Fenomena Anak Kader

Mereka bukan hanya katanya, tapi telah menjalaninya. Bahkan mereka liqo sejak dalam kandungan. Melihat langsung bagaimana peta kehidupan dakwah terus berjalan. Bahkan telah menjadi rutinitas mereka mendengar kajian dan taujih tiap minggunya, sudah ikut mengisi taklim dimana-mana. Sudah termindset bahwa suatu saat aku akan seperti umi. Mungkin ada ketakutan, pantaskah? Bisakah? Mungkinkah? Tapi seiring berjalannya waktu, semua pun akan terjawab dengan sendirinya. Tak perlu penjelasan apa-apa, mereka sudah mengerti bahwa kegiatan pada tahap selanjutnya adalah melanjutkan. Sudah secara sadar bahwa aku adalah anak kader. Umi abi selalu sibuk kemana-mana dengan berbagai agenda dakwahnya. Meskipun belum mengerti, tapi mereka menyaksikan dengan penuh perhatian bagaimana membagi waktu antara keluarga dengan dakwah. Di situ mereka belajar.

Bukannya tak mau liqo, hanya saja wajarlah jika kebosanan melanda, maklum udah liqo dari kandungan. Bukannya anti, tapi merasa haruskah aku juga menjalani hal yang sama persis seperti umi. Menghadapi anak kader tidak perlu banyak diceramahi, karena mereka sudah tau. Hanya perlu dicarikan solusi untuk kebosanan yang hinggap sejenak, berilah mereka ruang untuk mengemukakan pendapatnya, berilah mereka kesempatan untuk membuat kreasi baru dengan liqo yang tidak monoton. Harus ada yang berubah, harus ada inovasi-inovasi baru.

Ketika orangtua sibuk dengan amalan yang tak ada habisnya, lama-kelamaan mereka akan mandiri. Hanya saja orangtua tak boleh luput dari mengawasi mereka, karena tugasnya adalah membimbing, mengingatkan dan mendoakan saja.

00:29 WIB, 31 Juli 2017 @khalila

Seberapa pentingkah Al-Qur’an di hati kita?

Bukti keimanan adalah kedekatan dengan Al-Quran

Tugas Allah untuk mengaruniai hafalan, maka mintalah sama Allah

Kecintaan kita kepada Al-Quran lah yang membuat kita mau belajar Al-Quran sesuai tajwid, dan ini butuh guru, butuh talaqqi

Cari orang yang bisa memperbaiki bacaanmu. Membaca sesuai tajwid itu hukumnya wajib!

Jangan ragu dan malu untuk belajar Al-Quran, mumpung masih diberi hidup

Bacaan Al-Quran itu menguatkan jiwa & mengokohkan jiwa

Al-Quran adalah senandung di surga, naiklah sesuai hafalanmu

Cari iklim yang memberi komitmen untuk Al-Quran

Al Qur’an itu tabungan pahala dengan mengulang 40x. Kuncinya istiqomah dan disiplin waktu. Harus ada jam berapa sampe jam berapa untuk menghafal. Kalau melanggar harus mengganti dengan waktu yang lebih banyak. Manajemen waktumu dengan Qur’an, pasti nanti Allah mudahkan urusan dan rezekinya. Kalau bisa manajemen waktu dengan Qur’an, pasti bisa manajemen waktu untuk urusan lainnya.

Sesibuk apakah kita dengan para sahabat dan orang-orang soleh? Dengan orang yang istiqomah setoran meski anaknya banyak?

Harus ada waktu hafalan dan murojaah. Murojaah bisa sambil jalan kok. Komitmennya itu di hafalan.

16 Juli 2017 @hafshah
Dari berbagai sumber

 

Orang Muttaqin, Ramadhan Bulan Perubahan

Konsisten amalannya, ciri orang muttaqin. Dalam keadaan berat atau ringan. Apapun yg dibilang Al Qur’an langsung dilakukan tanpa ragu ragu. Samina wa atona.

Mendirikan sholat, sholatnya menjadi penjaga dirinya dari kemaksiatan. Konsisten solatnya, khusyu, dan menjaga nilai2 manfaat sholat. Sholat yang hanya sebagai rutinitas, tidak ada artinya di hadapan Allah. Sholatnya tidak berefek pada kehidupan sehari-hari nya.

Kalo terbiasa infaq, nanti lama2 jadi karakter yg suka bagi2 ke temen. Pasti duluan bayarin, pasti duluan beliin makanan temennya. Kalo terbiasa memberi, nanti tubuh akan mengeluarkan hormon kebahagiaan. Cukup diulang2 aja meski belum dengan jiwa, karna Allah tau manusia suka harta. Derajat kita turun kalo sampe dibayarin, maka bales lah.

Menahan amarah bagi orang muttaqin sudah menjadi jiwanya, memberi maaf harus menjadi jiwanya. Kita sudah berapa kali marah dalam seminggu?

Positif thingking, Allah sudah menjaminnya pasti ada jalan keluar bagi siapa yg bertaqwa. Pasti, janji Allah. Orang muttaqin itu selalu optimis. Min haitsulayah tasib.

Kalo hidup bersama Al Qur’an itu tenang, karna yakin Allah akan memberi kemudahan urusan kita dan memberi rezeki yg tak disangkanya.

Kehidupannya lebih baik sampai wafatnya: ciri lailatul qadar.

@masjid fatimah solo, 20 juni 2017, 25 ramadhan 00:49

 

Antara Beramanah dan Godaan Menjadi Biasa Saja

Godaan terbesar aktivis dakwah adalah menjadi orang biasa. Itu memang benar adanya. Godaan untuk menjadi orang biasa saja, toh juga tidak mengganggu atau menghalangi kerja dakwah. Kenapa harus berjuang di lembaga? Kenapa harus aku? Kenapa harus ini dan itu? Kenapa harus berada di sini? Pertanyaan-pertanyaan yang tak jarang menghampiri. Pertanyaan yang sebenarnya kita sendiri mungkin sudah mengerti jawabannya, tapi terkadang terlalu lelah untuk berusaha memahami dan membukakan hati untuk menerima segala resiko yang pasti akan datang. Pertanyaan yang bisa menjadi bumerang apabila tidak kuat menanggungnya.

Memilih untuk menyingkir sedikit demi sedikit dari amanah. Ingin merasakan sehariii saja bebas dari semuanya. Memang rasa futur, bosan, malas itu pasti menghampiri, tinggal bagaimana tingkat kedewasaan kita dalam mengolah hati. Sikap paling minimal apabila hal itu terjadi adalah tidak meninggalkan kewajiban-kewajiban dakwah, meski dengan berat hati menjalaninya. Tapi paling tidak, kita tetap berada dalam lingkaran kebaikan dengan orang-orang yang insyaallah juga baik.

Senantiasa berterimakasih kepada Allah atas rezeki amanah yang masih menjaga kita dari segala keburukan yang mungkin kita lakukan apabila sedang tidak mengemban amanah ini. Amanah datang karena Allah sayang, Allah masih percaya dan hal itu yang membuat orang-orang di sekitarmu pun percaya bahwa kamu mampu. Amanah datang untuk menjagamu agar selalu dalam kondisi baik dan mau belajar menjadi lebih baik. Amanah menghindarkan kita dari pikiran yang tidak baik dan perbuatan yang tak bermanfaat. Amanah merupakan ladang amal yang memberi keuntungan dunia akherat insyaallah.

So, bersyukurlah dengan amanah yang masih Allah percayakan kepadamu 🙂

(29 Mei 2017, @hafshah)

Tentang Negeri Syam dan Pengorbanan Rakyat Palestina

Tadi dengerin taujihnya syeikh dari palestina itu ngejleb banget. Awalnya ngomong tentang sholat. Trus ditanya, di masjid sebesar ini ada ngga yang paham arti dari surat yang dibaca ketika tarawih tadi? Ada ngga minimal 50% yang paham artinya? Sangat prihatin apabila seorang muslim ngga paham apa yang ia baca dalam solat atau yang imam baca dalam solat. Di indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia, tapi tidak paham Al-Quran, itu adalah kekurangan yang tak boleh dibiarkan begitu saja, harus ada usaha untuk memperbaikinya. Ketika bisa membaca Al-Quran dan mentadabburinya itu sangatlah indah dan nikmat. Jadi, minimal ada niatan untuk belajar bahasa arab, karena Islam diturunkan dengan Al-Qur’an dan Hadist, maka tidak akan bisa belajar Islam dengan sempurna tanpa bahasa arab. Bahasa arab dan Islam itu sangat berkaitan.

Trus ngomongin mukmin, jadilah mukmin yang sebenar-benarnya sebagai pemancing Allah dalam menurunkan pertolongannya. Karena Allah berjanji barang siapa menolong agama Allah, maka Allah pun akan menolongnya. Mukmin yang tidak hanya belajar solat dan hadist saja. Mukmin yang tidak hanya memikirkan diri sendiri. Mukmin yang terus memperbaiki diri dan menambah kapasitas diri. Dengan menjadi seorang mukmin yang benar saja, meski belum melakukan apa-apa, belum berkorban apa-apa, Allah akan menurunkan pertolongannya karena niat kita yang sudah ada di dalam hati.

Bicara tentang ramadhan, persiapan sebelum ramadhan adalah meninggalkan yang haram, seperti ghibah bohong mencuri. Setelah ramadhan datang, kita meninggalkan yang halal. Mungkin banyak kegiatan yang halal di bulan ramadhan, tapi kita harus berusaha melawan hawa nafsu kita untuk melakukan yang lebih bermanfaat dari itu. Misal tidur, berbincang-bincang, nongkrong, dll. Usahakan waktu itu tidak terbuang sia-sia.

Beralih ke negeri syam. Kenapa orang-orang yahudi memusuhi islam? Kenapa negara-negara yang diserang adalah negara Islam? Karena mereka takut akan kebangkitan Islam kembali. Karena apabila sistem Islam yang telah digunakan, maka semua orang akan beralih kepada Islam, sistem terbaik yang pernah ada. Mereka takut akan kehilangan kekuasaannya, maka mereka memecah belah negara islam. Tapi ketika palestina diserang, mana tentara-tentara negara islam dunia? Tak ada yang turun tangan terhadap palestina. Apakah kalian tidak takut akan pertanyaan Allah di akhirat kelak? Sebagai seorang muslim terhadap muslim lain itu satu tubuh, apabila ada yang sakit, maka semuanya akan merasakan sakit. Apakah sudah ada rasa sakit itu kita rasakan? Apakah bisa-bisanya kita tidur nyenyak sementara saudara kita di palestina untuk makan saja meminta izin kepada ustadz nya untuk memakan anjing dan kucing, bahkan mereka menanyakan apakah sah puasanya yang ketika buka hingga sahur tak menemukan makanan apa-apa.

Allah menyebutkan dalam Al-Quran bahwa untuk berjihad bisa dengan harta atau raga. Apabila Allah menguji mereka di gaza dengan perang, maka jihad raga adalah yang bisa mereka lakukan. Sedangkan kita di Indonesia, yang diuji dengan kenikmatan aman sejahtera sentausa, apakah masih bisa berjihad dengan harta? Apakah masih ingat dengan saudaranya di sana? Karena sebelum berjihad dengan raga, maka ujiannya adalah jihad harta. Apabila harta saja enggan, bagaimana bisa mengorbankan nyawa? Maka setidaknya pernah terbesit pikiran kita untuk turut sedih melihatnya, hati kita berontak terhadapnya, turut membantu dengan harta, dan masih teringat mereka dalam doa-doa kita. Dan setidaknya ada keinginan untuk membantu berjihad ketika ada kesempatan datang. Setidaknya kita tidak meninggal dalam keadaan jahiliyah karena belum pernah bercita-cita untuk berjihad membantu saudara kita. Setidaknya ada alasan di hadapan Allah nantinya bahwa kita pun menginginkannya.

Gaza adalah penjara terbesar di dunia dengan tembok tinggi di sekelilingnya. Mereka tak boleh keluar dan orang luar tak boleh masuk memberikan bantuan. Maka jadilah mereka sendiri yang berusaha untuk mempertahankan masjidil aqsa, sebagai orang yang tinggal disana, mereka merasa berkewajiban untuk mewakili umat muslim dunia untuk mempertahankan kiblat pertama umat muslim. Dan faktanya, tentara yahudi sangat pengecut, mereka hanya berani melawan wanita dan anak-anak saja, tapi tak berani berhadapan langsung dengan mujahid palestina, mereka hanya berani melawan dari balik tembok dan dengan senjata bom jarak jauh.

Dan ketika seluruh maskam diminta untuk takbir penyemangat jihad, maka syeikh itu bilang, suara takbir anak-anak palestina bahkan lebih menggemparkan. Sedih 😦

Notulensi kajian tarawih Ramadhan, 2 Juni 2017 @Masjid Kampus Undip

Hormatku terhadap wisma :)

Terhadap wisma 🙂

Wisma adalah yang membentuk aku sampe bisa seperti sekarang. Hutang budi yang ngga akan terbalas sampe kapanpun terhadap wisma dan semua mbak-mbak wisma yang terus berusaha mendewasakanku. Terimakasih yang ngga akan pernah cukup terucapkan. Pokoknya sangat bersyukur dipertemukan dengan orang-orang yang luar biasa keikhlasannya di wisma tercinta. Tak terhitung pengorbanan mbak-mbak wisma buat aku yang ngga bisa bales apa-apa ini. Semoga Allah membalas dengan balasan yang terbaik.

Ngga akan mau mereka capek-capek ngurusin aku yang susah diatur dan banyak maunya. Ngga akan mau mereka nasehatin aku berkali-kali dengan sabarnya. Ngga akan mau mereka panas-panasan di tengah lautan orang yang sedang verifikasi maba untuk mengajak tinggal di wisma. Ngga akan mau mereka lebih mementingkan melayani adik-adik mabanya daripada belajar di tengah hari menjelang ujian akhir semester. Ngga akan mau mereka melakukan itu semua kecuali hanya karena Allah 🙂

Subhanallah atas pengorbanan dan keikhlasannya. Alhamdulillah, Allah-lah yang telah mempersatukan hati kita. Jika tanpa cinta, maka tak akan tercipta berbagai pengorbanan itu. Dan cinta utama mereka adalah cinta kepada Allah. Cinta yang membuat mereka menutup mata akan berbagai kesalahanku dengan membuka pintu maaf sebesar-besarnya.

Flashback zaman maba membuatku berfikir, tak ingin kebaikan dan kebahagiaan yang telah Allah limpahkan kepadaku melalui mbak-mbak wisma terhenti sampai disini saja. Tak ingin hanya cukup aku yang berbahagia, tapi ingin terus berusaha meneruskan perjuangan mbak-mbak wisma. Mereka sungguh tak mengharapkan imbalan sepeserpun dariku, hanya satu yang mereka inginkan, supanya kebaikan ini terus menyebar dan menjadi amal jariyah mereka. “Pay it forward” itulah yang mereka harapkan, bayarlah kebaikan-kebaikan yang telah mereka lakukan kepadaku dengan cara melakukan hal serupa terhadap adik-adik maba selanjutnya.

Bukan dosen, bukan orangtua yang nun jauh di sana,  bukan temen-temen angkatan, bukan kawan-kawan organisasi, bahkan bukan murobbi yang bertemu sepekan sekali, jujur bukanlah mereka yang mengubahku, tapi mbak-mbak wisma yang telah menjadi murobbi sejati bagiku. Tidak maksud menghilangkan peran yg lain, hanya saja pengaruh terbesar menurutku adalah lingkungan wisma. Mbak-mbak wisma yang selalu ada untuk setiap kesulitan, yang selalu mengawasi dan menasehati, yang sangat tahu kekuranganku dan berusaha memperbaikinya, yang tak segan untuk marah kalo memang aku salah, yang tak bosan mengajak kajian, yang menjadi teman diskusi atas segala pertanyaan, yang mengajarkanku banyaaak hal kebaikan. Aku sayang kalian karena Allah :*

Berterimakasih tak terkira buat mbak yang telah berhasil menemukanku, mbak tersayang Linda Karlina 🙂 dan buat semua mbak yang pernah menorehkan kenangan serumah dengan orang yang banyak kekurangan ini. Maafkaaan..

Tembalang, 16 Mei 2017, 15:38 PM
-Mengingat 4 tahun yang lalu-

SEMESTER 7-Muhasabah Diri

Sekarang 2 Januari 2017, setahun baru saja berlalu, dan telah tergantikan dengan datangnya tahun baru, 2017. Seiring itu, satu semester pun telah usai pula kulalui, semester 7, semester yang terasa begitu cepat berlalu, semester yang dulu masih belum terbayangkan dan terasa masih sangat jauh, kini baru saja terlewati. Tentu banyak kebahagiaan di semester ini, banyak kenangan, banyak sukanya juga, dan banyak pelajaran baru yang didapat, tapi yang pasti juga ada kegundahan, kesedihan, kegalauan, ketakutan yang alhamdulillah bisa terlewati. Banyak orang yang telah membersamaiku satu semester ini, orang-orang baru ataupun teman yang sudah kukenal sebelumnya, yang jelas semuanya punya peran, semua telah memberikan sebagian waktunya untukku, semua telah menghadiahkan peran terbaiknya masing-masing. Sebelumnya, terimakasih banyak untuk semua orang yang telah turut mewarnai hari-hariku di semester 7, kalian sangat berarti, kalian banyak memberi pelajaran berharga.

Waktu terkadang terasa sangat lambat, tapi di lain waktu terasa sangat cepat berlalu. Memang kita sering tertipu dengan waktu, terlena, dan akhirnya baru tersadar ketika semua telah usai, dan penyesalan selalu datang di akhir, bahwa ternyata kita belum melakukan apa-apa. Astaghfirullah L Begitu pula yang kurasakan, ketika proses demi proses itu dilalui, rasanya lama dan banyak kegalauan serta ketakutan yang menghampiri, ingin cepat selesai saja. Tapi Alhamdulillah ada saudara-saudara yang senantiasa mengingatkan untuk meluruskan niat, niat bahwa kita berbuat itu karena Allah, niatkan untuk beramal, untuk bermanfaat bagi oranglain. Kalau niatnya karena Allah, insyaAllah ngga akan ada rasa kecewa. Kalau niatnya karena Allah, maka diri ini bisa menikmati proses belajar yang Allah gariskan buat kita, yang Allah amanahkan buat kita, karena di sana pasti ada hikmahnya. Kalau niatnya karena Allah, pasti kita yakin ada jalan keluar ditengah kesulitan yang ada, tugas kita adalah berusaha sebaik mungkin, tapi hasil tetap Allah yang menentukan. Salah satu pelajaran yang bisa diambil yaitu, selesaikan dahulu urusanmu dengan Allah, maka Allah yang akan menyelesaikan segala urusanmu. Urusan dengan Allah termasuk shalat tepat waktu, shalat sunah, target tilawahnya diselesaikan, puasa, sedekah, dll.

Semester 7, semester yang hampir di ujung waktu, ujung perjalanan yang penuh cinta di undip. Semester dimana merasakan banyak cinta dari temen-temen sekitar karena banyak bantuan yang diberikan ketika ada masalah datang.

Semester 7 itu udah jarang kuliah, sama temen angkatan juga udah jarang ketemu dan ngga terlalu deket lagi karena jadwalnya yang beda-beda, kadang seminggu hanya ketemu sekali, bahkan ada yang bener-bener ngga pernah ketemu. Semester 7 itu udah ngga fokus lagi sama kuliah, hehe.. rasanya udah bosen kuliah, meski aku cuma ambil 3 hari, tetep aja bosen. Kegalauannya adalah ketika melihat satu-persatu temen-temen yang udah pada buat proposal dan sempro. Sedih ketika di kampus jarang ketemu temen-temen seangkatan karena kuliahnya beda, apalagi ketika di masjid dan isinya adik tingkat semua, berasa tua banget. Padahal masjid FSM adalah kenangan terindah tempat para mahasiswa Biologi ngumpul buat ngejar deadline laporan ataupun belajar persiapan pretes bareng-bareng. Ah, kangen masa-masa itu.

Semester 7 adalah menempati wisma baru yang bener-bener baru dikontrak oleh RPIM sebagai wisma, jadi bisa dibayangkan kalo rumahnya itu suci bersih ngga ada isinya, haha. Inget banget gimana perjuangan aku sama mbak Hanna buat pindahan dan belanja ke ADA buat menjadikan wisma ini bisa layak disebut rumah. Pun ketika kita kesana-kemari untuk mengais barang-barang dari wisma lain yang dapat dimanfaatkan. Sempet sedih sih ketika tahu wismanya jauh dari kampus, tapi ternyata inilah wisma paling nyaman se-FSM raya. Seneng sama adek-adek wisma yang udah bisa deket semenjak hari-hari awal di wisma, apalagi ada 3 maba yang unik-unik. Awalnya bingung sama tingkah polah mereka yang super aktif, tapi alhamdulillah aku diingatkan untuk bersyukur karena mereka sangat kompak, terutama ketika makan dan pergi kemana-mana selalu bersama, suasana kekeluargaannya udah ada. Kita cuma berdelapan, ngga susah lah buat saling mengenal. Tapi sedihnya, aku belum bisa membuat mereka tersadar dan bergerak ke arah yang lebih baik, masih terus belajar buat itu, susah banget, susah ternyata menggerakkan orang lain itu, baru bisa mencontohkan tapi belum bisa menyadarkan, amanah adek-adek wisma itu amanah yang berat, sedih karena udah jadi yang paling tua di wisma, harus bisa ngayomi. Rasanya kangen jadi adek wisma, kangen punya banyak mbak-mbak yang baik-baik itu, minimal jadi tempat bertanya dan tempat cerita, terutama sebagai sumber nasehat untuk kebaikan. Baru sadar pengorbanan mereka ya setelah merasakan, makasih buat semua mbak-mbak yang pernah sewisma sama aku, kalian terbaik lah, makasih atas segala ilmu dan pengajarannya J

Semester 7 menjadi orang di ujung organisasi, banyak suka dukanya juga, banyak pengalaman baru di sana. Belajar banyak hal dari temen-temen PH di organisasi yang mereka jauh lebih keren dari aku. Di sini belajar gimana cara merangkul orang, belajar meyakinkan orang atas ide dan pendapat pribadi dengan cara yang baik, belajar komunikasi dengan banyak pihak yang berbeda cara pandang. Namun masih merasa belum berhasil dalam mempersatukan adek-adek di departemen, dan belum bisa merangkul secara keseluruhan. Pengalaman di kepanitiaan besar sangatlah berharga, memang banyak tantangan dan tekanannya, tapi dukungan dari temen-temen dan adek-adek sangatlah luar biasa, terkadang minder sama kalian yang luar biasa itu, bangga bisa berkesempatan untuk mengenal kalian dan jadi bagian dari PH RIC 2016. Pengalaman sedihnya adalah, aku seperti lari dari amanah di organisasi lain, belum bisa menyeimbangkan karena masih berat sebelah dan belum maksimal dalam berkarya. Maaf buat kadep aku yang sering aku kecewain L

Semester 7, alhamdulillah liqo atau mentoring kita bisa tetep rutin, hafalan pun nambah. Harapannya semoga ukhuwah kita bisa lebih erat, bisa lebih saling memahami dan menanggung beban, bisa benar-benar saling mendoakan di setiap solat dengan menyebut bahwa aku mencintai kalian karena Allah. Punya temen liqo yang didekatkan karena seamanah, merasa ukhuwahnya lebih terjalin karena amanah kita sama-sama di sana dan berat juga ditanggung sama-sama, di sanalah tempat cerita itu. Makasih buat kamu yang selalu membantuku J Maafkan aku yang belum bisa memahami.

Semester 7 merasa belum bisa menjaga adek-adek mentoring dengan baik, takutnya adalah bukannya melaksanakan tugas membina, tapi malah membinasakan. Maafkan aku adek-adek. Astaghfirullah, takut mendzolimi dan belum memenuhi hak-hak mereka. Mungkin kemampuan diri yang masih perlu banyak belajar bagaimana cara menyentuh hati. Aku adalah orang yang harus banyak diingatkan terkait pemahaman, masih perlu dimarahin dulu agar segera memperbaiki diri, mungkin belum totalitas dalam menjaga adek-adeknya juga. Terkadang merasa minder dengan mbak-mbak wisma yang subhanallah banget usahanya tiap kali mentoringin, mereka yang bisa rutin mentoringin di setiap minggu. Merasa belum bisa menjadi mbak yang deket sama adek-adek dan jadi tempat cerita mereka, mungkin karena kurang perhatian ke mereka juga. Menjadi pementor itu belajar untuk mengesampingkan masalah pribadi, dan ikut memperhatikan masalah adek-adeknya. Makasih atas banyaknya pelajaran dan kisah-kisah indah yang kalian sampaikan.

8 Januari 2017, @hafshah, sore menjelang maghrib, 17.30 WIB.

Antara Amanah dan Menjadi Biasa

Godaan terbesar aktivis dakwah adalah menjadi orang biasa. Itu memang benar adanya. Godaan untuk menjadi orang biasa saja, toh juga tidak mengganggu atau menghalangi kerja dakwah. Kenapa harus berjuang di lembaga? Kenapa harus aku? Kenapa harus ini dan itu? Kenapa harus berada di sini? Pertanyaan-pertanyaan yang tak jarang menghampiri. Pertanyaan yang sebenarnya kita sendiri sudah mengerti jawabannya, tapi terkadang terlalu lelah untuk berusaha memahami dan membukakan hati untuk menerima segala resiko yang jelas akan datang. Pertanyaan yang bisa menjadi bumerang apabila tidak kuat menanggungnya. Memilih untuk menyingkir sedikit demi sedikit dari amanah. Ingin merasakan sehariii saja bebas dari semuanya. Memang rasa futur, bosan, malas itu pasti menghampiri, tinggal bagaimana tingkat kedewasaan kita dalam mengolah hati. Sikap paling minimal apabila hal itu terjadi adalah tidak meninggalkan kewajiban-kewajiban dakwah, meski dengan berat hati menjalaninya. Tapi paling tidak, kita tetap berada dalam lingkaran kebaikan dengan orang-orang yang insyaallah juga baik.

Terimakasih Allah atas rezeki amanah yang masih menjagaku dari segala keburukan yang mungkin aku lakukan. Amanah datang karena Allah sayang, Allah masih percaya dan hal itu membuat orang-orang di sekitarmu pun percaya bahwa kamu mampu. Amanah datang untuk menjagamu agar selalu dalam kondisi baik dan mau belajar menjadi lebih baik. Amanah menghindarkan kita dari pikiran yang tidak baik dan perbuatan yang tak bermanfaat. Amanah merupakan ladang amal yang memberi keuntungan dunia akherat.

Memang benar bahwa apabila kita belum lulus suatu bentuk ujian, maka kita akan diuji dengan ujian yang sama di lain waktu. Dan ternyata aku mengalaminya, setelah ujian beberapa tahun lalu yang membuatku terpuruk, ternyata ujian yang sama datang dalam bentuk yang berbeda. Dan sikapku masih seperti yang dulu, sudah tahu salah, sudah tahu akibatnya, tapi tetap saja diam seribu bahasa dengan alasan takut membicarakan hal itu. Ya allah, beri aku kekuatan, beri aku jalan keluar untuk kebaikan.

10;57 pm @rumaisha, 16 Mei 2013

Besok oh Besok

Jangan berharap pada kata besok, besok, besok. Karena sejatinya, besok adalah belum tentu. Waktumu adalah sekarang, bersyukurlah dengan waktu sekarang. Jangan menjagakan untuk melakukan suatu amal kebaikan atau bahkan membayar hutang pada kata besok. Iya kalau kita masih dipertemukan dengan si besok itu. Kalaupun masih, yakinkah dengan keadaan sehat seperti sekarang? Yakinkah dengan keadaan berkecukupan seperti sekarang? Yakinkah dengan keadaan luang seperti sekarang. Sesungguhnya hutang adalah wajib untuk segera dibayarkan. Rasulullah pun enggan menyolati jenazah yang masih memiliki hutang. Sebaiknya jangan mudah untuk memutuskan berhutang, karena hutang akan mempersulit kita di dunia maupun akherat. Tak jarang hubungan persaudaraan menjadi renggang karena hutang, demikian juga di akherat, mereka akan menagih hutang kepada kita di hari akhir nanti, dan entah saat itu kita akan membayar dengan apa, apakah amal kebaikan kita cukup untuk membayarkan hutang-hutang kita di dunia? Sesungguhnya amal kebaikan pun harus disegerakan, karena setan akan mengganggu sepanjang waktu dari semua sisi, bahkan hingga masuk ke dalam pembuluh darah untuk membisikkan kata besok saja. Contohnya, kalau kita sudah niat sedekah 10 ribu di hari itu, maka langkahkan kaki pertama kali adalah ke masjid dan masukkan ke kotak amal, karena jika ditunda dan kita masuk ke kelas, siapa yang tahu kalau ternyata kita ditagih iuran tugas kelompok? Siapa yang tahu kalau sesampainya di kelas tiba-tiba saja lapar dan akhirnya tak bisa menahan nafsu untuk jajan danusan teman di kelas? Siapa yang bisa memastikan hingga pulang kuliah uang 10ribu tersebut tetap utuh di kantong, entah untuk membayar sesuatu atau jatuh di jalan? Hingga pada akhirnya niat baik tersebut terurungkan realisasinya.

Sehebat apapun rencana kita, tetap tak bisa menandingi keputusan Allah. Kematian, sakit, jatuh miskin, kesibukan yang penuh tipuan kesia-siaan, semuanya mudah bagi Allah. Tugas kita adalah memastikan bahwa kita tidak terjerumus dengan kata besok untuk memulai suatu kebaikan. Luar biasa lagi jika kita bisa mengajak orang lain untuk melakukan hal serupa. Termasuk bersegera dalam membayar hutang, bersegera dalam bersedekah, bersegera dalam solat tepat waktu, bersegera dalam menuntut ilmu dan melakukan kebaikan-kebaikan lainnya.

10;39 pm, @rumah simbah yang sunyi di depan tv