TEKAD Perjuangan KAMMI

13321762_469727746554794_2136013615188488793_n

Tentang lagu “tekad” dari izzatul islam, mengingatkanku akan kenangan saat mengikuti DM 2 atau Dauroh Marhalah 2 KAMMI Semarang 2016. Terutama ketika selesai dilantik menjadi Anggota Biasa 2 atau AB 2 KAMMI, lagu ‘tekad’ menggaung di ruang aula Balai Transmigrasi Semarang. Ingat sambutan dari mbak-mbak, mas-mas, dan kawan-kawan yang telah terlebih dahulu menjadi AB 2 KAMMI Semarang, sambutan yang begitu hangat, sambutan kebahagiaan dan penuh haru, sambutan mbak-mbak kepada adiknya dan ucapan selamat, barakallah. Selamat telah menjadi penerus dakwah di kampus masing-masing, di fakultas masing-masing, di lingkungan masing-masing. DM 2 ini berlangsung selama 5 hari 4 malam dan menyentuh hari aktif kuliah. Kita sama-sama kuliah, sama-sama tahu kesibukan masing-masing, bahkan mbak-mbak dan mas-mas jauh lebih banyak urusannya dibandingkan kita, tapi mereka rela mengorbankan waktu, tenaga, uang, pikiran untuk melangsungkan salah satu agenda pengkaderan, yakni DM 2. Kalo kata mbak Marwah, “kaderisasi itu harga mati dalam organisasi”. Tetesan air mata haru dan kagum kepada panitia dan teman-teman tak bisa disembunyikan. Acara ditutup dengan saling berpelukan satu sama lain, saling mengingatkan kewajiban yang harus dilakukan selepas keluar dari ruangan itu, saling menyemangati, saling menguatkan bahwa kita ini adalah saudara. Tidak ada ikatan yang lebih kuat dari ikatan aqidah, kita adalah saudara dalam iman, saudara seperjuangan yang memilliki tujuan yang sama, yakni menegakkan agama Allah.

“Kami sadari jalan ini kan penuh onak dan duri

Aral menghadang dan kedzaliman yang akan kami hadapi

Kami relakan jua serahkan dengan tekad di hati

Jasad ini, darah ini, sepenuh ridho Ilahi“ -tekad-

Jelas tak akan ada yang sanggup bertahan di jalan dakwah yang menyita banyak hal dari diri ini, jika bukan karena iman yang kuat, maka mereka akan berguguran di tengah jalan. Kunci dari semuanya adalah keikhlasan, mengharap ridho dari Allah, mengharap imbalan dari Allah, berkorban hanya karena Allah. Tak ada imbalan, tak ada kenyamanan, yang ada adalah rasa bersyukur masih diizinkan berada di dalam barisan dakwah, rasa was-was apakah niat ini telah lurus, rasa takut apakah Allah menerima amalan ini, dan rasa persaudaraan yang didasari iman, saling percaya satu sama lain. Bukannya tak ada gesekan dalam perjalanan dakwah, tapi buat apa saling bermusuhan, bila kembalinya pun di barisan juang yang sama. Bukan jalan dakwahnya yang salah, tapi diri inilah yang sedang bermasalah. Cek kembali iman kita, cek kembali amal yaumi kita, cek kembali pintu maaf dan pintu lapang dada untuk saudara seiman.

“Ya Allah, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, hilangkan kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pendukung dari keluargaku, yaitu Harun saudaraku, teguhkanlah kekuatanku dengan adanya dia, dan jadikan dia teman dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada-Mu.” (QS.Thaha 25-33).

Mungkin kurangnya kita dalam meminta, meminta kebaikan dari yang Maha Baik. Kurangnya doa untuk diberikan kelapangan dada terhadap segala cobaan, untuk diberikan kemudahan di setiap urusan dan yang tidak kalah penting, berdoa untuk dikaruniai saudara seiman. Nabi Musa saja meminta saudara yang bisa meneguhkan kekuatannya, saudara yang bisa diajak berjuang untuk dakwah, saudara yang bisa menasehati dan menegur ketika berbelok ke jalan yang salah, saudara yang bisa mengajak untuk senantiasa beribadah dan memuji-Nya.

Untuk saudara-saudaraku seiman di seluruh pelosok negeri yang masih istiqomah berada di barisan dakwah, kita sama-sama tahu bahwa Allah tak akan menyia-nyiakan sekecil apapun pengorbanan yang dilakukan untuk menegakkan agama-Nya. “Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS.Muhammad: 7) Tetap semangat beruhul istijabah, semoga kita senantiasa dikaruniai hidayah dan keistiqomahan hingga husnul khotimah. Aamiin..

Selalu kagum kepada mereka yang tidak berhenti pada urusan diri sendiri. Selalu kagum kepada mereka yang menyempatkan waktu untuk berbagi segala hal melalui tulisan. Komitmen bukan terletak pada kata ‘sempat’, komitmen adalah tentang ‘menyempatkan’ pada suatu hal yang dianggapnya penting.

Semangat bertebaran di muka bumi 🙂

7 September 2016, 21:56 WIB @Kartasura

ESTINOV; Refleksi dari Buku yang Mengingatkanku Tentang Hakikat Kehidupan

11043282_815138085242297_3391763966139112249_n

Harus kukatakan, aku tak bisa menjawab spontan, karena aku lebih nyaman menjelaskan melalui tulisan. Harus kukatakan pula, aku bukan orang yang bisa berfikir cepat, apalagi mengkonsep dalam waktu singkat. Aku banyak pertimbangan, banyak pemikiran, banyak hal berkaitan yang membutuhkan analisa yang panjang. Seorang pemikir yang ingin memberikan kebermanfaatan dengan caranya.

Mengenai buku itu, buku yang berhasil membuatku terpaut sejak membaca judul dan pendapat singkat di cover belakang. Buku yang membuatku terpaku merenungkan apa hakikat kehidupan. Buku yang membuat air mataku tiba-tiba menetes ketika merasa dekat dengan mereka, merasa mengenal, membayangkan begitu indahnya ukhuwah itu, betapa besar pengorbanan mereka, ah terharu.

Kesan terhadap kisah nyata yang menceritakan tentang 2 orang luar biasa, mahasiswi kedokteran Undip yang meninggal ketika perjalanan pulang dari acara pelatihan yang diadakan FULDFK (Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Kampus Fakultas Kedokteran) di Purwokerto. 2 akhwat yang mengajarkan banyak hal kepada kita yang masih hidup, jejak-jejak kebaikan yang dapat kita ambil pelajaran. Jejak semangatnya, jejak keimanannya, amalannya, pribadi baiknya, cita-citanya, hingga goresan pena yang ia tuangkan di dalam blog pribadinya. Kesan baik akan selalu dikenang, kebaikan akan terus menular dan menjalar, hati yang terpaut karena iman akan selalu mendoakan, amalannya akan selalu didengungkan, hingga jejak-jejak itu akan senantiasa dikenang oleh orang-orang yang mengenalnya, yang telah hidup bersamanya, maupun generasi sesudahnya yang masih akan terus melanjutkan perjuangannya. Kagum. Minder. Dan harus banyak belajar memang.

Bagaimana kita hidup menentukan bagaimana kita mati. Dapat kurasakan betapa berartinya keberadaan mereka, betapa banyaknya kebaikan yang telah ditularkan, semua itu dapat terlihat jelas dari penuturan para sahabat, orang yang pernah berinteraksi dengannya, bahkan orang-orang yang baru saja mengenalnya. Dapat dibayangkan apa yang telah mereka lakukan sehingga doa dan ucapan bela sungkawa mengalir begitu derasnya, hingga teman-teman kuliah, teman-teman seperjuangan, para dosen, dekan hingga rektor pun ikut bertakziah untuk memberi penghormatan terakhir kepada almarhumah. Betapa kehilangannya mereka, namun keikhlasan segera menjadi tameng atas kesedihan yang mungkin akan berlarut-larut. Kesadaran bahwa bersaudara karena iman akan mempertemukan mereka di surganya kelak, bahwa raga yang telah tiada bukan berarti jiwa mereka mati, mereka akan tetap hidup di dalam hati setiap jiwa yang telah tersirami oleh inspirasi kebaikan yang ditebar olehnya, bahwa bibit-bibit itu akan terus berkembang dan menghasilkan buahnya. Bahwa Allah telah menjanjikan surga bagi mereka yang saling mencintai karena-Nya, hingga Rasul dan para sahabat pun dibuat cemburu karenanya.

Di usia yang masih belia, mahasiswi semester 3, telah begitu banyak yang mereka lakukan, menjadi relawan di banyak bencana alam, menjadi sahabat yang menyenangkan bagi banyak orang, menjadi kakak dan adik yang baik, menjadi orang yang mengorbankan waktu, harta dan tenaganya untuk umat, hanya inginkan kebaikan bagi orang lain, bahkan lebih mementingkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Betapa kerdilnya aku, betapa tak ada apa-apanya, betapa masih minim pengetahuan dan amal, betapa sakitnya hati yang masih banyak ingin dipuja sana-sini, astaghfirullah, luruskan ya Allah.

Betapa dekatnya kematian itu, kematian adalah nasehat terbesar yang Allah peringatkan kepada kita. Tak bisa ditawar-tawar lagi apabila detak waktu itu telah habis. Ya, kematian. Hal yang sedikit diingat oleh kebanyakan kita, atau bahkan berusaha untuk dilupakan. Bekal apa yang telah kupersiapkan ya Allah? Apa yang akan menjadi argumen ketika Allah langsung yang akan bertanya? Kebaikan apa yang telah kusebar dan kutanam? Bentuk pengorbanan seperti apa yang sudah kukorbankan? Cahaya apa yang telah kupancarkan untuk orang-orang di sekitar? Ingin menangis karena jawabannya adalah belum ada ya Allah. Padahal kita tak tahu tinggal berapa jam lagi jatah kita, bahkan menit, bahkan detik. Waktu itu misteri tapi kematian itu pasti. Apa lagi yang ditunggu? Kereta itu akan segera tiba di pemberhentian terakhir, dan kematian demi kematian adalah alarm peringatan akan sampainya kereta ke stasiun berikutnya, tak lama lagi. Kematian itu misteri, dan misteri adalah sebentuk karunia yang Allah berikan agar kita senantiasa berbenah. Tak diragukan lagi, orang mukmin bukanlah mereka yang menginginkan kematian, karena masih terus ingin menebar kebaikan, menyelesaikan tugas dakwah yang tak akan pernah usai, namun mereka adalah orang-orang yang merindukan kematian, rindu untuk segera bertemu dengan kekasihnya di surga, yakni Allah ta’ala. Begitulah Allah menggariskan, maka bersiap-siaplah. Siaplah untuk dicabut nyawamu setiap waktu.

Ya Allah, aku ingin mati dalam khusnul khotimah. Aku ingin dapat mencintai dan dapat bersama mereka yang mencintai-Mu dan Engkau cintai, di dunia maupun di akherat. Meski aku masih jauh dari kebaikan dan tingkat keimanan mereka, tapi kumpulkanlah aku bersama mereka karena aku mencintainya, karena di akherat akan Allah kumpulkan dengan siapa yang dicintai hamba-Nya ketika di dunia. Tunjukilah kami jalan yang lurus dan ingatkanlah kami ketika lalai. Mudahkan kami dalam sakaratul maut, jauhkan kami dari siksa kubur dan api neraka, masukkanlah kami ke dalam surga-Mu… Cintailah yang pantas engkau cintai kawan, bersama siapakah kau ingin dipersatukan  di akherat kelak ?

Buatlah bidadari surga cemburu padamu. Orang dilihat dari akhlaqnya. Akhlaq adalah kebiasaan yang muncul secara spontan, akhlaq adalah segala yang tampak dari perbuatan dan perkataan seseorang. Akhlaq adalah pancaran jiwa. Akhlaq adalah buah dari keimanan. Fastabiqul khoirot, berlomba-lomba dalam kebaikan. Ingin diri ini bisa berguna, bisa memberikan banyak kebermanfaatan. Apa yang kulalui akhir-akhir ini memberikan peringatan bahwa beginilah kondisi umat saat ini, inilah gambaran kecil dari besarnya tugas yang menanti untuk diselesaikan. Allah, kuatkan aku beserta kawan-kawan seperjuangan untuk dapat melewati ujian dan tugas dakwah yang menanti. Mudahkan dan tuntun kami untuk bisa memberikan perbaikan sedikit demi sedikit, jadikanlah kami sebagai pembuka hidayah bagi mereka. Bukan hasil akhir yang Allah nilai, karena Allah pun sudah pasti tahu hasilnya, tapi proses kita dalam menebar kebermanfaatan dan kebaikan kepada orang lain lah yang Allah lihat. Ingat, kematian sudah dekat. Kalau kata teman dari keperawatan, di ICU itu kematian berasa sudah melayang-layang di dekat kita, sudah mengelilingi di sekitar kita, tinggal menunggu waktu mencabutnya saja, karena hampir setiap hari ada yang meninggal tanpa kenal usia. Bantu aku untuk mempersiapkan saat-saat itu ya Allah, bantu keluargaku, saudara-saudaraku, dan teman-temanku dalam menghadapinya pula, mudahkan kami ya Allah. Mudahkan kami..

9 Februari 2017, 12:12 AM dini hari @Bandarjo

Saudara Terbaik; Saudara Aja Tanpa Butuh Penjelasan Apa-apa

indahnya-ukhuwah

Aku senang mendapatkan saudara-saudara seiman, saudara-saudara yang bersedia bekerja bersama, saudara yang dengan iman dipersaudarakan, dalam ketaatan dipertemukan, saudara yang saling memahami meski tanpa penjelasan, saudara yang ikhlas memberi meski tidak diminta, memberi dengan harapan kebahagiaan saudaranya adalah kebahagiaannya juga, sungguh, aku menyayangi kalian karena Allah, hanya ingin kebaikan terlimpahkan kepada kalian, ingin keberkahan dicurahkan kepada kalian beserta keluarga kalian. Aku sayang kalian karena kalian yang telah menunjukkan banyak kebaikan, kebaikan yang sangat merubah hidupku, kebaikan yang menuntunku untuk semakin dekat kepada Allah. kalian yang senantiasa mengingatkan, menasehati bahkan menegurku karena kalian sangat-sangat menginginkan kebaikan untukku. Aku sungguh tak tahu bagaimana bisa membalas kebaikan kalian, hanya ingin dan terus berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, hanya ingin dapat membantu kalian sebisa yang kulakukan, hanya bisa mengirim doa-doa di sela-sela kerinduan itu. Aku sangat senang jika kalian bersedia mendoakan setiap keperluan yang akan kulalukan, dan akan lebih senang lagi ketika kalian meminta doa kepadaku jika ada keperluan yang akan kalian selesaikan, meski tanpa diminta pun insyaallah akan tetap aku doakan.

Aku percaya dengan kalian karena kalian yang telah memberikan kepercayaan yang lebih besar kepadaku dengan mengabarkan tentang banyak hal mengenai kehidupanmu, meski aku sendiri terheran-heran, mengapa bisa sepercaya itu kalian padaku? Kepada aku yang tak pernah cerita apapun, aku yang selalu menutup rapat cerita hidupku, aku yang tak mau seorangpun tahu, kepadaku yang tak bisa memberikan apa-apa, bahkan hanya dapat tersenyum simpul ketika kalian mintai pendapat atau nasehat tentang suatu masalah yang kalian hadapi. Tapi itulah yang membuatku mencintai kalian, kalian yang mau mengisi hidupku dengan kabar kebahagiaan ataupun kabar kesedihan yang membuat diri ini selalu introspeksi tentang rasa syukur. Sungguh, aku mencintai kalian karena Allah. Merasa berat apabila harus meninggalkan ataupun ditinggalkan oleh kalian yang telah mengisi banyak waktu dalam hidupku, waktu yang meski baru sebentar apabila dihitung dari keseluruhan usia kita, namun waktu yang sangat memberikan kesan dan dampak yang besar untuk diriku, aku bahagia mengenal kalian, sangat sangat bersyukur bisa menjadi saudara kalian di dunia dan berharap menjadi tetangga kalian di surga kelak.

Aku senang berlama-lama bersama kalian, karena keimananmu, karena kasih sayangmu, karena Allah yang telah mempersatukan hati kita hingga rasa nyaman dan aman selalu menghiasi setiap pertemuan-pertemuan kita. Aku ingin kita dapat menjadi manusia-manusia yang Rasul dan para sahabatpun cemburu kepadanya, karena Allah akan memberikan cahaya yang memancar di surga kelak kepada orang-orang yang saling mencintai karena Allah. Meski aku tak sebaik kalian, meski diri ini masih jauh dari amalan-amalan kalian, meski harus berlari ketika ingin sepadan dengan tingkat keimanan kalian, meski ilmu ini tak akan sebanding dengan ilmu kalian, tapi aku senang bersama kalian, karena aku berharap, Allah akan mengangkat derajatku bersama kalian, kalian yang aku cintai karena Allah, kalian yang dari segi apapun jauh diatasku, hanya berharap Allah mengumpulkanku bersama kalian karena di akhirat, Allah akan mempersatukan setiap insan dengan siapa yang mereka cintai ketika di dunia.

Sungguh, aku kagum kepada kalian, kalian lah guru-guru kehidupan dunia dan akheratku, kalianlah alarm kebaikanku, kalianlah satpamku dari berbagai peluang maksiat yang hadir di depan mataku, kalian lah pemompa semangat juangku, dari kalian aku banyak sekali belajar. Belajar ketulusan, belajar mencintai ilmu, belajar berkorban, belajar ikhlas, belajar menghargai setiap nasehat dan belajar menggapai hikmah di setiap kejadian yang menimpaku. Kalian yang telah membantuku di kala susahku, kalian yang senantiasa akan kukabarkan pertama kali ketika datang kabar baik itu, kalian yang menjadi tempat berkeluh kesahku, kalian yang selalu mendorongku ketika butuh kemantapan hati untuk berbuat sesuatu, kalian yang memberikan senyuman terbaik ketika aku jatuh, kalian yang dengan cara kalian masing-masing telah memberi kebahagiaan di sisa umurku, kalian yang sangat memahamiku, bagaimana membuatku bergerak, membuatku bangkit, membuatku dapat kembali tersenyum ceria, membuatku mengubah sudut pandang agar selalu berfikir positif. Aku kagum kepada kalian yang telah berkali-kali menegurku bahkan memarahiku demi kebaikanku, kagum karena dengan cara kalian aku tak pernah terbersit sedikitpun rasa sakit hati karena itu, teguran yang cukup membuaatku berfikir dan introspeksi diri, bukan malah sakit hati ataupun dendam. Kalian yang telah mengajarkanku banyak hal, padahal aku tak bisa memberikan apa-apa. Maafkan aku yang belum bisa menjadi saudara terbaikmu, maafkan aku yang masih banyak salah, aku yang tak jarang tidak peka untuk membantu, aku yang belum bisa membalas kebaikanmu. Satu hal mimpiku, aku ingin kita berkumpul kembali di rumah ukhuwah di jannahNya. Aamiin. Untuk ketiga orang yang aku berharap kalian bisa menjadi saudara dunia akhiratku. Untuk ketiga orang saudaraku yang insyaallah doaku selalu mengalir untuk kebaikan kalian di manapun kalian berada. Sayang kalian karena Allah.

3:23 PM, 8 Februari 2017 @Bandarjo

Apa Definisi CINTA Menurut Kalian?

11866207_906097766103632_4956429031743829042_n

Efek nih efek, efek melakukan perjalanan panjang dan semobil dengan orang-orang yang tak henti-hentinya bicara tentang cinta. Akhirnya terbersit juga pikiran, apa sih cinta? Apa artinya cinta bagi kalian? Cinta, kata-kata yang sejak dahulu hingga kini tak pernah bosan orang memperbincangkannya, seakan tak ada kadaluarsanya. Pastilah cinta memiliki arti masing-masing di hati kalian, memiliki definisi masing-masing, hingga memiliki impian masing-masing terkait siapa yang berhak mendapatkan cinta terbesar dari kalian. Okay, itu hak setiap orang untuk menjawabnya, dan ngga ada jawaban yang salah. Itu hak pribadi kalian, hehe..

Begitupun aku, hanya ingin menyampaikan pendapatku, hanya ingin berbagi cerita, hanya ingin berbagi pandangan, monggo setuju ataupun engga itu ngga masalah, karena ngga ada yang benar ngga ada yang salah, yakin deh, masing-masing individu memiliki persepsi yang berbeda-beda mengenai cinta.

Cinta, definisi cinta dalam pandanganku adalah memberikan apapun yang diminta tanpa nanti tanpa tapi. Kalo udah cinta, buktinya ya memberikan “apapun”, apapun itu. Kenapa tanpa nanti? Ya karena kalo pake nanti-nanti, berarti ada yang didahulukan, berarti ada yang lebih penting, berarti ada yang lebih dicintai. Iya ngga? Nah, makanya menurutku cinta itu ada tingkatannya, ada prioritasnya. Dan yang lebih penting, jangan sampai salah dalam meletakkan tingkatan cinta. Tingkatan pertama, ya jelas dan so pasti lah, harus memberikan cinta terbesar kita buat yang menciptakan kita, Allah swt, yang telah mengizinkan bahwa kita ada, dan masih mengaruniai rasa cinta di hati kita, sehingga hatinya ngga kaku, hehe. Allah yang masih mengembalikan nyawa kita di pagi hari tadi untuk hidup kembali, bayangkan aja kalo semalem tidurnya bablas, bisa-bisa aja kan? Nah, cinta sama Allah ini bisa ditunjukkan dari seberapa penting Allah buat kita, seberapa besar usaha kita untuk menjalankan apapun yang diminta sama Allah. Kalau Allah minta buat lakuin suatu kewajiban ya lakuin, kalo Allah minta buat jauhin sesuatu ya jauhin sejauh-jauhnya. Setelah cinta kepada Allah adalah cinta kepada Rasulullah, beliaulah yang menunjukkan cara-cara kita untuk mencintai Allah, beliau yang menjadi teladan kehidupan, beliau yang betapa inginnya kita bisa selamat dunia dan akherat. Nah, karena cinta itu butuh bukti, maka buktikan. Dari yang paling simple aja, seberapa penting sholat itu buat kamu? Sholat itu tiang agama, kalo beres sholatnya, insyaallah beres kehidupannya, karena Allah yang maha membereskan urusan dan maha merumitkan pekerjaan. Kalo panggilan adzan masih kalah penting sama bales chat, nonton drama, ngumpulin uang, ngerjain laporan, masuk kuliah, panggilan orangtua, panggilan dosen, bahkan panggilan presiden, yaaa tunggu aja tanggal mainnya, hehe.. *masih muhasabah diri juga terkait hal ini. Nah, kalo Allah udah diletakin yang paling atas, maka permintaan siapapun yang melanggar permintaannya Allah, ya pasti bakal kita buang, siapapun itu yang minta, orangtua sekalipun. So, sekali lagi, cinta itu butuh bukti guys.

Cinta kedua, cinta keduaku diperuntukkan buat kedua orangtua. Kenapa? Karena ngga ada yang memastikan aku bisa tumbuh sebesar ini kalo bukan karena perlindungan orangtua. Dari bayi kalau ngga ada yang kasih minum dan suapin, mana bisa segede ini. Dari bayi kalo ngga digendong, diselimutin, ditatih jalan, dilindungi dari semua gangguan, ya mana mungkin sehat wal’afiat sampe sekarang. Orangtua yang lihat aku nangis aja enggan, yang aku digigit nyamuk aja ngga tega, apalagi lihat aku jatuh sakit atau terantuk meja ketika berlatih jalan. Belum bisa bayangin gimana perjuangan mereka cari uang buat aku bahagia dan tercukupi semua kebutuhanku. Baru coba cari uang sedikit aja udah susah banget rasanya. Cita-citaku pengen terus berusaha buat berbuat baik, supaya pahalanya pun bisa mengalir ke orangtua, pengen jadi hafidzah (malu sih nyebutnya, masih jauuuh), biar bisa memakaikan mahkota dan jubah indah di surga, dan pengen sukses jadi orang yang mampu, mampu dari segi ilmu dan kapasitas serta mampu buat hajiin orangtua, mampu bangun masjid, mampu bangun sekolahan, dan mampu membahagiakan banyak orang.

Cinta ketiga, cinta buat keluarga tentunya, ada adek, om, tante, pakde, bude, sepupu, dan simbah (nantinya ada juga suami dan anak-anak, insyaallah ^-^). Kita harus mendahulukan keluarga terlebih dahulu apabila ada keluarga yang masih kekurangan, sebelum membantu yang lain. Bukan menutup kemungkinan buat membantu yang lain, tapi perhatikan dulu keluarga. Keluarga di sini adalah keluarga yang Islam dahulu, karena persaudaraan tertinggi adalah persaudaraan karena iman. Kita juga diperintahkan untuk memerintahkan keluarga kita agar menegakkan sholat serta menjauhkan keluarga dari api neraka. Maka berusaha menyampaikan ilmu yang didapatkan atau nasehat kebaikan itu juga perlu untuk keluarga kita. Memang tak mudah, tapi bukan tak mungkin kan?

Cinta keempat adalah cinta kepada saudara sesama muslim dan kemudian kepada teman-teman kita lainnya. Karena kewajiban seorang muslim adalah berbuat baik kepada siapapun itu, kepada sesama manusia tanpa melihat apapun suku, bangsa bahkan agamanya sekalipun. Nah apabila dalam Islam, ada 6 hak dan kewajiban yang harus dilakukan seorang muslim terhadap muslim yang lain, yaitu Rasulullah Saw bersabda: “Hak seorang Muslim atas Muslim lainnya ada enam: (1) Jika engkau bertemu dengannya, maka ucapkan salam, dan (2) jika dia mengundangmu maka datangilah, (3) jika dia minta nasihat kepadamu berilah nasihat, (4) jika dia bersin dan mengucapkan hamdalah maka balaslah (dengan doa: Yarhamukallah), (5) jika dia sakit maka kunjungilah, dan (6) jika dia meninggal maka antarkanlah (jenazahnya ke kuburan).” (HR. Muslim).

“Cinta=memberikan apapun yang diminta tanpa nanti tanpa tapi”

Sekian pemaparan definisi cinta menurut pendapatku, nah gimana definifi cinta menurut kalian?

Kartasura, 27 Februari 2017, 01:39 AM

Cintai Orang yang Mencintaimu

Cintai orang yang mencintaimu

Jangan umbar cinta sembarangan

Ngga baik kalo diumbar sebelum waktunya

Sayang waktu, sayang hati, sayang pikiran

Pernah jatuh cinta? Sakit? Iyalah, namanya juga jatuh

Makanya bangun cinta aja kalo udah sah, biar bisa jadi istana tinggi di surga

Lha trus mana orangnya?

Ya kalo belum kelihatan, ibaratnya masih sama-sama jalan ke titik tujuan yang sama, yang nantinya bakal Allah pertemukan di persimpangan

Kapan? Ya entah, karena kita ngga tahu persimpangannya udah deket apa belum

Yang jelas kita lagi sama-sama jalan dan hanya Allah yang tahu kapan

Trus yang perlu dilakuin apa?

Persiapan lah, kali aja udah deket itu persimpangan

Karena keberuntungan adalah ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan

Persiapannya apa?

Ya terus berbenah, biar jadi pribadi yang lebih baik, yang lebih bisa menghargai orang lain, yang lebih taat sama Allah , biar segera Allah pertemukan, dan juga belajar jadi orangtua yang baik nantinya

Nah, kalo udah kelihatan, ya segera aja ambil, kan udah persiapan, wkwk

Segera ijab sah ya, jangan lama-lama

karena cinta butuh bukti, butuh kepastian, bukan digantungkan berbulan-bulan

trus buktinya apa? Buktinya kalo udah bilang ke orangtua dan bilang kalo mau ijab sah tanggal sekian bulan sekian

udah itu aja, semoga mengubah, semoga menggugah

6:54 PM, 27 Februari 2017 @kartasura

Jadi Panitia Ramadhan itu Luar Biasa!

Ternyata keputusanku untuk ikut berperan dalam panitia ramadhan maskam undip tahun 2015 adalah pilihan yang takkan kusesali. Kutahu infonya dari mustomah dan akhirnya aku memilih menjadi bagian dari panitia harian dengan koordinator akhwat temanku sendiri, yaitu nurul. Mungkin bagi beberapa orang hal ini ringan, biasa aja dan tak berbekas, tapi buatku, semua pengalaman selama hampir sebulan ini sangatlah berarti. Panitia harian membuatku nyaris taraweh di maskam setiap hari, membuatku rajin ke maskam meski sebelumnya aku selalu malas-malasan, membuatku mendapat rezeki tambahan karena sering sekali membawa pulang makanan buka yang masih tersisa banyak, membuatku mendapat gizi tambahan karena hampir setiap malam makan semangka dan sisa takjil lainnya, membuatku spesialis receh selama menghitung uang infaq yang terkumpul setiap malam, membuatku menjadi pengatur shaf yang sampe hapal dengan kata-kata, ‘yang depan tolong diisi dulu ya mbak’.

Dan yang paling penting, membuatku belajar memahami persaudaraan yang terbangun indah antar panitia ramadhan yang hampir setiap malam berkumpul bersama, makasih banget buat anak anak harian yang the best banget dengan koor ibuu kita mbak nurul dengan anak-anaknya yang sangat penurut, hahay ; yaitu ecaa, yang karena harian aku jadi banyak tahu tentang kamuu, makasih udaah bersedia nganterin pulang malem-malem, devita yang punya suara khas tak tergantikan, anak fkm dari bangka ini beneran ngeramein dan ngangenin deh pokoknyaa, paling rajin ngatur barisan sayap kanan dan kiri, ada juga ina, temen sepermainan devita yang cantik ini baik banget dan punya suara lembut, kiki yang telaten kalo ngatur barisan bawah dan sejak shafnya mengalami kemajuan pesat, maka ia pun banting setir di bagian belakang. Tak lupa temen-temen baikku, ada tomah dan duwiik yang selalu heboh dan jadi penghiburku. Makasih banget atas kebaikan kalian. Terakhir dan yang paling cetar ya jelaas doong, siapa lagi kalo bukan ibu kita, nuuruuull… yang paling-paling rame, tapi dibalik ramenya itu tersimpan tanggung jawab yang besar, kepedulian yang tinggi, kepekaan yang mengagumkan, dan tentunya always berusaha happy, semangat, totalitas, dan rajin. Pokoknya saluut deh dan makasih buat nurul. Kapan nih harian bakal kumpul lagi ?? dan tentunya bukan di tempat harian biasa nongkrong loh yaa,, haha..

Temen-temen laen juga bakal aku inget, ada ani anak antropologi angkatan pertama di undip ini selalu ceria, bendahara yang bertanggung jawab tinggi, tiap malem pulang paling akhir loh. Ada mbak yulis yang juga sering nemenin ani, orangnya banyak bantuin siapapun yang butuh bantuan, tanggap deh. Ada mbak rhea yang udah nganterin aku malem-malem cenglu ke rumaisha, berasa mau jatoh, sereem ituu. Dan fitri yang selalu stand by dalam urusan konsumsi buka puasa. Ada juga miza yang sangat tanggap membantu dan rajin menyapa. Makasih buat semua kenangan manisnya selama ramadhan dan pelajaran tentang persaudaraan. Maafkan aku yang udah banyak salah selama ini. Semoga amal kita yang sedikit ini mampu membawa kita berkumpul di surga karena rahmat Allah swt. Amin.

Oyaa, subhanallah nya, aku yang awalnya khawatir karena ramadhannya pas uas dan setiap hari harus pulang malam karena jadi panitia harian, yang waktu belajarnya otomatis terpotong dari sore sampai malam, tapi subhanallah banget, ip ku malah naik drastis dan ngga nyangka banget bisa mencapai segitu. Allah maha baik J

Kamis, 30 July 2015. 11;12 pm. @ kartosuro.

Hanya Renungan untuk Diri Sendiri

Lelah? Merasa benar? Merasa berjasa? Padahal kerja juga nggak ada. Sok ngomongin orang? Diri sendiri aja ilang-ilangan. Banyak membenarkan alasan-alasan yang sebenarnya tak pantas diucapkan. Sukanya mengeluh pada orang, emang berguna? Allah dikemanakan? Carilah solusi, bukan ghibah sana-sini. Hanya menjelek-jelekkan, apa murni ingin memperbaiki? Lihat ke dalam hati nurani, rajin evaluasi diri. Sok komentarin orang? Kerjaan sendiri aja orat-aritan. Luruskan niat, kerja disini buat siapa? Kalo semua karena Allah, insyaallah nggak ada tuh yang namanya rasa kecewa. Sabar dan syukur juga karena Allah. Ingat, hanya dengan mengingat Allah lah hati bisa tenang. Banyakin tilawahnya, khusyukin sholatnya, dan banyakin doanya. Jangan anggap diri sendiri itu baik, masih banyak kok yang lebih baik. Merasa banyak salah ? Ingat lagi niatnya, evaluasi diri. Orang mengkritik itu tanda sayang, orang kasih saran itu tanda perhatian, orang menyindir pedas itu tanda banyak memberi harapan. Ingat, jangan kecewakan kepercayaan. Yuk evaluasi, perbaiki diri sendiri dulu. Banyakin istighfar dan minta dimudahkan. Allah maha segalanya kok, nggak ada yang nggak bisa dilakukan sama Allah. Kalo udah tau salah, nggak usah mengeluh, lakukan perbaikan dan lakukan yang terbaik. Nggak usah minta dinilai orang, puas aja sama penilaian allah. Allah paling tau yang terjadi dan paling tau yang terbaik. Sedih, kecewa itu biasa. Sadar diri, kalo salah itu bukan untuk ditangisi, tapi segera diperbaiki. Tidak sempat bukan karena sibuk atau padatnya urusan, tapi lebih karena tidak menyempatkan, tidak memprioritaskan, tidak menganggap penting urusan. Urusan sekecil apapun, kalo tidak dilakukan, sadarkah telah mengecewakan orang lain? Mau diri ini dianggap sepele juga ? Ketika masih ada kesempatan bernafas, itu tanda Allah masih sayang dan memberi kesempatan perbaikan. Berdoalah agar lisan selalu terjaga dan akhlaq senantiasa terpelihara. Bukan waktunya lagi mempertanyakan pantas atau tidak pantas, kalau amanah menghampiri, berarti Allah sudah percaya sama kita. Pantaskah kita tidak percaya sama Allah yang memberi amanah ? Tinggal bagaimana memantaskan dan melakukan semampu dan seterbaik yang kita bisa. Semangat perbaikan karena Allah.

9 November 2015, @rumaisha1, 9 :31 PM

#Semester 5- Semester Hijrahku

Di semester 5 aku mulai berubah, mulai menyadari suatu tanggungjawab, mulai merasa malu akan kesalahan-kesalahan. Banyak faktor yang membuatku mulai berfikir dan akhirnya memutuskan untuk mulai berubah, terutama mengubah kebiasaan-kebiasaan dulu. Dari semua faktor, menurutku faktor terbesar adalah keberadaan adik-adik di wisma yang kritis-kritis, yang lebih baik dari aku, yang banyak cerita ini itu ataupun mengeluhkan sesuatu yang bahkan sebelumnya tak pernah terfikirkan olehku. Memang belajar tak perlu dengan orang yang lebih dewasa atau yang lebih pintar dari kita, karena sesungguhnya setiap orang pun bisa memberikan pelajaran berharga buat kita. Apabila dikerucutkan lagi, faktor terbesar dari keberadaan adik-adik di wisma yaitu faktor malu. Ya, malu. Malu ketika mereka lebih baik dariku dari segi banyak hal, malu ketika mereka lebih rajin membersikan kamar, malu ketika mereka bangun lebih pagi dariku dan lebih dahulu membangunkanku, malu ketika mereka berwudhu di sepertiga malam dan mendirikan tahajud, malu ketika mereka menjumpaiku tidur sehabis subuh, malu ketika mereka rajin puasa senin-kamis, malu ketika berangkat kuliah telat sedang mereka dengan semangatnya berangkat lebih pagi, malu ketika mereka lebih rajin datang kajian, malu ketika pengetahuanku belum seberapa dibanding mereka, malu ketika diri ini mengeluh sedangkan keadaan mereka tidak lebih baik dariku, malu ketika mereka lebih baik dan lebih rajin dalam membaca Al-Qur’an, malu ketika hafalannya jauh lebih banyak, malu ketika mereka dengan semangatnya berusaha berubah menjadi lebih baik, malu ketika mereka meminta nasehat ini itu tapi sebenarnya diri ini pun belum mampu, malu ketika belum bisa menjadi teladan yang baik buat mereka, malu ketika mereka lebih peka dariku, malu ketika dikritik dan dikomen ini itu, malu ketika banyak laporan dan keluhan datang kepadaku, malu ketika mereka yang mengingatkan dan menasehati tentang tanggungjawabku. Oh Allah, terimakasih atas segala nikmatmu, terimakasih atas segala takdir pertemuan ini, terimakasih telah diberi tempat belajar terbaik di Semarang ini.

Di semester 5 baru menyadari adanya tanggungjawab yang besar, baik di kampus maupun di wisma. Tanggungjawab untuk turut membangun peradaban Islam dengan rajin mengadakan mentoring. Tanggungjawab mensyi’arkan nilai-nilai Islam di lingkungan kampus ataupun di organisasi kampus. Tanggungjawab pembinaan di dalam wisma. Tanggungjawab terhadap saudara-saudara seiman, karena sudara-mu, amanah-mu.

Di semester 5 ini banyak orang yang menyadarkanku akan kesalahan-kesalahanku dan berusaha membuatku lebih baik. Terimakasih buat semua kritikannya, nasehat-nasehatnya, makasih sudah banyak mengingatkan, makasih udah marahin aku, makasih udah nge-jleb in aku, makasih udah nyindir-nyindir aku, makasih udah banyak memberi pelajaraan berharga dengan berbagai kisahnya, tapi aku tahu bahwa semua itu dilakukan untuk membuatku lebih baik lagi. Makasih buat semua ilmu yang kalian berikan dengan mewarnai hidupku di semester 5 ini, karena setiap jejak langkah, setiap detik waktu adalah pelajaran bagi orang yang mau mengambil pelajaran dan hikmah.

Di semester 5 aku telah melewati satu bagian dari kewajiban kuliah yang bernama KP alias kerja praktek. Berasa mengingat segala memori tentang KP yang sebenernya pengen aku lupakan. Memang setiap orang memiliki kisahnya masing-masing, memiliki perjuangannya masing-masing, maka dari itu hargailah setiap perbedaan yang ada, karena kalian memang berbeda. Pengalaman hiduplah yang memberikan persepsi berbeda pada setiap orang. Hargailah perbedaaan, dan jika terdapat kesalahan, maka nasehatilah dengan cara yang baik agar tidak menyakiti hatinya, dan aku pun masih belajar dalam hal ini. Cerita tentang KP itu perjuangan banget, kerasa banget ketika dibenturkan tuntutan KP harus cepat selesai dengan agenda-agenda penting yang juga tak bisa ditinggalkan begitu saja. Alhasil harus izin sana sini dan terkadang pun kabur-kaburan. Maafkaan L. Harus bisa pinter-pinter mencuri waktu di sela-sela kesibukan kuliah dan organisasi, belum lagi bukan hanya waktuku, tapi waktu teman-teman juga, karena aku ngga bisa kerja KP tanpa bantuan teman. KP itu perjuangan di wisma sendirian dan ngga pulang waktu minggu tenang. Merasakan sedihnya ketika dosen sendiri yang meragukanku dan bertanya, kira-kira selesai nggak ya KP-mu? Masih kurang ini kurang itu lho. Pengen nangis aja, tapi aku harus meyakinkan diriku bahwa KP harus selesai semester ini juga, apapun yang terjadi. Tapi, terimakasih buat dosen yang udah membimbing dan banyak ngingetinnya, dan semua itu dilakukan buat nyemangatin aku biar cepet selese. Terimakasih buat Tati dan Anggi yang udah mau diajak capek-capek ria dan panas-panasan nyari lichen. Hoho.. terimakasih buat semangatnya dan segala macam bantuannya. Makasih juga buat Tasya dan Vera yang sering ngingetin aku dan nyuruh-nyuruh aku buat ngerjain laporan KP. Makasih buat Tasya yang udah nemenin aku di waktu-waktu krusial itu, waktu lembur-lembur ngga tidur sampe tengah malem kaya orang frustasi buat ngerjain revisi, udah ngehibur cerita sana-sini tapi ngga digubris, maafkaan, dan makasih udah puas ngetawain aku. But, semua itu akhirnya berlalu. It’s over. Alhamdulillah ya Allah.

9:00 AM, 31 Januari 2016, @kamarhanin#Solo

Antara Amanah dan Pulang Kampung

Kemarin (rabu, 10 sept 14) ada acara temu wisma fsm undip tahun 2014 di wisma cordoba, acara pertama adalah wejangan-wejangan dari mbak nela selaku presiden wisma fsm yang seperti biasa, yakni selalu luar biasa. Mbak nela adalah salah satu orang yang aku kagumi di undip karena kejujurannya, keblak-blakannya dan ke mak jlebnya.

Pembicara yang dihadirkan yaitu bu Dini Inayati, yang memberikan tausiyah dan nasehat luar biasa. Salah satu yang disampaikan yakni tentang pulang kampung, yang sempat membuatku tersindir karena aku pun sering pulang di semester 2 kemaren.  Menurut bu dini, pulang kampung dengan alasan berbakti kepada orangtua memiliki perbedaan tipis dengan berjuang untuk dakwah di kota rantau ini. Tidak ada yang salah dengan pulang kampung, namun juga jangan sampai lantas mengorbankan misi dakwah yang besar. Semua orang pastilah ingin pulang, ingin bisa bertemu orangtua, ingin bisa berbakti kepada orangtua. Tapi juga harus ingat amanah yang ada. Jika memang waktunya pulang maka silahkan pulang dengan waktu yang benar-benar dimanfaatkan dengan berbakti pada orangtua. Diharapkan waktu di rumah yang singkat dapat dimanfaatkan secara efektif untuk membantu orangtua, membahagiakan orangtua, dan banyak berdiskusi dengan orangtua dalam rangka menjalin komunikasi serta menjelaskan tentang keislaman kita.

Dengan kita bersedia tinggal di wisma yang insyaallah dapat mempererat ukhuwah, maka kita pun harus bersedia untuk saling berbagi dan saling peduli satu sama lain. Di wisma yang sudah terbiasa tinggal bersama dan saling berbagi meski mereka bukan siapa-siapa, tak ada ikatan saudara, namun bisa saling menyayangi karena disaudarakan oleh iman, maka seharusnya ketika pulang ke rumah, kita dapat menjadi lebih baik kepada adik atau saudara-saudara di rumah. Intinya, harus rukun sama adik di rumah karena sudah terbiasa rukun di wisma. Diharapkan kebiasaan-kebiasaan yang sudah baik di wisma dapat juga dilakukan di rumah.

September ‎11, ‎2014, ‏‎5:38:15 PM