Recommended film #4: ‘Tears of Gaza’

Tears of Gaza adalah sebuah fakta nyata dari kebiadaban Israel. Film ini disutradarai oleh Vibeke Lokkeberg yang berkebangsaan Norwegia. Film ini bukan film biasa, film ini bukan rekayasa ataupun cerita yang mengada-ada. Vibeke Lokkeberg benar-benar berkunjung ke Gaza, melakukan banyak wawancara serta penelitian-penelitian dengan penduduk setempat. Ia juga mengumpulkan banyak video-video yang merekam kejadian saat penyerangan Israel di Gaza, serta memilih video-video amatir terbaik untuk ditampilkan di dalam filmnya. Semua benar-benar nyata, benar-benar terjadi di sebuah daerah yang merupakan sebagian kecil dari Negara Palestina, yaitu Gaza. Sejak dulu, Israel hendak menguasai tanah Palestina, segala daya dan upaya dikerahkan dengan cara apapun, hingga kini tersisa Palestina tepi barat dan Gaza. Gaza berbatasan langsung dengan Israel dan Mesir, namun segala transportasi keluar masuk Gaza sangatlah dibatasi oleh Israel. Bahkan, bahan-bahan pokok untuk kebutuhan hidup pun dilarang masuk. Selama ini, terowongan-terowongan tersembunyi di perbatasan Mesir lah yang banyak membantu untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka. Tembok-tembok besar pun dibangun untuk mengisolasi mereka dari dunia luar.

Puncaknya, pada 27 Desember 2008 hingga Januari 2009, Israel menyerang Gaza secara bertubi-tubi dan membabi-buta selama 22 hari. Selama 22 hari Gaza diserang oleh aksi militer besar-besaran dari darat laut dan udara (27 Desember 2008 sampai 18 Januari 2009). Akibatnya 1837 orang mati syahid, hampir 300 orang diantaranya anak-anak berusia di bawah 16 tahun. Sekitar 5000 orang cedera, ratusan diantara mereka cacat seumur hidup atau memerlukan terapi medis dalam jangka panjang. Penyerangan dilakukan melalui jalur darat, air dan udara. Roket, bom, tank dan tembakan digunakan untuk menyerang warga Gaza yang umumnya hanya melempari dengan batu-batuan dalam membalas serangan Israel. Mereka menyerang tanpa pandang bulu, tanpa belas kasihan, dan tanpa hati nurani. Semua fakta yang menyakitkan dan mengharukan ini ditampilkan secara gamblang dalam film ini.

Selama 22 hari mereka dijatuhi bom dan roket tanpa mengenal tempat dan waktu. Siang malam mereka tetap menyerang sekehendak hati mereka. Tak ada waktu tenang bagi mereka untuk sekedar melepas lelap. Tiap dijatuhi bom dan roket, anak-anak berlarian dengan rasa takut tanpa mengetahui arah tujuan mereka. Bahkan tidak sedikit anak-anak yang kehilangan orangtua dan anggota keluarga lainnya. Tidak hanya rumah-rumah warga, masjid, atau peternakan, bahkan sekolah UN (United Nations) /PBB yang dijadikan tempat pengungsian ibu-ibu dan anak-anak pun dijatuhi bom secara terang-terangan. Mereka meluluh lantakkan seluruh Gaza.


Film ini menceritakan tentang tiga orang anak Gaza. Mereka adalah Rasmia (11 tahun), Yahya (12 tahun) dan Amira (14 tahun). Rasmia yang masih trauma dengan semua yang dilihatnya selama penyerangan tersebut, terutama saat melihat mayat-mayat bergelimpangan di jalanan. Yahya yang sangat terpukul karena kehilangan ayahnya, ia bercita-cita menjadi dokter agar bisa menolong dan mengobati siapapun yang terluka karena Israel. Amira yang kakinya ditembak oleh tentara Israel saat berusaha mencari bantuan untuk ayahnya yang ditembak tepat dikepala. Amira pun kehilangan saudaranya saat saudaranya keluar rumah untuk mencari ambulan untuknya. Kini, Amira mempunyai keluarga baru yang akan merawatnya. Amira bercita-cita menjadi pengacara agar bisa mempertahankan tanah kelahirannya serta membawa Israel ke pengadilan Internasional.

Selama penyerangan, semua akses bantuan masuk dari dunia luar ditahan oleh Israel. Perbatasan Mesir pun sempat ditutup dan dijaga ketat bagi relawan yang akan masuk ke Gaza. Bahan makanan, obat-obatan, serta tenaga medis yang minim menambah derita mereka. Kejadian yang paling menggetarkan dunia adalah diserang dan dihentikannya kapal bantuan kemanusiaan Mavi Marmara yang berisi bahan-bahan yang sangat dibutuhkan warga Gaza pasca agresi militer Israel. Para relawan berusaha memasuki Gaza menggunakan jalur laut, Mavi Marmara berangkat dari Turki. Namun, Mavi Marmara yang juga mengangkut 600 relawan dari 32 negara yang hendak membantu warga Gaza, ditembaki tentara-tentara Israel. Banyak relawan yang menjadi korban tembakan, bahkan 9 relawan meninggal dunia dalam misi kemanusiaan tersebut.

July ‎22, ‎2012, ‏‎10:06:20 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s