SEMESTER 7-Muhasabah Diri

Sekarang 2 Januari 2017, setahun baru saja berlalu, dan telah tergantikan dengan datangnya tahun baru, 2017. Seiring itu, satu semester pun telah usai pula kulalui, semester 7, semester yang terasa begitu cepat berlalu, semester yang dulu masih belum terbayangkan dan terasa masih sangat jauh, kini baru saja terlewati. Tentu banyak kebahagiaan di semester ini, banyak kenangan, banyak sukanya juga, dan banyak pelajaran baru yang didapat, tapi yang pasti juga ada kegundahan, kesedihan, kegalauan, ketakutan yang alhamdulillah bisa terlewati. Banyak orang yang telah membersamaiku satu semester ini, orang-orang baru ataupun teman yang sudah kukenal sebelumnya, yang jelas semuanya punya peran, semua telah memberikan sebagian waktunya untukku, semua telah menghadiahkan peran terbaiknya masing-masing. Sebelumnya, terimakasih banyak untuk semua orang yang telah turut mewarnai hari-hariku di semester 7, kalian sangat berarti, kalian banyak memberi pelajaran berharga.

Waktu terkadang terasa sangat lambat, tapi di lain waktu terasa sangat cepat berlalu. Memang kita sering tertipu dengan waktu, terlena, dan akhirnya baru tersadar ketika semua telah usai, dan penyesalan selalu datang di akhir, bahwa ternyata kita belum melakukan apa-apa. Astaghfirullah L Begitu pula yang kurasakan, ketika proses demi proses itu dilalui, rasanya lama dan banyak kegalauan serta ketakutan yang menghampiri, ingin cepat selesai saja. Tapi Alhamdulillah ada saudara-saudara yang senantiasa mengingatkan untuk meluruskan niat, niat bahwa kita berbuat itu karena Allah, niatkan untuk beramal, untuk bermanfaat bagi oranglain. Kalau niatnya karena Allah, insyaAllah ngga akan ada rasa kecewa. Kalau niatnya karena Allah, maka diri ini bisa menikmati proses belajar yang Allah gariskan buat kita, yang Allah amanahkan buat kita, karena di sana pasti ada hikmahnya. Kalau niatnya karena Allah, pasti kita yakin ada jalan keluar ditengah kesulitan yang ada, tugas kita adalah berusaha sebaik mungkin, tapi hasil tetap Allah yang menentukan. Salah satu pelajaran yang bisa diambil yaitu, selesaikan dahulu urusanmu dengan Allah, maka Allah yang akan menyelesaikan segala urusanmu. Urusan dengan Allah termasuk shalat tepat waktu, shalat sunah, target tilawahnya diselesaikan, puasa, sedekah, dll.

Semester 7, semester yang hampir di ujung waktu, ujung perjalanan yang penuh cinta di undip. Semester dimana merasakan banyak cinta dari temen-temen sekitar karena banyak bantuan yang diberikan ketika ada masalah datang.

Semester 7 itu udah jarang kuliah, sama temen angkatan juga udah jarang ketemu dan ngga terlalu deket lagi karena jadwalnya yang beda-beda, kadang seminggu hanya ketemu sekali, bahkan ada yang bener-bener ngga pernah ketemu. Semester 7 itu udah ngga fokus lagi sama kuliah, hehe.. rasanya udah bosen kuliah, meski aku cuma ambil 3 hari, tetep aja bosen. Kegalauannya adalah ketika melihat satu-persatu temen-temen yang udah pada buat proposal dan sempro. Sedih ketika di kampus jarang ketemu temen-temen seangkatan karena kuliahnya beda, apalagi ketika di masjid dan isinya adik tingkat semua, berasa tua banget. Padahal masjid FSM adalah kenangan terindah tempat para mahasiswa Biologi ngumpul buat ngejar deadline laporan ataupun belajar persiapan pretes bareng-bareng. Ah, kangen masa-masa itu.

Semester 7 adalah menempati wisma baru yang bener-bener baru dikontrak oleh RPIM sebagai wisma, jadi bisa dibayangkan kalo rumahnya itu suci bersih ngga ada isinya, haha. Inget banget gimana perjuangan aku sama mbak Hanna buat pindahan dan belanja ke ADA buat menjadikan wisma ini bisa layak disebut rumah. Pun ketika kita kesana-kemari untuk mengais barang-barang dari wisma lain yang dapat dimanfaatkan. Sempet sedih sih ketika tahu wismanya jauh dari kampus, tapi ternyata inilah wisma paling nyaman se-FSM raya. Seneng sama adek-adek wisma yang udah bisa deket semenjak hari-hari awal di wisma, apalagi ada 3 maba yang unik-unik. Awalnya bingung sama tingkah polah mereka yang super aktif, tapi alhamdulillah aku diingatkan untuk bersyukur karena mereka sangat kompak, terutama ketika makan dan pergi kemana-mana selalu bersama, suasana kekeluargaannya udah ada. Kita cuma berdelapan, ngga susah lah buat saling mengenal. Tapi sedihnya, aku belum bisa membuat mereka tersadar dan bergerak ke arah yang lebih baik, masih terus belajar buat itu, susah banget, susah ternyata menggerakkan orang lain itu, baru bisa mencontohkan tapi belum bisa menyadarkan, amanah adek-adek wisma itu amanah yang berat, sedih karena udah jadi yang paling tua di wisma, harus bisa ngayomi. Rasanya kangen jadi adek wisma, kangen punya banyak mbak-mbak yang baik-baik itu, minimal jadi tempat bertanya dan tempat cerita, terutama sebagai sumber nasehat untuk kebaikan. Baru sadar pengorbanan mereka ya setelah merasakan, makasih buat semua mbak-mbak yang pernah sewisma sama aku, kalian terbaik lah, makasih atas segala ilmu dan pengajarannya J

Semester 7 menjadi orang di ujung organisasi, banyak suka dukanya juga, banyak pengalaman baru di sana. Belajar banyak hal dari temen-temen PH di organisasi yang mereka jauh lebih keren dari aku. Di sini belajar gimana cara merangkul orang, belajar meyakinkan orang atas ide dan pendapat pribadi dengan cara yang baik, belajar komunikasi dengan banyak pihak yang berbeda cara pandang. Namun masih merasa belum berhasil dalam mempersatukan adek-adek di departemen, dan belum bisa merangkul secara keseluruhan. Pengalaman di kepanitiaan besar sangatlah berharga, memang banyak tantangan dan tekanannya, tapi dukungan dari temen-temen dan adek-adek sangatlah luar biasa, terkadang minder sama kalian yang luar biasa itu, bangga bisa berkesempatan untuk mengenal kalian dan jadi bagian dari PH RIC 2016. Pengalaman sedihnya adalah, aku seperti lari dari amanah di organisasi lain, belum bisa menyeimbangkan karena masih berat sebelah dan belum maksimal dalam berkarya. Maaf buat kadep aku yang sering aku kecewain L

Semester 7, alhamdulillah liqo atau mentoring kita bisa tetep rutin, hafalan pun nambah. Harapannya semoga ukhuwah kita bisa lebih erat, bisa lebih saling memahami dan menanggung beban, bisa benar-benar saling mendoakan di setiap solat dengan menyebut bahwa aku mencintai kalian karena Allah. Punya temen liqo yang didekatkan karena seamanah, merasa ukhuwahnya lebih terjalin karena amanah kita sama-sama di sana dan berat juga ditanggung sama-sama, di sanalah tempat cerita itu. Makasih buat kamu yang selalu membantuku J Maafkan aku yang belum bisa memahami.

Semester 7 merasa belum bisa menjaga adek-adek mentoring dengan baik, takutnya adalah bukannya melaksanakan tugas membina, tapi malah membinasakan. Maafkan aku adek-adek. Astaghfirullah, takut mendzolimi dan belum memenuhi hak-hak mereka. Mungkin kemampuan diri yang masih perlu banyak belajar bagaimana cara menyentuh hati. Aku adalah orang yang harus banyak diingatkan terkait pemahaman, masih perlu dimarahin dulu agar segera memperbaiki diri, mungkin belum totalitas dalam menjaga adek-adeknya juga. Terkadang merasa minder dengan mbak-mbak wisma yang subhanallah banget usahanya tiap kali mentoringin, mereka yang bisa rutin mentoringin di setiap minggu. Merasa belum bisa menjadi mbak yang deket sama adek-adek dan jadi tempat cerita mereka, mungkin karena kurang perhatian ke mereka juga. Menjadi pementor itu belajar untuk mengesampingkan masalah pribadi, dan ikut memperhatikan masalah adek-adeknya. Makasih atas banyaknya pelajaran dan kisah-kisah indah yang kalian sampaikan.

8 Januari 2017, @hafshah, sore menjelang maghrib, 17.30 WIB.

Antara Amanah dan Menjadi Biasa

Godaan terbesar aktivis dakwah adalah menjadi orang biasa. Itu memang benar adanya. Godaan untuk menjadi orang biasa saja, toh juga tidak mengganggu atau menghalangi kerja dakwah. Kenapa harus berjuang di lembaga? Kenapa harus aku? Kenapa harus ini dan itu? Kenapa harus berada di sini? Pertanyaan-pertanyaan yang tak jarang menghampiri. Pertanyaan yang sebenarnya kita sendiri sudah mengerti jawabannya, tapi terkadang terlalu lelah untuk berusaha memahami dan membukakan hati untuk menerima segala resiko yang jelas akan datang. Pertanyaan yang bisa menjadi bumerang apabila tidak kuat menanggungnya. Memilih untuk menyingkir sedikit demi sedikit dari amanah. Ingin merasakan sehariii saja bebas dari semuanya. Memang rasa futur, bosan, malas itu pasti menghampiri, tinggal bagaimana tingkat kedewasaan kita dalam mengolah hati. Sikap paling minimal apabila hal itu terjadi adalah tidak meninggalkan kewajiban-kewajiban dakwah, meski dengan berat hati menjalaninya. Tapi paling tidak, kita tetap berada dalam lingkaran kebaikan dengan orang-orang yang insyaallah juga baik.

Terimakasih Allah atas rezeki amanah yang masih menjagaku dari segala keburukan yang mungkin aku lakukan. Amanah datang karena Allah sayang, Allah masih percaya dan hal itu membuat orang-orang di sekitarmu pun percaya bahwa kamu mampu. Amanah datang untuk menjagamu agar selalu dalam kondisi baik dan mau belajar menjadi lebih baik. Amanah menghindarkan kita dari pikiran yang tidak baik dan perbuatan yang tak bermanfaat. Amanah merupakan ladang amal yang memberi keuntungan dunia akherat.

Memang benar bahwa apabila kita belum lulus suatu bentuk ujian, maka kita akan diuji dengan ujian yang sama di lain waktu. Dan ternyata aku mengalaminya, setelah ujian beberapa tahun lalu yang membuatku terpuruk, ternyata ujian yang sama datang dalam bentuk yang berbeda. Dan sikapku masih seperti yang dulu, sudah tahu salah, sudah tahu akibatnya, tapi tetap saja diam seribu bahasa dengan alasan takut membicarakan hal itu. Ya allah, beri aku kekuatan, beri aku jalan keluar untuk kebaikan.

10;57 pm @rumaisha, 16 Mei 2013

Besok oh Besok

Jangan berharap pada kata besok, besok, besok. Karena sejatinya, besok adalah belum tentu. Waktumu adalah sekarang, bersyukurlah dengan waktu sekarang. Jangan menjagakan untuk melakukan suatu amal kebaikan atau bahkan membayar hutang pada kata besok. Iya kalau kita masih dipertemukan dengan si besok itu. Kalaupun masih, yakinkah dengan keadaan sehat seperti sekarang? Yakinkah dengan keadaan berkecukupan seperti sekarang? Yakinkah dengan keadaan luang seperti sekarang. Sesungguhnya hutang adalah wajib untuk segera dibayarkan. Rasulullah pun enggan menyolati jenazah yang masih memiliki hutang. Sebaiknya jangan mudah untuk memutuskan berhutang, karena hutang akan mempersulit kita di dunia maupun akherat. Tak jarang hubungan persaudaraan menjadi renggang karena hutang, demikian juga di akherat, mereka akan menagih hutang kepada kita di hari akhir nanti, dan entah saat itu kita akan membayar dengan apa, apakah amal kebaikan kita cukup untuk membayarkan hutang-hutang kita di dunia? Sesungguhnya amal kebaikan pun harus disegerakan, karena setan akan mengganggu sepanjang waktu dari semua sisi, bahkan hingga masuk ke dalam pembuluh darah untuk membisikkan kata besok saja. Contohnya, kalau kita sudah niat sedekah 10 ribu di hari itu, maka langkahkan kaki pertama kali adalah ke masjid dan masukkan ke kotak amal, karena jika ditunda dan kita masuk ke kelas, siapa yang tahu kalau ternyata kita ditagih iuran tugas kelompok? Siapa yang tahu kalau sesampainya di kelas tiba-tiba saja lapar dan akhirnya tak bisa menahan nafsu untuk jajan danusan teman di kelas? Siapa yang bisa memastikan hingga pulang kuliah uang 10ribu tersebut tetap utuh di kantong, entah untuk membayar sesuatu atau jatuh di jalan? Hingga pada akhirnya niat baik tersebut terurungkan realisasinya.

Sehebat apapun rencana kita, tetap tak bisa menandingi keputusan Allah. Kematian, sakit, jatuh miskin, kesibukan yang penuh tipuan kesia-siaan, semuanya mudah bagi Allah. Tugas kita adalah memastikan bahwa kita tidak terjerumus dengan kata besok untuk memulai suatu kebaikan. Luar biasa lagi jika kita bisa mengajak orang lain untuk melakukan hal serupa. Termasuk bersegera dalam membayar hutang, bersegera dalam bersedekah, bersegera dalam solat tepat waktu, bersegera dalam menuntut ilmu dan melakukan kebaikan-kebaikan lainnya.

10;39 pm, @rumah simbah yang sunyi di depan tv

Mereka yang Saling Mencintai

Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan, “Orang-orang yang saling mencintai karena Allah, tidak ada sesuatu pun dari urusan dunia yang akan memutus cinta mereka karena Allah. Mereka ini saling mencintai hanya karena Allah. Tidak ada yang memisahkan mereka kecuali kematian, meskipun mungkin sebagian mereka melakukan kesalahan kepada sebagian yang lain atau tidak menunaikan hak sebagian yang lain, semua ini tidak penting bagi mereka”.

Sebab hati manusia begitu mudah berubah-ubah, maka jika sebuah ukhuwah terikat bukan karena Allah, mampukah ia tetap bertahan dalam jangka waktu yang lama? Sanggupkah tetap saling menjaga lewat nasehat dan doa meski tak ada ikatan darah? Bisakah tetap berdiri dalam ketulusan kala hati mulai dihinggapi rasa kecewa?

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-utsaimin mengatakan, “Apabila engkau melihat sahabatmu menunjukimu kepada kebaikan dan membantumu untuk mewujudkannya, apabila engkau lupa mereka mengingatkanmu, apabila engkau tidak tahu maka mereka mengajarimu, maka peganglah mereka dengan erat dan gigitlah tali pertemanan dengan mereka dengan gigi geraham”.

Sahabat itu bintang bernama ketulusan yang tak henti berkedap-kedip memancarkan cahaya nasehat tentang kebenaran dan kesabaran.

Bila nanti kita jauh berpisah, jadikan robithoh pengikatnya, jadikan doa ekspresi rindumu, semoga kita bersua di Surga-Nya kelak.

#Untuk mereka yang senantiasa membersamai dalam setiap doa, untuk mereka yang memberi tanpa diminta, untuk mereka yang selalu berlomba untuk membantu, untuk mereka yang memberi solusi tanpa menyalahkan, untuk mereka yang menyemangati di kala keterpurukan datang, untuk mereka yang menegur di kala sepi, untuk mereka yang sangat tahu kekurangan tapi menampakkan kebaikan,  untuk mereka yang doa-doanya saling bertemu di langit sepertiga malam, untuk mereka yang menginginkan adanya kebaikan untuk oranglain, untuk mereka yang kuharapkan menjadi saudara dunia-akheratku 🙂

Mengingat Waktu Jatah Hidup

Aku cuma pengen ngingetin kembali tentang waktu. Mengingatkan buat temen-temen dan utamanya buat diri sendiri yang masih banyak khilafnya. Berapa sih waktu yang kita gunakan untuk bersantai-santai? Berapa waktu yang kita gunakan untuk beribadah? Berapa waktu yang terbuang sia-sia? Ibadah di sini dalam arti luas lho. Setiap kegiatan kebaikan yang kita niatkan karena Allah dapat bernilai ibadah. Ingat, apabila kita tidak dalam kondisi kebaikan, maka saat itulah kita berada dalam keburukan alias kesia-siaan. Karena kebaikan dan keburukan tidak akan berada dalam satu wadah dan satu waktu yang sama. Inget selalu hal itu, pikirkan kembali, apakah kita sekarang berada dalam kebaikan atau keburukan? Tanyakan pada hati nurani masing-masing, jujurlah pada diri sendiri. Kuncinya, banyak mengingat Allah, banyak mengingat mati. Orang cerdas adalah orang yang sering mengingat mati, karena pasti ia akan mempersiapkan bekal sebaik-baiknya, ia akan beramal sebanyak-banyaknya, ia akan menabung sedekah setinggi-tingginya, ia akan menebar kebermanfaatan seluas-luasnya, karena manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Kembali tentang waktu, sebenernya buat apa sih kita dikasih nyawa? Buat apa dikasih kehidupan? Tidak lain dan tidak salah lagi yakni buat beribadah kepada Allah. Maka pastikan setiap waktu dan kegiatan yang kita lakukan adalah dalam rangka beribadah kepada Allah. Belajar karena Allah, berkumpul dan bergaul dengan teman-teman karena Allah, yakni menyambung tali silaturahim, berorganisasi karena Allah, untuk membawa nilai-nilai Islam di sana. Apapun itu bisa bernilai ibadah. Tentu dengan tidak meninggalkan ibadah-ibadah pribadi, seperti sholat tepat waktu, sholat sunah diperbanyak, target tilawah diselesaikan, dzikir nya dirutinkan, baca bukunya dirajinkan, terutama buku-buku tentang pengetahuan islam dan sejarah rasul,  tabungan sedekahnya ditinggiin, karena hakekat harta kita yang sebenarnya adalah yang kita keluarkan untuk orang lain.

Ingat kembali waktu-waktu kita, waktu akan terus berjalan sangat cepat sekali dan meninggalkan siapapun yang bersantai-santai dan hanya melewatkannya saja tanpa ada tujuan yang jelas. Coba dilihat kembali, bagaimana kehidupan kita, bagaimana urusan-urusan kita, sudah tertata rapi kah? Sudah sesuai target kah? Atau hanya mengalir seperti air tanpa ada perencanaan. Apakah kegiatan yang kita lakukan sudah membawa kenyamanan dan ketenangan hati? Bisa jadi tidak beresnya urusan kita atau kosongnya hati kita adalah karena kurangnya interaksi kita sama Allah. Penuhi dulu hak-hak Allah, maka Allah akan memenuhi hak-hak kita. Kalo ibadahnya berantakan, pantes aja kalo hidupnya juga berantakan. Kalo Allah di nomorsatukan, insyaAllah kita juga bakal jadi nomor satu di semua urusan. Itu mah gampang buat Allah. Allah yang maha memudahkan segala urusan. Kuncinya, ya deketin Allah, usaha dan pasrah aja sama hasilnya, tawakkal lah dan yakin pasti dikasih yang terbaik. Barangsiapa yang mendekati Allah dengan berjalan, maka Allah akan mendekati kita dengan berlari. Ngga nanggung-nanggung ngasihnya.

Jadi, cek lagi amal yauminya ato amal hariannya. Pasang target harian dari sekarang, biar sedikit tapi dirutinkan itu lebih baik. Target tilawahnya berapa? Target solat sunah berapa? Target qiyamullail berapa? Target dzikirnya berapa? Kalo udah komitmen, mau sesibuk apapun, pasti diselesaikan dulu. Urusan yang lain aja bisa diberesin, masa urusan sama Allah ngga bisa beres? Kalo udah niat, insyaallah dimudahkan kok. Kalo udah punya target, kita bakal inget tuh kalo misal lagi ada waktu kosong di sela-sela kuliah ato kerja, pasti disempetin solat dhuha, sempetin baca quran, sempetin dzikir, sempetin murajaah. Mungkin kita pernah heran dengan temen kita yang lebih sibuk dari kita, tapi karyanya bisa lebih banyak, pengetahuannya lebih luas, ibadahnya lebih rajin. Padahal tugasnya sama, waktunya sama-sama 24 jam, makannya sama nasi juga. Lagi-lagi kuncinya di waktu, bedanya tentu dalam memanfaatkan waktu luang. Jangan sampai menyia-nyiakan waktu kosong, jangan mudah untuk membuang waktu dengan percuma. Meski cuma nunggu temen, nunggu dosen, nunggu bis, atau lagi naik motor, lagi naik angkot, jangan cuma dapet nunggunya, tapi harus lebih dari itu. Nunggu sambil murajaah, ato naik motor sambil istighfar. Bisa juga sambil baca buku, meski buku bacaan ringan, tetep aja bakal nambah pengetahuan. Kalaupun sambil ngobrol sama temen its okay, yang penting obrolannya bermanfaat dan bukannya nggosip. Ingat, kalau tidak dalam kebaikan, pastinya dalam keburukan. So, check it every time.

12:20 AM, 23 February 2016, @kamar4Rumaisha

TEKAD Perjuangan KAMMI

13321762_469727746554794_2136013615188488793_n

Tentang lagu “tekad” dari izzatul islam, mengingatkanku akan kenangan saat mengikuti DM 2 atau Dauroh Marhalah 2 KAMMI Semarang 2016. Terutama ketika selesai dilantik menjadi Anggota Biasa 2 atau AB 2 KAMMI, lagu ‘tekad’ menggaung di ruang aula Balai Transmigrasi Semarang. Ingat sambutan dari mbak-mbak, mas-mas, dan kawan-kawan yang telah terlebih dahulu menjadi AB 2 KAMMI Semarang, sambutan yang begitu hangat, sambutan kebahagiaan dan penuh haru, sambutan mbak-mbak kepada adiknya dan ucapan selamat, barakallah. Selamat telah menjadi penerus dakwah di kampus masing-masing, di fakultas masing-masing, di lingkungan masing-masing. DM 2 ini berlangsung selama 5 hari 4 malam dan menyentuh hari aktif kuliah. Kita sama-sama kuliah, sama-sama tahu kesibukan masing-masing, bahkan mbak-mbak dan mas-mas jauh lebih banyak urusannya dibandingkan kita, tapi mereka rela mengorbankan waktu, tenaga, uang, pikiran untuk melangsungkan salah satu agenda pengkaderan, yakni DM 2. Kalo kata mbak Marwah, “kaderisasi itu harga mati dalam organisasi”. Tetesan air mata haru dan kagum kepada panitia dan teman-teman tak bisa disembunyikan. Acara ditutup dengan saling berpelukan satu sama lain, saling mengingatkan kewajiban yang harus dilakukan selepas keluar dari ruangan itu, saling menyemangati, saling menguatkan bahwa kita ini adalah saudara. Tidak ada ikatan yang lebih kuat dari ikatan aqidah, kita adalah saudara dalam iman, saudara seperjuangan yang memilliki tujuan yang sama, yakni menegakkan agama Allah.

“Kami sadari jalan ini kan penuh onak dan duri

Aral menghadang dan kedzaliman yang akan kami hadapi

Kami relakan jua serahkan dengan tekad di hati

Jasad ini, darah ini, sepenuh ridho Ilahi“ -tekad-

Jelas tak akan ada yang sanggup bertahan di jalan dakwah yang menyita banyak hal dari diri ini, jika bukan karena iman yang kuat, maka mereka akan berguguran di tengah jalan. Kunci dari semuanya adalah keikhlasan, mengharap ridho dari Allah, mengharap imbalan dari Allah, berkorban hanya karena Allah. Tak ada imbalan, tak ada kenyamanan, yang ada adalah rasa bersyukur masih diizinkan berada di dalam barisan dakwah, rasa was-was apakah niat ini telah lurus, rasa takut apakah Allah menerima amalan ini, dan rasa persaudaraan yang didasari iman, saling percaya satu sama lain. Bukannya tak ada gesekan dalam perjalanan dakwah, tapi buat apa saling bermusuhan, bila kembalinya pun di barisan juang yang sama. Bukan jalan dakwahnya yang salah, tapi diri inilah yang sedang bermasalah. Cek kembali iman kita, cek kembali amal yaumi kita, cek kembali pintu maaf dan pintu lapang dada untuk saudara seiman.

“Ya Allah, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, hilangkan kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pendukung dari keluargaku, yaitu Harun saudaraku, teguhkanlah kekuatanku dengan adanya dia, dan jadikan dia teman dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada-Mu.” (QS.Thaha 25-33).

Mungkin kurangnya kita dalam meminta, meminta kebaikan dari yang Maha Baik. Kurangnya doa untuk diberikan kelapangan dada terhadap segala cobaan, untuk diberikan kemudahan di setiap urusan dan yang tidak kalah penting, berdoa untuk dikaruniai saudara seiman. Nabi Musa saja meminta saudara yang bisa meneguhkan kekuatannya, saudara yang bisa diajak berjuang untuk dakwah, saudara yang bisa menasehati dan menegur ketika berbelok ke jalan yang salah, saudara yang bisa mengajak untuk senantiasa beribadah dan memuji-Nya.

Untuk saudara-saudaraku seiman di seluruh pelosok negeri yang masih istiqomah berada di barisan dakwah, kita sama-sama tahu bahwa Allah tak akan menyia-nyiakan sekecil apapun pengorbanan yang dilakukan untuk menegakkan agama-Nya. “Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS.Muhammad: 7) Tetap semangat beruhul istijabah, semoga kita senantiasa dikaruniai hidayah dan keistiqomahan hingga husnul khotimah. Aamiin..

Selalu kagum kepada mereka yang tidak berhenti pada urusan diri sendiri. Selalu kagum kepada mereka yang menyempatkan waktu untuk berbagi segala hal melalui tulisan. Komitmen bukan terletak pada kata ‘sempat’, komitmen adalah tentang ‘menyempatkan’ pada suatu hal yang dianggapnya penting.

Semangat bertebaran di muka bumi 🙂

7 September 2016, 21:56 WIB @Kartasura

ESTINOV; Refleksi dari Buku yang Mengingatkanku Tentang Hakikat Kehidupan

11043282_815138085242297_3391763966139112249_n

Harus kukatakan, aku tak bisa menjawab spontan, karena aku lebih nyaman menjelaskan melalui tulisan. Harus kukatakan pula, aku bukan orang yang bisa berfikir cepat, apalagi mengkonsep dalam waktu singkat. Aku banyak pertimbangan, banyak pemikiran, banyak hal berkaitan yang membutuhkan analisa yang panjang. Seorang pemikir yang ingin memberikan kebermanfaatan dengan caranya.

Mengenai buku itu, buku yang berhasil membuatku terpaut sejak membaca judul dan pendapat singkat di cover belakang. Buku yang membuatku terpaku merenungkan apa hakikat kehidupan. Buku yang membuat air mataku tiba-tiba menetes ketika merasa dekat dengan mereka, merasa mengenal, membayangkan begitu indahnya ukhuwah itu, betapa besar pengorbanan mereka, ah terharu.

Kesan terhadap kisah nyata yang menceritakan tentang 2 orang luar biasa, mahasiswi kedokteran Undip yang meninggal ketika perjalanan pulang dari acara pelatihan yang diadakan FULDFK (Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Kampus Fakultas Kedokteran) di Purwokerto. 2 akhwat yang mengajarkan banyak hal kepada kita yang masih hidup, jejak-jejak kebaikan yang dapat kita ambil pelajaran. Jejak semangatnya, jejak keimanannya, amalannya, pribadi baiknya, cita-citanya, hingga goresan pena yang ia tuangkan di dalam blog pribadinya. Kesan baik akan selalu dikenang, kebaikan akan terus menular dan menjalar, hati yang terpaut karena iman akan selalu mendoakan, amalannya akan selalu didengungkan, hingga jejak-jejak itu akan senantiasa dikenang oleh orang-orang yang mengenalnya, yang telah hidup bersamanya, maupun generasi sesudahnya yang masih akan terus melanjutkan perjuangannya. Kagum. Minder. Dan harus banyak belajar memang.

Bagaimana kita hidup menentukan bagaimana kita mati. Dapat kurasakan betapa berartinya keberadaan mereka, betapa banyaknya kebaikan yang telah ditularkan, semua itu dapat terlihat jelas dari penuturan para sahabat, orang yang pernah berinteraksi dengannya, bahkan orang-orang yang baru saja mengenalnya. Dapat dibayangkan apa yang telah mereka lakukan sehingga doa dan ucapan bela sungkawa mengalir begitu derasnya, hingga teman-teman kuliah, teman-teman seperjuangan, para dosen, dekan hingga rektor pun ikut bertakziah untuk memberi penghormatan terakhir kepada almarhumah. Betapa kehilangannya mereka, namun keikhlasan segera menjadi tameng atas kesedihan yang mungkin akan berlarut-larut. Kesadaran bahwa bersaudara karena iman akan mempertemukan mereka di surganya kelak, bahwa raga yang telah tiada bukan berarti jiwa mereka mati, mereka akan tetap hidup di dalam hati setiap jiwa yang telah tersirami oleh inspirasi kebaikan yang ditebar olehnya, bahwa bibit-bibit itu akan terus berkembang dan menghasilkan buahnya. Bahwa Allah telah menjanjikan surga bagi mereka yang saling mencintai karena-Nya, hingga Rasul dan para sahabat pun dibuat cemburu karenanya.

Di usia yang masih belia, mahasiswi semester 3, telah begitu banyak yang mereka lakukan, menjadi relawan di banyak bencana alam, menjadi sahabat yang menyenangkan bagi banyak orang, menjadi kakak dan adik yang baik, menjadi orang yang mengorbankan waktu, harta dan tenaganya untuk umat, hanya inginkan kebaikan bagi orang lain, bahkan lebih mementingkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Betapa kerdilnya aku, betapa tak ada apa-apanya, betapa masih minim pengetahuan dan amal, betapa sakitnya hati yang masih banyak ingin dipuja sana-sini, astaghfirullah, luruskan ya Allah.

Betapa dekatnya kematian itu, kematian adalah nasehat terbesar yang Allah peringatkan kepada kita. Tak bisa ditawar-tawar lagi apabila detak waktu itu telah habis. Ya, kematian. Hal yang sedikit diingat oleh kebanyakan kita, atau bahkan berusaha untuk dilupakan. Bekal apa yang telah kupersiapkan ya Allah? Apa yang akan menjadi argumen ketika Allah langsung yang akan bertanya? Kebaikan apa yang telah kusebar dan kutanam? Bentuk pengorbanan seperti apa yang sudah kukorbankan? Cahaya apa yang telah kupancarkan untuk orang-orang di sekitar? Ingin menangis karena jawabannya adalah belum ada ya Allah. Padahal kita tak tahu tinggal berapa jam lagi jatah kita, bahkan menit, bahkan detik. Waktu itu misteri tapi kematian itu pasti. Apa lagi yang ditunggu? Kereta itu akan segera tiba di pemberhentian terakhir, dan kematian demi kematian adalah alarm peringatan akan sampainya kereta ke stasiun berikutnya, tak lama lagi. Kematian itu misteri, dan misteri adalah sebentuk karunia yang Allah berikan agar kita senantiasa berbenah. Tak diragukan lagi, orang mukmin bukanlah mereka yang menginginkan kematian, karena masih terus ingin menebar kebaikan, menyelesaikan tugas dakwah yang tak akan pernah usai, namun mereka adalah orang-orang yang merindukan kematian, rindu untuk segera bertemu dengan kekasihnya di surga, yakni Allah ta’ala. Begitulah Allah menggariskan, maka bersiap-siaplah. Siaplah untuk dicabut nyawamu setiap waktu.

Ya Allah, aku ingin mati dalam khusnul khotimah. Aku ingin dapat mencintai dan dapat bersama mereka yang mencintai-Mu dan Engkau cintai, di dunia maupun di akherat. Meski aku masih jauh dari kebaikan dan tingkat keimanan mereka, tapi kumpulkanlah aku bersama mereka karena aku mencintainya, karena di akherat akan Allah kumpulkan dengan siapa yang dicintai hamba-Nya ketika di dunia. Tunjukilah kami jalan yang lurus dan ingatkanlah kami ketika lalai. Mudahkan kami dalam sakaratul maut, jauhkan kami dari siksa kubur dan api neraka, masukkanlah kami ke dalam surga-Mu… Cintailah yang pantas engkau cintai kawan, bersama siapakah kau ingin dipersatukan  di akherat kelak ?

Buatlah bidadari surga cemburu padamu. Orang dilihat dari akhlaqnya. Akhlaq adalah kebiasaan yang muncul secara spontan, akhlaq adalah segala yang tampak dari perbuatan dan perkataan seseorang. Akhlaq adalah pancaran jiwa. Akhlaq adalah buah dari keimanan. Fastabiqul khoirot, berlomba-lomba dalam kebaikan. Ingin diri ini bisa berguna, bisa memberikan banyak kebermanfaatan. Apa yang kulalui akhir-akhir ini memberikan peringatan bahwa beginilah kondisi umat saat ini, inilah gambaran kecil dari besarnya tugas yang menanti untuk diselesaikan. Allah, kuatkan aku beserta kawan-kawan seperjuangan untuk dapat melewati ujian dan tugas dakwah yang menanti. Mudahkan dan tuntun kami untuk bisa memberikan perbaikan sedikit demi sedikit, jadikanlah kami sebagai pembuka hidayah bagi mereka. Bukan hasil akhir yang Allah nilai, karena Allah pun sudah pasti tahu hasilnya, tapi proses kita dalam menebar kebermanfaatan dan kebaikan kepada orang lain lah yang Allah lihat. Ingat, kematian sudah dekat. Kalau kata teman dari keperawatan, di ICU itu kematian berasa sudah melayang-layang di dekat kita, sudah mengelilingi di sekitar kita, tinggal menunggu waktu mencabutnya saja, karena hampir setiap hari ada yang meninggal tanpa kenal usia. Bantu aku untuk mempersiapkan saat-saat itu ya Allah, bantu keluargaku, saudara-saudaraku, dan teman-temanku dalam menghadapinya pula, mudahkan kami ya Allah. Mudahkan kami..

9 Februari 2017, 12:12 AM dini hari @Bandarjo

Saudara Terbaik; Saudara Aja Tanpa Butuh Penjelasan Apa-apa

indahnya-ukhuwah

Aku senang mendapatkan saudara-saudara seiman, saudara-saudara yang bersedia bekerja bersama, saudara yang dengan iman dipersaudarakan, dalam ketaatan dipertemukan, saudara yang saling memahami meski tanpa penjelasan, saudara yang ikhlas memberi meski tidak diminta, memberi dengan harapan kebahagiaan saudaranya adalah kebahagiaannya juga, sungguh, aku menyayangi kalian karena Allah, hanya ingin kebaikan terlimpahkan kepada kalian, ingin keberkahan dicurahkan kepada kalian beserta keluarga kalian. Aku sayang kalian karena kalian yang telah menunjukkan banyak kebaikan, kebaikan yang sangat merubah hidupku, kebaikan yang menuntunku untuk semakin dekat kepada Allah. kalian yang senantiasa mengingatkan, menasehati bahkan menegurku karena kalian sangat-sangat menginginkan kebaikan untukku. Aku sungguh tak tahu bagaimana bisa membalas kebaikan kalian, hanya ingin dan terus berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, hanya ingin dapat membantu kalian sebisa yang kulakukan, hanya bisa mengirim doa-doa di sela-sela kerinduan itu. Aku sangat senang jika kalian bersedia mendoakan setiap keperluan yang akan kulalukan, dan akan lebih senang lagi ketika kalian meminta doa kepadaku jika ada keperluan yang akan kalian selesaikan, meski tanpa diminta pun insyaallah akan tetap aku doakan.

Aku percaya dengan kalian karena kalian yang telah memberikan kepercayaan yang lebih besar kepadaku dengan mengabarkan tentang banyak hal mengenai kehidupanmu, meski aku sendiri terheran-heran, mengapa bisa sepercaya itu kalian padaku? Kepada aku yang tak pernah cerita apapun, aku yang selalu menutup rapat cerita hidupku, aku yang tak mau seorangpun tahu, kepadaku yang tak bisa memberikan apa-apa, bahkan hanya dapat tersenyum simpul ketika kalian mintai pendapat atau nasehat tentang suatu masalah yang kalian hadapi. Tapi itulah yang membuatku mencintai kalian, kalian yang mau mengisi hidupku dengan kabar kebahagiaan ataupun kabar kesedihan yang membuat diri ini selalu introspeksi tentang rasa syukur. Sungguh, aku mencintai kalian karena Allah. Merasa berat apabila harus meninggalkan ataupun ditinggalkan oleh kalian yang telah mengisi banyak waktu dalam hidupku, waktu yang meski baru sebentar apabila dihitung dari keseluruhan usia kita, namun waktu yang sangat memberikan kesan dan dampak yang besar untuk diriku, aku bahagia mengenal kalian, sangat sangat bersyukur bisa menjadi saudara kalian di dunia dan berharap menjadi tetangga kalian di surga kelak.

Aku senang berlama-lama bersama kalian, karena keimananmu, karena kasih sayangmu, karena Allah yang telah mempersatukan hati kita hingga rasa nyaman dan aman selalu menghiasi setiap pertemuan-pertemuan kita. Aku ingin kita dapat menjadi manusia-manusia yang Rasul dan para sahabatpun cemburu kepadanya, karena Allah akan memberikan cahaya yang memancar di surga kelak kepada orang-orang yang saling mencintai karena Allah. Meski aku tak sebaik kalian, meski diri ini masih jauh dari amalan-amalan kalian, meski harus berlari ketika ingin sepadan dengan tingkat keimanan kalian, meski ilmu ini tak akan sebanding dengan ilmu kalian, tapi aku senang bersama kalian, karena aku berharap, Allah akan mengangkat derajatku bersama kalian, kalian yang aku cintai karena Allah, kalian yang dari segi apapun jauh diatasku, hanya berharap Allah mengumpulkanku bersama kalian karena di akhirat, Allah akan mempersatukan setiap insan dengan siapa yang mereka cintai ketika di dunia.

Sungguh, aku kagum kepada kalian, kalian lah guru-guru kehidupan dunia dan akheratku, kalianlah alarm kebaikanku, kalianlah satpamku dari berbagai peluang maksiat yang hadir di depan mataku, kalian lah pemompa semangat juangku, dari kalian aku banyak sekali belajar. Belajar ketulusan, belajar mencintai ilmu, belajar berkorban, belajar ikhlas, belajar menghargai setiap nasehat dan belajar menggapai hikmah di setiap kejadian yang menimpaku. Kalian yang telah membantuku di kala susahku, kalian yang senantiasa akan kukabarkan pertama kali ketika datang kabar baik itu, kalian yang menjadi tempat berkeluh kesahku, kalian yang selalu mendorongku ketika butuh kemantapan hati untuk berbuat sesuatu, kalian yang memberikan senyuman terbaik ketika aku jatuh, kalian yang dengan cara kalian masing-masing telah memberi kebahagiaan di sisa umurku, kalian yang sangat memahamiku, bagaimana membuatku bergerak, membuatku bangkit, membuatku dapat kembali tersenyum ceria, membuatku mengubah sudut pandang agar selalu berfikir positif. Aku kagum kepada kalian yang telah berkali-kali menegurku bahkan memarahiku demi kebaikanku, kagum karena dengan cara kalian aku tak pernah terbersit sedikitpun rasa sakit hati karena itu, teguran yang cukup membuaatku berfikir dan introspeksi diri, bukan malah sakit hati ataupun dendam. Kalian yang telah mengajarkanku banyak hal, padahal aku tak bisa memberikan apa-apa. Maafkan aku yang belum bisa menjadi saudara terbaikmu, maafkan aku yang masih banyak salah, aku yang tak jarang tidak peka untuk membantu, aku yang belum bisa membalas kebaikanmu. Satu hal mimpiku, aku ingin kita berkumpul kembali di rumah ukhuwah di jannahNya. Aamiin. Untuk ketiga orang yang aku berharap kalian bisa menjadi saudara dunia akhiratku. Untuk ketiga orang saudaraku yang insyaallah doaku selalu mengalir untuk kebaikan kalian di manapun kalian berada. Sayang kalian karena Allah.

3:23 PM, 8 Februari 2017 @Bandarjo

Apa Definisi CINTA Menurut Kalian?

11866207_906097766103632_4956429031743829042_n

Efek nih efek, efek melakukan perjalanan panjang dan semobil dengan orang-orang yang tak henti-hentinya bicara tentang cinta. Akhirnya terbersit juga pikiran, apa sih cinta? Apa artinya cinta bagi kalian? Cinta, kata-kata yang sejak dahulu hingga kini tak pernah bosan orang memperbincangkannya, seakan tak ada kadaluarsanya. Pastilah cinta memiliki arti masing-masing di hati kalian, memiliki definisi masing-masing, hingga memiliki impian masing-masing terkait siapa yang berhak mendapatkan cinta terbesar dari kalian. Okay, itu hak setiap orang untuk menjawabnya, dan ngga ada jawaban yang salah. Itu hak pribadi kalian, hehe..

Begitupun aku, hanya ingin menyampaikan pendapatku, hanya ingin berbagi cerita, hanya ingin berbagi pandangan, monggo setuju ataupun engga itu ngga masalah, karena ngga ada yang benar ngga ada yang salah, yakin deh, masing-masing individu memiliki persepsi yang berbeda-beda mengenai cinta.

Cinta, definisi cinta dalam pandanganku adalah memberikan apapun yang diminta tanpa nanti tanpa tapi. Kalo udah cinta, buktinya ya memberikan “apapun”, apapun itu. Kenapa tanpa nanti? Ya karena kalo pake nanti-nanti, berarti ada yang didahulukan, berarti ada yang lebih penting, berarti ada yang lebih dicintai. Iya ngga? Nah, makanya menurutku cinta itu ada tingkatannya, ada prioritasnya. Dan yang lebih penting, jangan sampai salah dalam meletakkan tingkatan cinta. Tingkatan pertama, ya jelas dan so pasti lah, harus memberikan cinta terbesar kita buat yang menciptakan kita, Allah swt, yang telah mengizinkan bahwa kita ada, dan masih mengaruniai rasa cinta di hati kita, sehingga hatinya ngga kaku, hehe. Allah yang masih mengembalikan nyawa kita di pagi hari tadi untuk hidup kembali, bayangkan aja kalo semalem tidurnya bablas, bisa-bisa aja kan? Nah, cinta sama Allah ini bisa ditunjukkan dari seberapa penting Allah buat kita, seberapa besar usaha kita untuk menjalankan apapun yang diminta sama Allah. Kalau Allah minta buat lakuin suatu kewajiban ya lakuin, kalo Allah minta buat jauhin sesuatu ya jauhin sejauh-jauhnya. Setelah cinta kepada Allah adalah cinta kepada Rasulullah, beliaulah yang menunjukkan cara-cara kita untuk mencintai Allah, beliau yang menjadi teladan kehidupan, beliau yang betapa inginnya kita bisa selamat dunia dan akherat. Nah, karena cinta itu butuh bukti, maka buktikan. Dari yang paling simple aja, seberapa penting sholat itu buat kamu? Sholat itu tiang agama, kalo beres sholatnya, insyaallah beres kehidupannya, karena Allah yang maha membereskan urusan dan maha merumitkan pekerjaan. Kalo panggilan adzan masih kalah penting sama bales chat, nonton drama, ngumpulin uang, ngerjain laporan, masuk kuliah, panggilan orangtua, panggilan dosen, bahkan panggilan presiden, yaaa tunggu aja tanggal mainnya, hehe.. *masih muhasabah diri juga terkait hal ini. Nah, kalo Allah udah diletakin yang paling atas, maka permintaan siapapun yang melanggar permintaannya Allah, ya pasti bakal kita buang, siapapun itu yang minta, orangtua sekalipun. So, sekali lagi, cinta itu butuh bukti guys.

Cinta kedua, cinta keduaku diperuntukkan buat kedua orangtua. Kenapa? Karena ngga ada yang memastikan aku bisa tumbuh sebesar ini kalo bukan karena perlindungan orangtua. Dari bayi kalau ngga ada yang kasih minum dan suapin, mana bisa segede ini. Dari bayi kalo ngga digendong, diselimutin, ditatih jalan, dilindungi dari semua gangguan, ya mana mungkin sehat wal’afiat sampe sekarang. Orangtua yang lihat aku nangis aja enggan, yang aku digigit nyamuk aja ngga tega, apalagi lihat aku jatuh sakit atau terantuk meja ketika berlatih jalan. Belum bisa bayangin gimana perjuangan mereka cari uang buat aku bahagia dan tercukupi semua kebutuhanku. Baru coba cari uang sedikit aja udah susah banget rasanya. Cita-citaku pengen terus berusaha buat berbuat baik, supaya pahalanya pun bisa mengalir ke orangtua, pengen jadi hafidzah (malu sih nyebutnya, masih jauuuh), biar bisa memakaikan mahkota dan jubah indah di surga, dan pengen sukses jadi orang yang mampu, mampu dari segi ilmu dan kapasitas serta mampu buat hajiin orangtua, mampu bangun masjid, mampu bangun sekolahan, dan mampu membahagiakan banyak orang.

Cinta ketiga, cinta buat keluarga tentunya, ada adek, om, tante, pakde, bude, sepupu, dan simbah (nantinya ada juga suami dan anak-anak, insyaallah ^-^). Kita harus mendahulukan keluarga terlebih dahulu apabila ada keluarga yang masih kekurangan, sebelum membantu yang lain. Bukan menutup kemungkinan buat membantu yang lain, tapi perhatikan dulu keluarga. Keluarga di sini adalah keluarga yang Islam dahulu, karena persaudaraan tertinggi adalah persaudaraan karena iman. Kita juga diperintahkan untuk memerintahkan keluarga kita agar menegakkan sholat serta menjauhkan keluarga dari api neraka. Maka berusaha menyampaikan ilmu yang didapatkan atau nasehat kebaikan itu juga perlu untuk keluarga kita. Memang tak mudah, tapi bukan tak mungkin kan?

Cinta keempat adalah cinta kepada saudara sesama muslim dan kemudian kepada teman-teman kita lainnya. Karena kewajiban seorang muslim adalah berbuat baik kepada siapapun itu, kepada sesama manusia tanpa melihat apapun suku, bangsa bahkan agamanya sekalipun. Nah apabila dalam Islam, ada 6 hak dan kewajiban yang harus dilakukan seorang muslim terhadap muslim yang lain, yaitu Rasulullah Saw bersabda: “Hak seorang Muslim atas Muslim lainnya ada enam: (1) Jika engkau bertemu dengannya, maka ucapkan salam, dan (2) jika dia mengundangmu maka datangilah, (3) jika dia minta nasihat kepadamu berilah nasihat, (4) jika dia bersin dan mengucapkan hamdalah maka balaslah (dengan doa: Yarhamukallah), (5) jika dia sakit maka kunjungilah, dan (6) jika dia meninggal maka antarkanlah (jenazahnya ke kuburan).” (HR. Muslim).

“Cinta=memberikan apapun yang diminta tanpa nanti tanpa tapi”

Sekian pemaparan definisi cinta menurut pendapatku, nah gimana definifi cinta menurut kalian?

Kartasura, 27 Februari 2017, 01:39 AM