Perjalanan Merajut Kata

Menulis memang bukan hal baru bagiku. Aku sudah menulis sejak kelas 5 sd. Saat itu, diadakan seleksi tingkat sekolah untuk memilah-milih siswanya yang akan dikirimkan dalam lomba menulis resensi buku di salah satu smp swasta di kotaku. Aku pun lolos dalam seleksi tingkat sekolah, dan dipercaya untuk mewakili sekolahku dalam lomba resensi buku tingkat kota. Aku pun senang dapat berpartisipasi dalam lomba tersebut meskipun tidak menyabet gelar juara.

Sejak kelas 1 smp, aku sudah sering menulis berbagai pengalaman dan hal-hal yang menarik di dalam buku harian. Awalnya, aku termotivasi dengan banyaknya buku harian atau sering disebut diary yang terbit seiring dengan kesuksesan seseorang. Ternyata perjalanannya menuju kesuksesan memang telah ditulisnya dalam buku harian. Sehingga, menurutku buku harian akan memberikan sejarah tersendiri tentang diriku pada suatu hari nanti (doakan saja).

Anehnya, setelah menulis berlembar-lembar bahkan hingga menghabiskan beberapa buku harian yang kupenuhi corat-coret kehidupanku dan segala curahan hatiku yang tentunya bersifat rahasia, tiba-tiba saja kurobek-robek hingga menjadi serpihan-serpihan kertas yang sudah tak berarti lagi. Semua itu bermula karena kekesalanku pada adikku yang usil dan sering membuka-buka buku harianku. Sejak saat itu, aku merasa semua yang kutulis di situ sudah tidak aman lagi, aku tidak bisa dengan bebas menceritakan semua curahan hatiku. Namun, kebiasaanku menulis tak bisa lenyap begitu saja, aku pun beralih menulis catatan harian di laptop. Menurutku, laptop adalah salah satu sarana menulis yang cukup aman.

Tidak hanya menulis buku harian, aku pun juga berusaha mengembangkan kemampuan menulisku dengan mendeskripsikan tentang profile atlit-atlit, karena saat smp aku memang sedang tergila-gila dengan dunia olehraga. Aku banyak membuat kliping olahraga, kemudian menuliskan beberapa keterangan tentang foto-foto yang kutempelkan.

Saat memasuki dunia sma, aku sempat rehat sejenak dalam aktivitas tulis menulis. Lebih sering membaca novel-novel ketimbang menulis. Namun, saat memasuki kelas 3 sma, aku mulai mengenal dunia blog. Sejak saat itu, aku kembali aktif menulis, namun bukan lagi hanya sekedar buku harian yang bersifat pribadi. Aku mulai mengembangkan tulisanku dalam bentuk artikel, resensi buku, ataupun mengomentari banyak film-film yang menurutku menarik. Semuanya aku post di blog. Rasanya senang sekali bisa berbagi melalui tulisan, apalagi tulisanku bisa dibaca oleh banyak orang. Semoga saja memberikan manfaat dan menginspirasi semua orang yang membaca tulisanku. Aku sudah tidak malu-malu lagi untuk mempublikasikan tulisan-tulisanku.

Kini, aku masih duduk di bangku kelas 3 sma. Sejak mengetahui dunia menulis di blog, aku pun lebih sering searching-searching di google tentang info-info lomba menulis. Rasanya kurang jika hanya menulis di blog, aku ingin lebih dari itu. Ingin lebih luas jangkauan pembacanya, ingin lebih menggali ilmu tulis menulis, dan yang lebih penting, ada suatu tantangan tersendiri dalam menulis untuk sebuah lomba atau kompetisi.

Nah, suatu hari, aku membaca info lomba menulis cerpen/narasi yang diadakan oleh salah satu fanpage di facebook, yaitu fanpage Indahnya Islam atau lebih sering disebut indhis. Aku pun tertarik untuk mengikutinya. Tidak bisa dipungkiri bahwa hadiahnya memang cukup menggiurkan. Total hadiah 5 juta! Namun, bukan berarti itu adalah satu-satunya alasanku mengikuti lomba ini. Malahan, motif utamaku ialah ingin mengasah kemampuanku dalam menulis. Kemudian, aku juga berharap tulisanku bisa dibaca lebih banyak orang.

Aku segera mengarang cerpen, namun sebenarnya bukan mengarang, lebih tepatnya menceritakan kembali perihal pengalamanku. Karena aku tidak terlalu pandai dalam hal karang-mengarang, lebih mudah jika terinspirasi dari kisah nyata. Yap, itu adalah cerpen pertamaku dan lomba menulis pertama yang kuikuti. Yakni LKMAI (Lomba Kreativitas Menulis Artikel Islam) edisi 4 Indahnya Islam. Namun, di edisi 4 ini, khusus lomba cerpen atau narasi saja, bertemakan problematika remaja dalam islam. Lomba ini terdiri dari 2 tahap, yaitu tahap awal yang penilaiannya dilaksanakan tiap bulan dan diambil 1 pemenang tiap bulannya. Tahap awal dilaksanakan selama 5 bulan atau 5 edisi. Sedangkan tahap 2 adalah tahap final yang diikuti oleh 5 orang pemenang dari tiap edisi.

Sebenarnya, aku hanya sekedar coba-coba dalam mengikuti lomba ini, karena aku belum pernah mengikuti lomba menulis cerpen sebelumnya. Alhamdulillah. Hasilnya cukup mengejutkanku, meskipun tidak keluar sebagai pemenang di edisi 4 kali ini, namun aku sangat bersyukur bisa meraih nilai tertinggi ke-3 dari 47 naskah yang lolos seleksi. Aku benar-benar tidak menyangka dengan hasil ini, mengingat ini adalah lomba pertama yang kuikuti. Yang jelas, aku harus tetap belajar lagi dan lagi untuk memperbaiki kekeliruanku di sana-sini yang tentunya masih perlu banyak perbaikan. Dengan mengikuti banyak lomba, aku bisa mengukur kemampuanku dengan melihat penilaian para juri terhadap karyaku.

Saat ini, aku mempunyai cita-cita yang bersifat jangka pendek dalam bidang tulis menulis, yakni bisa memenangi lomba-lomba yang kini telah banyak kuikuti. Kemudian, suatu hari kelak aku bisa menjadi penulis profesional yang karyanya banyak dimuat di berbagai media massa dan majalah-majalah lokal maupun nasional. Sedangkan cita-cita jangka panjangku adalah bisa menerbitkan buku pertamaku yang entah kapan akan terwujud, yang jelas cita-cita dan keinginan yang menggebu-nggebu itu telah ada. Semoga bisa senantiasa terpelihara. Mohon doanya dari semua teman-teman yang membaca ini, semoga impian dan cita-citaku dikabulkan oleh Allah SWT. Aamiin.

Intinya, kita tidak boleh cepat puas dengan hasil apapun dan harus selalu belajar untuk membenahi diri menuju arah yang lebih baik demi kemajuan kualitas diri kita masing-masing. Jangan mudah menyerah dalam berusaha, yakinlah suatu saat kita akan memetik hasil yang lebih baik dari semua usaha yang telah kita lakukan. Doa tidak lupa menyertai setiap usaha, dan tawakal senantiasa mengikuti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s