Menebar Ilmu di Pedalaman Papua

Seorang guru memang memiliki andil yang sangat besar bagi kemajuan suatu bangsa. Guru adalah teladan yang menginspirasi siswa-siswinya. Guru tidak hanya mengajar, guru mempunyai tanggungjawab yang lebih besar dari itu, yakni membawa bangsa ini keluar dari gelapnya keterpurukan menuju cerahnya masa depan. Namun, sosok guru seperti apa yang patut kita jadikan teladan? Bukan hanya teladan untuk murid-muridnya, namun juga teladan bagi masyarakat di sekitarnya.

Sosok bapak guru yang satu ini benar-benar mempunyai semangat yang tangguh dan pantang menyerah. Beliau adalah seorang guru sekolah dasar di suatu daerah pedalaman di Papua. Ia ditugaskan untuk mengajar di Papua, dan ia menerima tugas tersebut dengan senang hati. Meskipun setiap tahunnya ia harus melalui perjalanan jauh untuk pulang ke Jawa, sekedar melepas rindu dengan keluarganya yang ada di jawa.

Ia bersedia mengabdi di pedalaman papua bukan tanpa alasan yang jelas. Ia sangat mengerti bahwa di Papua kaya akan sumber daya alamnya, terutama kandungan emas yang banyak ditemukan di tanah Papua. Namun, mengapa rakyatnya masih ada yang terbelakang dan bahkan terjadi musibah kelaparan? Jika diperhatikan lebih jeli, masyarakat Papua layaknya hidup miskin di negeri yang kaya. Kandungan emas yang sebenarnya masih banyak ditemukan, tidak bisa dikelola dengan baik oleh orang Indonesia sendiri. Emas yang berlimpah tersebut malah dikuasai oleh perusahaan asing yang benar-benar mengeruk keuntungan berlimpah dari tambang emas Papua.

Keterbelakangan dikarenakan satu hal yang kurang, yakni pendidikan. Pendidikan yang belum merata di seluruh Indonesia adalah penyebabnya. Sehingga, sumber daya manusianya unggul dalam kuantitas, namun kurang dalam kualitas. Itulah yang menjadi perhatian khusus oleh guru yang satu ini. Ia jengah melihat keadaan yang begitu timpang. Ia berniat memberantas kebodohan dan ketidakadilan yang seakan terlihat sangat jelas. Ia ingin, suatu hari kelak, sumber daya alam di Indonesia dikelola oleh sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas.

Niat tulus untuk memajukan bangsa Indonesia benar-benar menyatu dalam dirinya. Setiap pagi, ia pergi ke sekolah dengan berjalan kaki. Belum ada alat transportasi memadai di daerah tersebut. Setelah menapaki jalan setapak  yang cukup jauh, tibalah ia di sekolah tempat ia mengajar. Jangan bayangkan sekolah di sana layaknya sekolah-sekolah pada umumnya, sekolah di pedalaman sangat jauh berbeda. Sekolah itu hanya terdiri dari sebuah bangunan yang tentunya masih sangat tradisional. Setibanya di sekolah, ia tidak bisa langsung mengajar, karena kelas tersebut masih kosong, tak seorang murid pun yang terlihat batang hidungnya. Mau tak mau, ia harus menghampiri muridnya satu persatu.

Di daerah pedalaman, sekolah adalah hal yang dianggap tidak penting, tidak berguna, dan tidak menghasilkan apa-apa. Bahkan, hampir semua orangtua melarang anaknya untuk bersekolah. Orangtua lebih senang jika anaknya ikut membantu mereka bekerja. Satu-satunya cara agar anak-anak tersebut dapat mengenyam pendidikan adalah, sang guru harus membujuk serta memberi pengertian kepada orangtua murid satu-persatu dari rumah ke rumah, untuk membolehkan anaknya bersekolah. Namun, perjuangan tak semudah yang dibayangkan. Tidak jarang justru guru tersebut mendapat perlawanan dari beberapa orangtua. Orangtua tetap kokoh tidak mengizinkan anaknya bersekolah. Kalau sudah begitu, tak ada jalan lain, mungkin ia akan menghampirinya lagi di lain hari.

Tampilan guru di sekolah-sekolah kota, identik dengan pakaian kemeja rapi, celana panjang dan juga sepatu bermerek. Namun, penampilan guru yang satu ini berbeda. Ia harus mengenakan pakaian khas suku pedalaman tersebut, itu semua dilakukannya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan di sana. Tak mungkin ia bisa berinteraksi dengan baik dengan masyarakat serta mengajak mereka untuk menuntut ilmu di sekolah tanpa menyesuaikan diri dengan mereka. Begitu pula murid-muridnya, tak ada seragam, tas ataupun sepatu. Mereka dapat bersekolah saja sudah merupakan suatu perjuangan. Tak peduli dengan minimnya fasilitas di sekolah mereka.

Setelah berkeliling dari rumah ke rumah, ia pun kembali ke sekolah dengan membawa beberapa siswanya. Tidak jarang hanya segelintir siswa saja yang berhasil ia ajak ke sekolah. Semua siswa tidak mungkin bisa belajar ke sekolah setiap harinya, tergantung izin dari orangtua mereka pada hari tersebut. Bayangkan saja, pada pukul berapa aktivitas belajar mengajar baru bisa dimulai. Maka dari itu, jam pelajaran di sana tidak tentu, jam masuk dan pulangnya pun menyesuaikan, tergantung situasi dan kondisi. Meskipun hari telah beranjak siang, dan hanya kepada beberapa siswa saja ilmunya dapat tersalurkan, ia tak putus semangat untuk tetap mengajar dan menularkan ilmunya pada anak-anak di pedalaman, yang masih sangat kurang pengetahuannya.

Begitulah sedikit gambaran mengenai sosok seorang guru yang patut disebut sebagai teladan masyarakat, karena selain berjasa dengan segala pengorbannya, ia pun sangat menginspirasi guru-guru lain yang harus lebih bersyukur dan tetap berjuang meskipun dengan minimnya fasilitas. Memang benar, istilah yang menyebut bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Tak ada yang ia tinggalkan selain ilmu, sedangkan ilmu adalah sesuatu yang tak terlihat. Ia pun mengajar tanpa pamrih, ia tak mengharap apa-apa kecuali sebuah kebanggaan jika melihat anak didiknya sukses di kemudian hari.

Tidak hanya semangat pantang menyerah yang dibutuhkan, namun juga kepedulian yang dibuktikan dengan tindakan nyata lah yang diperlukan. Tidak lupa disertai ketulusan hati dalam setiap pengabdian untuk kemajuan bangsa indonesia. Tanpa ketulusan dan keikhlasan, ilmu yang disampaikan tidak mungkin dapat tersalurkan.

2 thoughts on “Menebar Ilmu di Pedalaman Papua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s