantau ini. Tidak ada yang salah dengan pulang kampung, namun juga jangan sampai lantas mengorbankan misi dakwah yang besar. Semua orang pastilah ingin pulang, ingin bisa bertemu orangtua, ingin bisa berbakti kepada orangtua. Tapi juga harus ingat amanah yang ada. Jika memang waktunya pulang maka silahkan pulang dengan waktu yang benar-benar dimanfaatkan dengan berbakti pada orangtua. Diharapkan waktu di rumah yang singkat dapat dimanfaatkan secara efektif untuk membantu orangtua, membahagiakan orangtua, dan banyak berdiskusi dengan orangtua dalam rangka menjalin komunikasi serta menjelaskan tentang keislaman kita.

Dengan kita bersedia tinggal di wisma yang insyaallah dapat mempererat ukhuwah, maka kita pun harus bersedia untuk saling berbagi dan saling peduli satu sama lain. Di wisma yang sudah terbiasa tinggal bersama dan saling berbagi meski mereka bukan siapa-siapa, tak ada ikatan saudara, namun bisa saling menyayangi karena disaudarakan oleh iman, maka seharusnya ketika pulang ke rumah, kita dapat menjadi lebih baik kepada adik atau saudara-saudara di rumah. Intinya, harus rukun sama adik di rumah karena sudah terbiasa rukun di wisma. Diharapkan kebiasaan-kebiasaan yang sudah baik di wisma dapat juga dilakukan di rumah.

September ‎11, ‎2014, ‏‎5:38:15 PM

 

Menjadi Baik

Jangan pernah merasa lebih sholeh dari orang lain. Ingat, menjadi sholeh sendiri itu ngga cukup, beribadah sendiri itu ngga cukup, di akherat nanti, orang-orang yang kita dholimi akan mengadu kepada Allah, pahala-pahala kita akan diambil, dan apabila pahala ibadah dan kebaikan kita telah habis, maka dosa orang yang kita dholimi akan ditimpakan kepada kita. Naudzubillah. Maka ajak orang sebanyak-banyaknya untuk berbuat kebaikan dan bisa merasakan manisnya iman.

Hidayah itu mahal, bagai berlian. Hidayah islam adalah hal yang paling disyukuri.

Kalau Allah cinta sama kita, pasti akan Allah uji untuk meningkatkan kapasitas diri dan pembuktian sejauh mana kecintaan kita kepada Allah.

Kita bisa terlihat baik di hadapan teman-teman, bukanlah karena kita memang baik, tapi karena Allah cinta, maka Allah menutupi aib-aib kita. Apabila ditampakkan aib dan dosa kita, niscaya tidak akan ada orang yang mau berdekatan dengan kita.

Kalau hubungan kita dengan Allah itu baik, insyaallah hubungan kita dengan manusia pun akan baik. Yuk, cek lagi iman kita.

Kamu bahagia bukan karena umi, bukan karena abi, tapi karena Allah yang membuat kita bahagia.

Notulensi Kajian:  Pipik Dian Irawati

@masjid kalitan solo, 23 Januari 2016

Berdo’a di Waktu-waktu Utama

Do’a itu ibadah yang luar biasa, amalan paling mulia. Doa itu tidak pernah rugi bagi kita, karena pasti akan dikabulkan atau ditunda sampai pantas atau diganti dengan yang lebih baik, maka berdoalah kepada Allah. Ketika berdoa, harus menjaga kesucian. Karena Allah sesuai prasangka hambaNya, maka berdoalah dengan keyakinan bahwa Allah akan mengabulkan. Berdoalah yang baik-baik dan detail.

Berikut waktu-waktu terbaik untuk berdoa:

  1. Sepertiga malam terakhir

Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar (QS. Adz-dzariyat: 18).

  1. Ketika berbuka puasa
  2. Ketika adzan berkumandang hingga iqomah
  3. Di akhir sholat wajib, sebelum salam
  4. Ketika hari jumat
  5. Ketika turun hujan
  6. Ketika hari arofah
  7. Setelah minum air zam-zam
  8. Ketika terbangun di waktu malam
  9. Saat ajal tiba
  10. Ketika mendengar ayam berkokok
  11. Berdoa untuk saudaranya ketika ia tidak di hadapannya. Malaikat ada di samping kita dan akan mengamini pula untuk kita.
  12. Ketika didzolimi
  13. Musafir
  14. Ketika dalam kesulitan dan kesusahan

Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi?  (QS. An-Naml: 62)

Notulensi Wisata Ruhani @maskam undip, 10 November 2015, Pembicara: Ustadz Wawan

22 July 2016, 04:23 PM @kartasura

 

 

Bersyukur Amanah Dakwah

Mungkin tempat kita sekarang bukanlah tempat yang diharapkan. Ingatlah, kita di dunia ini bukan mencari nyaman atau mencari teman, tapi mencari ladang amal. Di manapun Allah tempatkan, itulah tempat terbaik bagi kita. Isilah pos yang ada, maka jika ada pos yang kosong, berlarilah untuk menjemputnya. Itulah ladang amal terbaik yang Allah sediakan bagi kita. Mungkin dengan pengorbanan dan keikhlasan menerima amanah, itu akan menjadi nilai tersendiri di hadapan Allah.

Ingatlah, kalau kita sudah tau tujuan, yang perlu kita lakukan bukan berhasil, tapi berjuang. Sesungguhnya kita berjuang untuk diri sendiri, untuk bekal akherat. Namun, jangan bangga menjadi baik sendiri, amar ma’ruf nahi mungkar, ajaklah kawan-kawan kita masuk surga bersama-sama.

Sesungguhnya bukan dakwah yang membutuhkan kita, kalaupun mau keluar dari barisan pun, keluar saja! Sesungguhnya tak ada yang membutuhkan kita, bahkan Allah akan mengganti dengan orang-orang yang lebih baik sebagai tentara Allah di bumi.

Yang kita lakukan bukan mementingkan golongan atau tidak adil terhadap yang lain, tapi berusaha menyebarkan nilai-nilai Islam dengan posisi-posisi terbaik untuk menjemput peluang amal yang lebih baik.

pas uas biokon, 13 januari 2016

UKHUWAH

Berkata Musa: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah kekuatanku dengan adanya dia, dan jadikanlah dia teman dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada-Mu, dan banyak mengingat-Mu. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami”. (QS. Thaha 25-35)

Ciri-ciri saudara seiman:

  1. Menjadi patner dalam setiap tugas berat
  2. Saling meneguhkan kekuatan dan kedudukan, saudara seiman itu saling menguatkan.
  3. Menjadi teman dalam setiap urusan
  4. Mendekatkan diri kepada Allah dan mengingatkan akan kematian, bukanlah saudara seiman apabila menjauhkan kita dari Allah. Saudara seiman itu tidak datang tiba-tiba, maka kita harus minta sama Allah.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. (QS. Al-Mumtahanah: 1)

Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Kita harus memilih teman, tapi harus berbuat baik dan adil kepada semua orang. Yang harus kita sadari, di manapun kita berada pasti akan ada pertarungan haq dan bathil, maka kita harus pandai memposisikan diri.

Tahapan ukhuwah:

  1. Ta’aruf/ mengenal, kenal adalah mengetahui informasi penting yang harus diketahui.
  2. Tafahum/ memahami, mengetahui sifatnya, karakteristik, kebiasaan dan keburukannya.
  3. Ta’awun/ tolong menolong, tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa. Langsung menolong apabila dimintai pertolongan.
  4. Takaful, sudah dalam ikatan ukhuwahnya, sudah saling mengerti, tahu apabila saudaranya dalam kondisi kesulitan, tanpa diminta pun sudah datang untuk menolong dengan sukarela.

Teamwork ada dalam persahabatan, lembaga yang ukhuwahnya bagus, kinerjanya juga akan bagus.

Saat tersakiti, maka hati kita akan cenderung resisten atau berhati-hati. Namun, apabila hati kita bersih, maka akan mengedepankan hati nurani daripada ingatan tentang keburukan orang lain.

Allah bukan menyuruh kita untuk minta maaf, tapi memaafkan, karena memaafkan memang jauh lebih sulit.

Notulensi Up Grading Fostibi, Pembicara: Reza Auliarahman, 8 Juni 2014 @hutan penggaron

22 July 2016, 03:56 PM @kartasura

MADRASAH KAMMI 1: Fiqih Dakwah

KAMMI MIPA Undip mengadakan kegiatan rutin Madrasah KAMMI 1 di Taman Rumah Kita FSM Undip. MK1 KAMMI MIPA Undip (29 Mei 2015) di isi oleh Ustadz Adi Darmawan, beliau adalah salah satu dosen di FSM Undip. Madrasah KAMMI 1 MIPA berlangsung khidmat dan penuh antusias. Berikut adalah ulasan materi yang disampaikan ustad Adi Darmawan.
Lingkup fiqih dakwah terlalu luas, maka dikerucutkan dahulu menjadi marhalatul dakwah. Produk utama dakwah kita yaitu menghasilkan kader. Dakwah KAMMI bukanlah dakwah tabligh yang hanya menyampaikan saja tanpa adanya ikatan. Dakwah kami adalah dakwah tarbiyah, ibarat sekolah pasti ada kurikulum, ada proses belajar, ada evaluasi dan ada peningkatan kelas. Hingga ujung yang diharapkan  yaitu menjadi orang sholeh dan muslih, yaitu orang yang membawa perbaikan.

Ada 3 fase dakwah, yaitu marhalah tabliyah atau penyampaian, marhalah taqwin atau pembentukan dan marhalah tanfiz atau pelaksanaan. Marhalah Tabliyah adalah Jahala ala ma’rifah, yaitu penyampaian dan pengenalan dari tidak tahu menjadi tahu. Mengenalkan dan mengajarkan ilmu Islam kepada semua orang, kepada orang ammah maupun penentang sekalipun. Selanjutnya adalah mengajarkan ayat Al-quran dan Hadist untuk mendapat hikmah, serta mengenalkan keindahan dan kemuliaan Islam. Jika dilihat dari level mahasiswa, objek dakwah kita sangat luas, masih banyak mahasiswa yang sholatnya saja bolong-bolong atau subuhnya masih sering telat.

Setelah jahala ala ma’rifah, selanjutnya adalah ma’rifah ala fikroh. Setelah mengetahui ilmu tentang Islam, maka bagaimana selanjutnya Islam dapat menjadi fikroh atau cara pandang yang memberikan warna pada dirinya. Setiap orang pasti punya fikroh. Maka tugas kita yaitu mendidik seseorang hingga fikrohnya menjadi Islam. Bagaimana Islam dapat mewarnai hati, pemikiran, perasaan dan perilaku seseorang.  Hingga saatnya nanti Islam kita akan diuji, apakah Islam sudah menjadi fikroh atau masih sebatas pemikiran dan hanya sebagai aktualisasi diri. Ibaratnya, orang yang sudah lama berkecimpung dalam dakwah hingga menjadi ketua rohis sekalipun, namun karena himpitan ekonomi, setelah lulus kuliah ia malah bekerja sebagai karyawan pada bank konvensional yang notabene masih terdapat riba. Atau setelah berkecimpung di rohis dan lulus kuliah, kemudian menikah, istrinya tidak mengenakan jilbab. Maka dengan terjadinya hal-hal seperti ini, Islam belumlah menjadi fikroh, namun masih sebatas pengetahuan dan aktualisasi diri saja.

Marhalah Taqwin adalah fikroh ilal harokah, yaitu fase pembentukan seorang kader.  Fase pembentukan perlu dilakukan karena setiap ilmu diberikan secara bertahap, dan kemampuan seseorang dalam menanggung beban pun berbeda-beda. Ada orang yang lebih siap menanggung beban daripada orang lain. Di sinilah terjadi proses seleksi dan akan dipilih siapa yang lebih siap. Seharusnya, kader tarbiyah lebih siap menanggung beban daripada yang lain, hal ini karena kader telah mengikuti perjalanan yang panjang. Beban akan meningkat seiring dengan pengalaman. Fase pembentukan ini bertujuan untuk menyiapkan orang-orang yang siap menanggung beban dan amanah. Dalam hal ini, liqo atau halaqoh berperan dalam proses tarbiyah atau pembinaan, penjagaan dan juga untuk mengukur tingkat kesiapan seseorang dalam menanggung beban. Contoh fase pembentukan yaitu ketika acara GOM (Grand Opening Mentoring) banyak yang menghadiri, namun hanya beberapa persennya saja yang masih istiqomah dalam melanjutkan mentoring hingga liqo. Nah, di sinilah terjadi seleksi dan akan terlihat orang-orang yang istiqomah dan lebih siap menanggung beban.

Ketika haji wada’ Rasulullah saw yang dihadiri oleh seratus ribu sahabat rasul, berapa orang yang antum hafal namanya? Berapa gelintir orang yang selanjutnya banyak dikenal di kemudian hari? Kalaupun saat ini kita diminta menyebutkan 20 sahabat rasul, sanggupkah? Nah, segelintir orang yang kita hafal itulah kader-kader dakwah. Kader dakwah tidak perlu banyak, tapi mampu menjadi penggerak dan mampu memberikan warna di lingkungan sekitarnya.

Marhalah Tanfiz adalah fase pelaksanaan. Harapannya sudah tak perlu lagi disuruh untuk bergerak, sudah tanggap dan dapat memberikan ide-ide baru nan solutif serta rela berkorban, karena kita ditarbiyah dengan kepahaman dan kesadaran. Siapkah kita berkorban harta bahkan jiwa untuk kepentingan dakwah? Apalagi ketika dihadapkan dengan berbagai kepentingan pribadi. Siapkah kita jika diminta membuka ladang dakwah di Papua misalnya, bahkan tanpa kepastian pekerjaan? Hanya orang-orang yang memiliki bekal keyakinan kuat kepada Allah lah yang mampu melewatinya. Marilah kita berfikir dan mengambil pelajaran dari para sahabat Rasul yang dengan mudahnya digerakkan untuk hijrah. Hijrah dari kenyamanan menuju tanah baru yang penuh ketidakpastian. Atau belajar dari ketaatan Hudzaifah ketika diutus oleh Rasulullah saw untuk pergi ke markas musuh, ibaratnya Hudzaifah telah rela menyerahkan nyawanya ke kandang musuh demi kepentingan strategi perang umat Islam. Atau belajar dari kesigapan kader Ikhwanul Muslimin di Mesir ketika digerakkan untuk menyerang Israel pada tahun 1948. Siapkah kita menjadi kader dakwah terdepan? Siapkah menjadi kader dakwah yang rela memberikan segala potensi yang kita miliki?

Rangkuman sesi tanya jawab :

  1. Objek dakwah yang dibentuk adalah orang-orang yang hanif atau lurus. Sedangkan, yang harus dihindari adalah orang yang oportunis, yaitu orang yang tidak berani mengambil resiko, tidak  berani bersikap dan hanya mau di zona amannya saja. Kalau kiranya menguntungkan dia ikut dan jikalau merugikan dia tidak ikut. Tapi pada akhirnya, semua orang berpotensi untuk dibina atau tarbiyah. Bahkan seorang penentang Islam pun bisa berubah seratus delapan puluh derajat menjadi pembela Islam, contohnya Umar bin Khotob.

    2. Bagaimana jika ingin menyebarkan dakwah sedangkan dirinya sendiri masih maksiat? Seseorang tidak bisa mencuci dengan air kotor. Segala sesuatu harus dimulai dari dirinya sendiri terlebih dahulu. Bagaimana mau mengajak orang lain solat  sedang diri sendiri saja jarang solat.

    3. Bagaimana mengimplementasikan dakwah Rasulullah saw dengan dakwah masa kini? Dengan segala perubahan yang terjadi, dakwah tidak harus sama persis dengan zaman Rasul, namun berusaha mendekati.  Dakwah itu yang penting adalah prinsip yang harus dipegang. Jadi, implementasikan prinsip-prinsip dakwah Rasul, yaitu dakwah yang rabbani, dakwah yang mengedepankan Islam sebelum kelompok, dan dakwah Islam yang syumul bukan parsial.

Oleh: Husna Mafaza

Kestari KAMMI MIPA Undip 2015

8 September 2016