It’s about my best friend: Fitri

Sahabat bukanlah yang selalu bersama, namun yang selalu mengharapkan kebaikan untuk  sahabatnya di setiap doa2nya. Sahabat bukanlah orang yang luar biasa, namun ketulusan hatinyalah yang membuatnya istimewa. Sahabat bukanlah yang tau segalanya, namun ia memahami tanpa menyakiti.

Ramah, sopan, baik hati. Itulah yang selalu melekat dalam dirinya. Orangnya ramah ke semua orang. Sopan dalam tingkah dan perbuatan. Baik hati dan suka menolong. Selalu sabar menghadapi cobaan yang dihadapi. Setahun bersamanya membuatku belajar untuk saling menghargai, tolong-menolong, kesederhanaan, serta belajar untuk sabar terhadap orang2 di sekitar kita. Saat-saat senang, sedih, takut, bahagia kita lewati bersama-sama. Itu adalah momen yang nggak akan terlupakan. Terlalu banyak kebaikan yang udah dilakukannya untukku. Dia selalu ada saat aku membutuhkannya. Yeah, its about Fitri, my best friend.

#Cerita satu:

Saat itu menjelang test apa gitu, temen2 ngadain belajar bareng di balkam. Rencananya aja belajar, ternyata tidak berjalan lancar. Seperti biasa, lebih terkesan itu hanyalah alasan buat maen and refresing sebelum test. Isinya juga ngobrol2, foto2, dll lah.  Nah, momen ngumpul2 gini biasanya aku manfaatin buat melihat sekaligus menyalin (bilang aja nyontek) pe-er yang udah mepet deadlinenya. Berhubung aku anaknya males buat ngerjain pe-er, fitri yang baek hati, rajin, pinter, dan tidak sombong ini bersedia memberi contekan pe-er nya. Berhubung aku anaknya males akut buat ngerjain pe-er, udah dikasih contekan aja tetep nggak mau ngerjain. Rasanya males banget, pengennya maen2 aja di situ. Nah, yang aku nggak abis pikir, ternyata fitri itu juga baiiik banget, baiknya juga  akut. Bayangin aja, dia malah minta ngerjain pe-er buat aku. Padahal yaa, isinya tu grafik2 matematika yang super duper ‘mumetke’. Aku udah nggak enak gitu, dia malah pengen ngerjain pe-er ku. Aku cuma senyum2 sambil ngucapin terimakasih2 aja. Ya ampuun, baek banget sih tu anak? Nggak cuma itu, dia nggak pelit ilmu, selalu mau menjelaskan semua pelajaran2 yang aku belum paham. Yang aku heran, dia sangat sabar dalam mengajari aku yang selalu mubeng2 tanya ini itu. Baik banget deh pokoknya. Wish you all the best Fitrii.

Satu nasehat yang selalu kuingat, “Husna jangan males!”. Katanya, “Husna i sakjane pinter, tapi males”. Dia tu sebel banget kalo ngeliat aku yang males2an nggak  mau belajar ato ngerjain tugas. Soalnya, Fitri itu anaknya rajiin banget dalam ngerjain tugas ato apalah gitu. Yang jelas beda banget sama aku.

#Cerita dua:

Aku sama fitri beneran nggak niat untuk berbuat nakal ato apalah di sekolahku tercinta ini. Maklum, anak baik (hah?!). Kita bayar spp saat bel masuk nyaris bunyi. Berharap kasir TU udah nggak rame lagi. Setelah sampai di tempat tujuan, barisan panjang seperti ular sudah menyapa kita. Dengan terpaksa, kita pun ikut berjejal menambah panjang ular naga. Mendukung terpecahnya rekor muri barisan ular terpanjang guna membayar uang spp. Mau gimana lagi, itu udah batas akhir pembayaran spp bagi yang berminat mengikuti test semester (apa gitu? lupa aku). Parah. Dengan kesabaran ekstra, sedikit demi sedikit kita maju untuk menjadi kepala ularnya. Padahal rencana yang kita anggarkan, maksimal hanya 10 menit. Dan ternyata waktunya melampau jauh dari perkiraan. Sempat terpikirkan untuk mengakhiri semua ini. Namun, niat itu langsung kita tepis jauh2. Sepertinya udah nggak ada waktu lagi setelah ini. Nggak terasa bel udah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu. Perasaan mulai nggak enak. Telat 5 menit, biasa itu mah. Telat 10 menit, udah sering. Telat 15 menit, mulai was-was. Telat 20 menit, udah nggak tenang. Telat 25 menit, kondisi darurat. Telat 30 menit, kebangeten. Habis itu, entahlah masih berapa menit lagi yang kita habiskan untuk sekedar berbaris rapi di depan TU. Berharap agar pembayaran TU bisa dipercepat atau gurunya telat masuk kelas, jadi nggak terlalu lama dalam menanti kedatangan kita. Saat semua urusan itu selesai, kita langsung lari-lari menuju kelas yang cukup jauh, ditambah harus mendaki beberapa anak tangga. Sampai depan pintu, kita cuma berpandangan seolah olah saling menunjuk siapa yang akan membuka pintu, lalu masuk, lalu ditanya alasannya, lalu dimarahi karena alasannya saja sudah melanggar peraturan, lalu menjawab sekenanya, lalu dipermalukan di depan kelas. Berlebihan smua angan2 yang ada dipikiranku saat itu. Dan dengan ragu2, aku pun membuka pintu dan membuat alasan yang sopan dan nggak mengada-ada. Ternyata semua nggak berjalan seburuk itu. Semua terasa mudah aja dan aku langsung duduk manis lega di kursi ku yang terletak di meja belakang pojok kelas (seingatku lho).

Sedikit cerita ini sama sekali belum mewakili bagaimana berkesannya persahabatan kita selama di kelas sepuluh dua. Masih banyak kisah yang kita lalui bersama yang tak mungkin sanggup jika semua dituangkan dalam kata-kata. Tidaklah mulus setiap persahabatan. Bukan tanpa keegoisan, namun bagaimana kita belajar melebur setiap keegoisan dalam diri masing-masing untuk berjalan beriringan. Bukan tanpa emosi, namun bagaimana kita saling memahami keadaan hati. Bukan tanpa perpisahan, namun bagaimana kita memupuk kerinduan itu menjadi rasa persaudaraan. Begitu indahnya persahabatan, semoga ukhuwah kita selalu terjaga, walaupun jarak memisahkan kita, namun hati kita saling terpaut karena Allah. Aamiin 2x ya rabbal alamiin.

‎April ‎16, ‎2012, 5:48 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s