Detik-detik Pengumuman Lomba Nulis

Masih teringat di benakku saat itu, yakni pada tanggal 6 oktober 2012, setelah beberapa lama browsing-browsing di internet mengenai info lomba menulis bulan oktober, akhirnya dapat juga, yaitu lomba menulis artikel tentang budaya tradisi bagi para pemuda. Saat itu aku langsung tertarik untuk mengikutinya, terlebih lomba menulis ini dibagi dalam 2 kategori, yakni kategori mahasiswa dan kategori pelajar. Sehingga dapat membuka peluang lebih untuk memenanginya.

Waktu itu, aku nggak berharap banyak sama yang namanya hadiah, bahkan cenderung pesimis bakal jadi finalis, apalagi jadi juara. Apalagi setelah kubaca di berita on line bahwa beberapa sekolah di Jakarta mewajibkan seluruh siswa-siswinya mengikuti lomba ini. Waduh, semakin kecil aja rasanya buat bisa lolos. Maka dari itu, memang dari awal aku nggak terlalu mikirin soal hadiahnya, meskipun hadiah yang ditawarkan cukup besar, dengan totalnya mencapai 15 juta rupiah plus 2 buah ipad.

Satu-satunya motivasiku buat ikut lomba ini adalah untuk mengukur kemampuanku dalam hal menulis. Apalagi tulisanku akan diseleksi dahulu dan apabila lolos, nantinya akan dibaca dan dinilai oleh juri-juri yang menurutku sudah profesional di bidang tulis-menulis. Yang jelas, nggak dapet apa-apa juga nggak papa alias nggak berharap banyak.

Akhirnya pada pagi harinya, aku minta pendapat plus ide dari temen-temen di sekolah. Aku yakin kalo ide dari banyak orang akan lebih bervariasi dan lebih kreatif dibandingin kalo Cuma dari sudut pandangku sendiri aja. Ternyata bener banget apa yang aku yakini, banyak ide-ide cemerlang yang keluar dari masing-masing orang yang aku mintai pendapat.

Malamnya, aku langsung menghadap komputer, karena hari itu adalah hari terakhir pengumpulan naskah lomba alias deadline-nya, tepatnya tanggal 7 oktober 2012. Semua ide-ide yang telah kupilah-pilih, kutuangkan satu-persatu ke dalam bentuk paragraf-paragraf tulisan. Malam itu bener-bener malam yang penuh kerja keras, aku harus menyelesaikan artikel dan mengirimkan naskah tersebut sebelum jam 12 malam. Padahal kalo nggak salah, pagi harinya itu ada ulangan harian. Tapi anehnya, pikiranku saat itu cuma fokus ke lomba itu doang, yang lainnya gampang lah, haha..

Setelah berpikir beberapa menit, aku pun menemukan judul yang menurutku pas banget sama tulisannya. Judulnya yaitu: “Apa Gunanya Pemuda Memikirkan Budaya ?” Judul yang selaras dengan tema budaya tradisi dan juga kepemudaan. Yang terpenting adalah, harus ada rasa nasionalisme dan kecintaan terhadap budaya Indonesia di hati para pemuda.

Nah, setelah naskah artikel selesai kutulis, ternyata nggak sampe di situ aja perjuanganku. Saat kulihat ulang syarat-syarat pendaftarannya, ternyata masih ada satu persyaratan yang belum aku kantongin. Apa itu? Yakni scan kartu pelajar, dan aku nggak punya scan, dan aku nggak mungkin ‘nyecan’ keluar karena jam sudah menunjukkan waktu yang malem lah (lupa aku pastinya). Masak cewek mau keluyuran malem-malem cuma buat scan KTP alias Kartu Tanda Pelajar? Nggak lucu kan.

Aku bener-bener memutar otak dan berpikir keras saat itu. Tiba-tiba muncul ide yang meragukan dan sangat tidak meyakinkan. Kuambil hp ayahku, kuambil KTP-ku, langsung deh jepret tuh KTP pake kamera yang bener-bener nggak ‘cetho’ hasil fotonya. Inilah ide gila yang terpaksa kulakuin. Saat itu aku berharap semoga aja diterima, semoga aja diterima. Sebenernya juga nggak terlalu yakin sih sama keputusan yang aku buat, masak dari scan jadi jepret foto 2 megapixel yang nggak jelas gitu. Apalagi nih, tulisan identitasku aja nggak kebaca. Tapi nekad deh kukirim tu naskah beserta foto gaje-nya. Just berharap diakui ajalah.

Beberapa hari kemudian, beberapa minggu kemudian, bahkan beberapa bulan kemudian, entah kenapa lomba itu jadi nggak terpikirkan lagi olehku. Mungkin karena kesibukanku di kelas 3 ini. Sempat sih kulihat di web-nya saat pengumuman pemenang dijanjikan, tapi ternyata belum juga diumumkan. Sampe beberapa kali, juga belum diumumkan. Aku udah pasrah aja and udah nggak kepikiran sama-sekali. Modemku juga sempat berminggu-minggu nggak diisi pulsa, semakin deh nggak terlintas di benak.

Namun, pada suatu hari, saat modemku akhirnya diisi pulsa dan akhirnya bisa digunakan kembali untuk ‘ngenet’, tiba-tiba ingatanku tertuju pada lomba tersebut. Langsung saja kujelajahi web yang menyelenggarakan lomba itu, akhirnya ketemu juga pengumuman pemenang lomba menulis tersebut. Dan ternyataa.. percaya nggak percaya, namaku terpampang di pengumuman itu sebagai finalis. Jujur saat itu aku bener-bener nggak ngarep and nggak ada pikiran sama sekali namaku bakalan ada disitu. Detik itu juga penyakit gilaku kambuh. Satu-satunya hal yang membuatku gila adalah perasaan bahagia yang berlebihan atau sesuatu yang mengejutkan. By the way, aku bener-bener bersyukur banget sama Allah SWT, Dia telah memberikan yang terbaik buat aku.

Hikmahnya adalah, tetaplah berjuang, tetaplah berkarya, meskipun semua itu terlihat tidak mungkin bagi kita. Tapi yakinlah Allah SWT yang akan melihat dan menilai sejauh mana usaha kita, dan Allah SWT pula yang akan menentukan segalanya, benar-benar tak ada yang tak mungkin bagi-Nya.

Foto0497

Senin, 19 November 2012, 8:37:27 PM

2 thoughts on “Detik-detik Pengumuman Lomba Nulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s