Renungan Kehidupan

impian

Ya Allah, ampuni hamba-Mu yang penuh dosa ini
Yang terlalu sering melupakan-Mu
Melupakan kewajiban beribadah kepada-Mu
Bahkan melupakan segala pemberian-Mu
Serta mengabaikan kasih sayang-Mu

‘Alhamdulillah’, kata itulah yang sering kita lupakan. Kita lupa untuk berterima kasih dan lupa bersyukur kepada Allah. Jika saja orangtua kita membelikan hp atau laptop baru, mungkin kita masih ingat untuk mengucapkan terima kasih. Tapi pada Allah, yang bahkan telah memberikan segalanya sejak kita dalam kandungan ibu sampai saat ini, hingga kita masih diberi kesempatan hidup, masih diberi udara segar untuk bernafas, dan diberi segala kesenangan dunia lainnya. Tapi kenapa kita malah lupa untuk sekedar mengucapkan alhamdulillah. Untuk bersukur dan beribadah dengan sungguh-sungguh pada Allah.

Sudahkah kita memberi waktu tersendiri untuk mengaji, untuk shalat sunah, dan untuk bersedekah? Sedangkan, untuk membaca novel yang tebalnya ratusan halaman, kita bahkan rela semalam suntuk tak tidur. Shalat wajib masih sering kalah dengan panggilan hp, laptop dan tv. Bersedekah mungkin tidak terpikirkan, padahal dalam harta kita ada hak orang lain yang wajib disalurkan. Bersedekah bukan akan mengurangi rezeki tapi malah melipatgandakan rezeki. “Giving is the best way to receive”. Bersedekah adalah salah satu bentuk syukur atas rezeki yang telah dilimpahkan Allah pada kita.

Mungkin kita puas dengan kecantikan atau ketampanan, mungkin puas dengan kepandaian, mungkin puas dengan kedudukan atau dengan kekayaan, puas jika bisa belanja berbagai barang atau bisa jalan-jalan ke berbagai tempat di belahan dunia. Mungkin kita puas dengan segalanya. Tapi pertanyaannya adalah, “Is Allah satisfied with us?” seperti lagunya Maher Zain, apakah Allah puas dengan itu semua? Apakah Allah puas dengan sikap kita, cara kita bersyukur, dengan semua ibadah kita. Lupakah kita dengan tujuan akhir semua orang? Tujuan kita hidup adalah untuk mati. Bukan untuk menanti-nanti kematian, namun lebih pada untuk mempersiapkan kematian. Tentu dibutuhkan ibadah dan perbuatan yang baik untuk menyongsong masa depan. Kita yang hidup, kita yang menentukan. Apakah ingin masuk surga atau neraka. Sudah puaskah kita dengan amalan kita? Bukan saja amalan dalam hal ibadah wajib, namun juga ibadah-ibadah lainnya. Bahkan semua perbuatan kita bisa bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah.

Lupakah kita dengan perjuangan para sahabat rasulullah saw, yang perjuangannya begitu menakjubkan, berjuang untuk Allah, untuk Islam, dan untuk akhiratnya. Akhlak mereka yang baik, yang tak ada tandingannya. Lihat saja Abu Bakar Ash Shidiq yang menyumbangkan segala jiwa dan raganya untuk kepentingan umat. Ia ikut berperang dan menyerahkan segala hartanya untuk kepentingan perang. Atau, tengoklah kedermawanan Abdurrahman bin Khouf yang tak puas jika memasuki surga dengan merangkak, maka ia pun menyedekahkan seluruh hartanya untuk umat.
Dan yang paling penting, ingatlah perjalanan dan perjuangan teladan kita sepanjang zaman, Nabi Muhammad saw, yang akhlaq, kebaikan, dan kejujurannya tak ada yang menyangkal, yang pemikirannya jauh ke depan, yang kepeduliannya melebihi semua orang, yang keimanan dan ketaqwaannya luar biasa, yang dermawannya tak terukur, dan yang pengorbanannya begitu besar. Coba kita renungkan, Nabi Muhammad saw yang telah dijamin masuk surga saja malu untuk tidak bersyukur dan meminta ampunan pada Allah swt. Nah, bagaimanakah dengan kita?

Apakah kita lupa dengan kematian? Sehingga lupa untuk bersyukur dan merasa puas dengan kehidupan di dunia, tanpa memikirkan nasib kita di alam kubur kelak, yang nantinya akan ditemani oleh amalan kita masing-masing. Bayangkan jika esok hari kita mati, apakah sudah cukup bekal kita? Adakah suatu hal berarti yang telah kita perbuat sehingga orang-orang di sekitar kita bersedia mendoakan keselamatan pada kita? Ingatlah bahwa kita makhluk sosial, yang bahkan setelah kematian saja kita masih perlu bantuan doa keselamatan dari saudara-saudara kita yang masih diberi kehidupan.

Adakah suatu harta yang bisa menjadi amal jariyah, yang pahalanya terus mengalir padahal kita telah meninggal? Adakah bacaan Al-Quran yang menjadi lampu penerang di alam kubur? Ingatlah wahai saudaraku, “Life is shorter than most have thought” (Maher Zain). Hidup itu lebih pendek dari apa yang kita pikirkan. Maka dari itu, segeralah bertaubat, dan masing-masing dari kita mengevaluasi serta menghisab diri kita sebelum kita dihisab atau ditimbang amal baik buruknya. Dan yang utama, jangan lupa untuk bersyukur, karena tiap kita bersyukur, maka saat itulah kita berterimakasih pada Allah swt. Salah satu cara bersyukur adalah dengan jalan beribadah dan melakukan amalan-amalan baik sesuai syariat Islam.

28 February 2013, 4:19 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s