Biarlah Berbeda, Inilah Cara Ayah!

Buatku, Ayah adalah pelindung yang tak terlihat. Mengapa? Karena sebenarnya ayah telah bekerja keras demi melindungiku, namun sayangnya itu semua kurang terasa olehku. Sebabnya adalah sejak kecil aku sangat dekat dengan ibu. Sehingga, keperluan apapun pastilah ibu yang memenuhi. Sedangkan ayah? Aku tak terlalu dekat dengan ayah, sehingga jarang berinteraksi langsung dengannya. Meski begitu, aku tahu ayah sangat mencintaiku, terlihat dari berbagai cara ia menyayangiku. Cara yang ia pilih adalah cara khas ayah. Berbeda dengan ibu, ayah lebih banyak diam. Diam yang sangat berarti. Dibalik diam ada perhatian, ada kasih sayang, ada maksud, serta ada beribu arti yang menunjuk kepada satu kata, yakni cinta.

Jarang aku bercengkerama dengannya, tapi setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu penuh makna dan nasehat-nasehatnya sungguh luar biasa. Dari segala yang pernah ia sampaikan, aku menyadari satu hal, ayah selalu ingin yang terbaik buat aku. Apapun itu, bagaimana pun juga, ayah akan selalu berusaha. Seperti ada janji yang terpatri di dalam hatinya, yang selalu dapat aku rasakan dari setiap gerak-geriknya.

Setiap ia bercerita aku selalu memperhatikan dengan asyik, setiap kalimat, setiap kata, aku selalu ingin menyimak lebih jauh, serta mengambil makna yang tersirat. Ayah lebih senang bicara fakta, mungkin karena pekerjaannya di bidang hukum yang memang menuntut adanya bukti-bukti valid. Tak hanya nasehat atau cerita belaka, namun begitu banyak kisah dan perjalanan hidupnya yang sarat makna. Kisah nyata dan pengalaman yang penuh lika-liku serta pahit getir kehidupan telah ia rasakan. Ayah menginginkan aku bisa memetik beragam hikmah di balik setiap peristiwa yang ia alami, tanpa harus merasakan pahitnya kehidupan. Dengan begitu, aku dapat berjalan, menyelami, dan mendaki dengan pasti untuk meraih mimpi-mimpi.

Salah satu perhatian spesial dari ayah adalah ketika aku sedang mengikuti studi tur di Bali. Saat itu, ayah yang jarang menanyakan keadaanku saat berada di rumah. Tiba-tiba ia meneleponku dan entah ada angin apa ia lalu bertanya mengenai ini itu. Sontak aku pun terheran-heran. Ketika di rumah jarang menyapa, tapi ternyata ketika berjauhan, ayah pun  ingat denganku, bahkan malah menunjukkan perhatiannya. Ayah selalu menyayangi dengan caranya sendiri.

***

Masih teringat dengan jelas, ketika aku beranjak SMP. Setiap kali orang bertanya hendak lanjut sekolah ke mana, setiap itu pula kujawab ke SMP Negeri 1. Entah saking lugunya atau memang karena keyakinan yang tak terbendung. Bahkan hingga tidak ada pikiran tidak diterima.

Sebenarnya nilai hasil Ujian Akhir-ku tidak terlalu bagus-bagus amat. Namun, karena keinginan kuat ingin masuk sekolah tersebut, aku nekad mendaftar. Tak lama kemudian, hari pengumuman pun tiba. Dengan semangat, ayah memboncengkanku naik vespa menuju sekolah yang jaraknya cukup jauh.

Sampai disana, papan pengumuman telah disesaki oleh ratusan orang. Tidak hanya siswa-siswi yang penasaran melihat pengumuman penerimaan siswa baru, para orangtua pun tak kalah turut menyesaki. Saking sesaknya, aku pun mengalah saja. Biarlah ayah yang melihat pengumuman itu. Aku hanya mengekor di belakang ayah dengan perasaan was-was tak karuan.

Setelah berusaha menyelip-nyelip di antara riuhnya orang, tiba-tiba ayah berbalik badan. Dengan sekejap ayah memeluk tubuhku erat-erat. Saat itu masih tak kupahami maksudnya.

“Gimana yah, apa aku diterima?” tanyaku polos.

“Alhamdulillah nak, kamu diterima, selamat ya,” tak terasa mata ayah berkaca-kaca. Dapat tersirat dari wajahnya, bahwa ayah bangga dengan prestasi ini.

Tak puas hanya mendengar, setelah satu persatu kerumunan beranjak pergi, aku segera mendekat, ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri. Kususuri satu demi satu nama siswa, masih tak terlihat jua. Dan pada akhirnya kutemukan namaku di baris ke 217 padahal ada 220 siswa yang diterima. Nilaiku terendah di sana. Tak apalah, yang penting Allah mendengar doa panjangku dan orangtuaku selama ini. Lega sudah, terbayar kerja keras dan lembur belajar siang malam. Tak dapat kugambarkan bahagia dan rasa haru melihat ayah hingga meneteskan air mata di depanku. Sungguh, tak pernah kulihat sebelumnya.

Setelah pengumuman itu, aku diajak ayah menuju kantornya. Di sana ada beberapa teman ayah.

“Wah, dari mana pak?” tanya salah seorang dari mereka.

“Ini, mengantar anak melihat pengumuman penerimaan siswa baru.”

“Oh, diterima di mana pak?”

“Di SMP Negeri 1,” nampak ada rasa bangga saat ayah menjawabnya.

“Wah sekolah bagus itu pak.”

“Iya, terima kasih. Itu juga modal nekat, tapi akhirnya diterima, ya Alhamdulillah.”

Baru kusadari bahwa kebahagiaan dan kebanggaan orangtua terletak pada prestasi dan kesuksesan anak-anaknya. Semoga prestasi-prestasi selalu menghiasi kehidupan kami. Aamiin..

***

Hari itu tanggal 22 maret, tak kan pernah kulupa. Hari dimana ayah memberikan kejutan spesial. Ayah memang sosok yang dingin, tapi ia selalu memiliki rahasia. Kejutan-kejutan tak pernah lepas darinya, kejutan yang selalu dinantikan.

Sepulang ayah dari kerja, ia langsung menuju kamarku. Ia membawa sebuah kotak kecil. Aku belum terlalu memperhatikannya. Namun, ia sendiri yang membuka kotak tersebut. Ternyata, kotak itu berisi sebuah HP qwerty, HP model baru yang sedang nge-trend saat itu. Adik-adikku pun heboh mengerubunginya. Aku ikut melihat, namun perasaanku biasa saja. Ayah memang selalu begitu jika mempunyai sesuatu yang baru. Membukanya bersama-sama, serasa ingin berbagi kebahagiaan bersama kelima anaknya.

Tak disangka, tak dinyana. Setelah kehebohan sesaat itu berakhir. Tiba-tiba ayah berkata, “Husna, ini HP buat kamu.”

Rasanya seolah tak percaya, “Apa benar yah?”

“Iya nak”.

Aku pun masih ragu, apalagi ketika ibu bertanya, “Ayah yakin HP baru itu buat Husna? Dia kan sudah kelas tiga, waktunya belajar untuk mempersiapkan Ujian Nasional.”

“Ayah yakin. Biarlah ini menjadi hadiah ulang tahun Husna. Dia kan sudah besar, pasti bisa mengatur dirinya sendiri,” ujar ayah yakin.

Saat itu, ayah yang semula kukira hanya memamerkan suatu barang baru dan akan digunakan sendiri, ternyata salah total. Ayah dengan senang hati memberikannya untukku. Padahal tak terpikirkan sama sekali olehku. Maklum, aku tak pernah punya HP sebelumnya. Dan, semua perasaan ragu itu terbayar lunas dengan kado sebuah HP model terbaru. Sekali lagi, cara ayah selalu tak terduga.

Dikarenakan kepercayaan ayah yang begitu besar, aku pun tak mau terlena oleh HP. Aku merasa harus bisa membuktikan bahwa aku juga bisa membuat ayah senang dan bangga. Saat itu pula janji  terucap, tak akan kusentuh HP hingga selesai masa Ujian Nasional. Hari-hari kuhiasi dengan belajar, hingga akhirnya selesailah masa-masa melelahkan itu. Aku pun kembali berhasil menduduki bangku di salah satu SMA favorit di kotaku.

***

Salah satu sifat ayah yang aku anggap sebagai kelebihan adalah demokratis. Tak pernah sekalipun ia memaksakan kehendak pada anak-anaknya. Namun, tidak pula lepas kontrol tanpa peduli apa yang terjadi. Sebaliknya, ayah selalu memberi pertimbangan-pertimbangan dalam setiap pilihan yang nantinya akan kami putuskan. Dan pada akhirnya, pandangan yang diberikan oleh ayah dapat kami gunakan sebagai tonggak untuk memutuskan keputusan akhir. Terutama urusan sekolah, tak pernah ia menuntut ini itu. Sungguh, senangnya menjadi anak ayah.

Dalam hal pendidikan, ayah layaknya pahlawan bagi kami. Segalanya rela ia korbankan demi sekolah kami. Ayah yang pendapatannya tidak seberapa, namun aku paham bahwa ayah selalu menomorsatukan uang untuk biaya sekolah anak-anaknya. Anak lima bukanlah perkara enteng untuk menyekolahkan semua dengan lancar.

“Kamu tenang saja, tidak usah pikirkan biaya sekolah. Yang penting belajar rajin dan raih cita-citamu. Ayah akan bekerja sekuat tenaga, karena harapan ayah adalah, semua anak ayah harus lulus minimal hingga sarjana. Bahkan, jika terpaksa tidak ada biaya sekalipun, akan ayah jual rumah ini.”

Aku pun kaget sekaligus kagum akan pernyataan ayah. Perasaan senang dan lega menyeruak di hati. Tak dapat dipungkiri, sekolah tinggi memang impian kami. Diam-diam, ayah benar-benar paham apa yang sering aku khawatirkan. Bukan hanya karena pendapatan ayah yang tak menentu, namun juga usia ayah terus tergerus oleh waktu. Bahkan tak jarang ia tergeletak sakit hingga tak bisa berjalan karena asam urat yang dideritanya kambuh.

“Tapi, kalau ayah jual rumah ini, lalu kita akan tinggal di mana?” aku masih  menyangsikan keputusan akhir ayah jika hal terburuk terjadi. Maklum, rumah yang kami tinggali ini adalah rumah satu-satunya sekaligus harta paling berharga milik keluarga kami.

“Itu mudah saja, ayah rela tinggal di rumah kontrakan asal anak ayah bisa kuliah semua.”

Prinsip kuat yang membutuhkan tanggung jawab besar. Rasa terharu hinggap dalam kalbu. Sederhana saja pikiran ayah, namun sungguh berarti buatku.

Meski ayah tak pernah memaksakan ataupun menuntut apapun, tapi melihat usaha dan harapan yang begitu besar, otomatis rasa tanggung jawab sebagai anak tentulah ada. Terbesit rasa malu jika kerja keras itu hanya dibayar dengan bermalas-malasan saja. Tak enak hati aku dibuatnya jika aku sekolah tidak sungguh-sungguh dan tanpa hasil prestasi membanggakan.

Sejak SD hingga detik ini, ayah selalu menaruh segala keputusan hidupku pada diriku sendiri. Hendak belajar atau tidak, hendak malas atau rajin, hendak les atau cukup sekolah saja, hendak pilih sekolah yang mana dan hendak memutuskan jurusan apa. Mutlak semua ada di tanganku. Dengan cara begini, tidak pernah aku merasa diberatkan. Sehingga, semuanya berjalan berdasarkan kesadaran masing-masing.

***

Hari yang ditunggu tiba, hari di mana pengumuman hasil try out Ujian Nasional SMA. Kusampaikan dengan jujur nilai-nilaiku apa adanya.

“Ayah, nilai try out ku jelek. Aku divonis tidak lulus karena nilaiku belum memenuhi syarat. Bagaimana yah?” aku mengatakannya dengan rasa bersalah.

Dari kecil ayah sudah melatihku untuk tidak berbohong, katakan apa adanya. Sehingga, mau tidak mau, seburuk apapun nilaiku, wajiblah kusampaikan. Aku bingin agar ayah tahu kemampuanku serta masalah apa yang sedang kuhadapi.

“Sudahlah, kalau tidak lulus ya diulang lagi. Santai saja, nanti juga lulus.”

“Tapi yah, kan aku belum paham pelajaran-pelajarannya.”

“Jangan pernah kau hiraukan hasil itu, tenang saja, itu baru percobaan. Seperti alat ukur, jika hasilnya masih kurang ya ditambah, jika sudah baik ya dipertahankan. Tidak usah terlalu dipikirkan. Yang penting tidak mempengaruhi semangat belajarmu.”

Pendapat ayah jauh dari yang kubayangkan sebelumnya. Perasaanku yang sudah tidak karuan dan sedih karena belum bisa memberikan hasil maksimal. Tapi ternyata, apa yang disampaikan ayah itu laksana penyejuk hati di kala gersang. Tak kusangka, ayah yang biasanya bersikap serius, malah menanggapinya dengan santai. Andai kalian ketahui, dukungan moril seperti inilah yang paling kusuka dari ayah.

Kalau ngobrol santai bersama ayah memang jarang, lebih sering membicarakan hal-hal serius. Tentang sekolah misalnya, masa depan, hingga perpolitikan di Indonesia. Karena sekarang aku akan menginjak bangku kuliah, tentu perbincangan kita lebih kepada pemilihan jurusan, lika-liku perkuliahan, dan tentunya masa depan. Ayah selalu memiliki tips-tips tersendiri terkait hal-hal tersebut.

“Husna, kamu mau ambil jurusan apa?” tanya ayah pada suatu kesempatan.

“Aku akan ambil jurusan biologi, gimana menurut ayah?”

“Kalau yang namanya jurusan harus betul-betul yakin dan senang dengan apa yang dipelajarinya. Jangan sampai kamu salah ambil jurusan. Coba renungkan betul apa minat kamu. Tidak baik jika telah melangkah setahun atau dua tahun lantas kamu merasa tidak cocok dan akhirnya memutuskan ganti jurusan,” nasehat ayah dengan serius.

“Iya sih, betul juga, tapi aku benar-benar suka dengan biologi. Insyaallah serius dan senang menjalaninya.”

“Nah, yang penting itu dulu. Kalau kamu suka biologi ya ambil saja, tekuni dengan sungguh-sungguh. Meski terkait ke depannya kamu juga harus pikirkan apa saja yang akan kamu lakukan selepas kuliah nanti. Akan bekerjakah atau lanjut kuliah lagi, mulailah kamu rencanakan juga. Jangan hanya berpikir satu langkah saja. Berpikirlah sepuluh langkah ke depan. Agar nantinya setelah lulus tidak bingung mau melakukan apa.”

“Iya yah, impianku nanti bisa lanjut S-2 bahkan S-3, sedangkan cita-citaku ingin menjadi dosen sekaligus ilmuwan yang bisa memajukan kesejahteraan bangsa Indonesia. Doakan selalu semoga lancar dan ilmunya berkah.”

“Aamiin, doa ayah akan selalu mengalir untukmu tanpa kamu minta.”

***

Kekagumanku tak ada habis-habisnya jika membicarakan tentang ayah. Banyak hal-hal yang masih harus kupelajari dari sosok ayah. Beliau adalah orang yang sangat kuat dalam memegang prinsip hidupnya, tak mudah goyah oleh cobaan maupun goncangan. Selalu mau berjuang demi keluarganya dengan penuh tanggung jawab, serta kepribadiannya yang khas.

Terima kasih ayah, telah menjadi bagian dari hidupku yang sangat berjasa dan tak mungkin kulupakan. Terima kasih telah menyayangiku dengan cara ayah. Biarlah semua berjalan, tapi cara ayah selalu kurindukan. Cara-cara yang khas, cara yang menyenangkan nan penuh kejutan. Ayah adalah lelaki paling hebat perjuangannya yang pernah kukenal. Doaku selalu untuk kebahagiaan ayah, kebahagiaan kita dan kebahagiaan kami semua, di dunia maupun di akhirat kelak. Aamiin..

*Semoga Menginspirasi*

May ‎01, ‎2013, ‏‎11:38:46 PM #dengansedikitpolesan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s