Malang, I’m coming !!!

Traveling menjadi hal yang menjadi impianku sejak membaca novel atau buku catatan perjalanan. Seperti hal mengasyikkan yang tak bisa ditebak, entah berujung kemana, akan sampai tujuan atau bahkan terdampar di suatu tempat lain yang jauh dari target semula. Namun di luar itu semua, tersimpan hal-hal menarik yang patut untuk dicoba. Ingin rasanya berkelana ke penjuru bumi tanpa kepastian. Kepastian yang bisa membatasi ruang gerak kita.

Ternyata impianku yang dulu sekadar keinginan terpendam mulai ada jalan keluar. Liburan setelah kelulusan SMA adalah waktu panjang yang menawarkan peluang itu. Tak lama berselang, tiba-tiba ayah mengajakku dan adik untuk berwisata. Ayah ingin wisata kali ini berbeda dan berkesan. Ia mengajakku traveling ke Malang, kota yang belum pernah aku sambangi. Meski ayah pernah ke Malang, namun itu sudah 27 tahun yang lalu, itupun seperti tak membekas di ingatan karena saat itu ayah masih duduk di bangku kuliah.

Jadilah kita sepakat akan pergi ke Malang tanpa tahu bagaimana peta kota Malang dan transportasi apa saja yang bisa membawa kita berkeliling di Malang nantinya. Namun sebelum itu, kami sempat googling dan mencari informasi wisata di kota Malang dan sekitarnya. Ternyata yang paling populer adalah Jawa Timur park atau biasa disebut Jatim Park. Kita pun tertarik untuk ke sana.

Berhubung adikku belum pernah naik kereta, jadilah kami memutuskan untuk berangkat naik kereta. Saat itu aku ada keperluan sehingga ayahlah yang memesankan tiket. Akhirnya tiket dengan keberangkatan hari kamis 4 juli 2013 berhasil di dapat. Tiket kelas ekonomi jurusan Solo-Malang tersebut kami dapat seharga 130 ribu rupiah per orang.

Pukul setengah sebelas malam kami telah bersiap menanti kereta di stasiun Balapan Solo. Kereta dijadwalkan berangkat pukul 23.10 dan tiba pukul 5.30 WIB di Malang. Kereta kelas ekonomi yang kami tumpangi ternyata sangat jauh dari perkiraanku. Kereta ini sama sekali berbeda dengan kereta ekonomi yang pernah kutumpangi waktu berangkat ke jakarta beberapa bulan lalu. Kereta ekonomi kali ini ber-AC, tak ada yang merokok, bersih, tempat duduknya nyaman, pintu gerbong selalu tertutup sehingga tak ada pedagang asongan atau orang-orang yang bebas keluar masuk kereta dan suara jalannya kereta juga tak terlalu terdengar dari dalam gerbong. Dengan segala fasilitas tersebut, pantas saja harganya mahal. Padahal pada keberangkatan satu hari sebelumnya, kereta kelas ekonomi tujuan Malang dijual seharga 80 ribu rupiah per kursi.

Perjalanan malam dengan segala kenyamanan sungguh membuatku terlelap tidur. Namun tiba-tiba saja aku dikagetkan oleh suara ayah yang membangukanku. Ayah menyuruhku untuk turun karena kereta sudah sampai. Dengan spontan aku menyahut ranselku dan segera keluar gerbong bersama ayah dan adik. Setelah turun, terdengar informasi bahwa kereta jurusan Solo-Malang akan segera melanjutkan perjalanan. Kami pun menjadi bingung dan bertanya pada petugas, ternyata memang stasiun ini bukan tujuan terakhir dan masih akan melanjutkan perjalanan. Sontak kami pun berlarian menaiki kereta lagi karena tujuan terakhir adalah kota Malang.

Sebenarnya saat disuruh turun aku sempat merasa bingung karena penumpang lain belum bersiap untuk turun. Tapi kuturuti saja lah, maklum belum terlalu sadarkan diri. Setelah duduk kembali ke dalam gerbong, barulah aku tahu kalau ayah tadi diberitahu oleh orang yang duduk di dekatnya bahwa ini sudah sampai di Malang, dan orang itu pun turun di stasiun tersebut. Maka ayah pun percaya dengan orang itu karena saat memperkenalkan diri, orang tersebut mengaku bahwa ia orang Malang. Tak ada yang salah, karena stasiun itu memang sudah ada di Malang. Namun masih ada stasiun yang lain sebagai tujuan akhir. Sebenarnya terbesit rasa malu, tapi biarlah, maklum belum berpengalaman. Tak ada yang bisa disalahkan. Pengalaman adalah guru terbaik. Pengalaman yang satu ini sungguh unik dan lucu, apalagi saat membayangkannya kembali.

Turun di stasiun Malang kota baru, tujuan pertama kami adalah mushola. Setelah solat subuh, kami duduk-duduk di kursi yang berjejer di stasiun. Saat duduk sejenak untuk beristirahat dan menghirup udara kota Malang untuk pertama kalinya, saat itu pula ayah ditawari seseorang untuk menyewa taksi yang sebenarnya tak bisa disebut taksi. Taksi yang ini hanyalah berupa mobil hitam lawas yang aku lupa mereknya dan tak ada argo di sana. Setelah berbincang cukup lama dengan sang sopir, akhirnya kami setuju untuk menyewa mobil itu sampai ke daerah Batu. Sampai akhirnya kami mengetahui bahwa Jatim Park bukan di kota Malang, namun terletak di kota wisata Batu.

Jalanan di kota Malang saat pagi hari benar-benar lengang. Kami pun sempat melewati Universitas Brawijaya yang masih sepi. Jalanan masih lancar dan kendaraan melaju kencang. Kami diantar sang sopir ke daerah penginapan di dekat Jatim Park 2. Biaya yang diminta sang sopir dari stasiun Malang hingga kota Batu sebesar 125 ribu. Jujur, itu mahal, maka dari itu, di perjalanan selanjutnya kami berniat naik angkutan umum saja. Kami merencanakan menginap satu hari di salah satu homestay di desa Oro-oro Ombo kota Batu. Di sana, kanan kiri jalan dipenuhi homestay yang memang menjadi bisnis baru yang digandrungi warga setempat setelah adanya Jatim Park.

Kami menyewa homestay berupa satu rumah berukuran sedang dengan 3 kamar, 1 kamar mandi yang dilengkapi air hangat, 1 ruang tamu, 1 ruang keluarga yang dilengkapi TV, serta 1 dapur yang dilengkapi peralatan masak dan peralatan makan. Sang pemilik rumah juga menyediakan gula, teh dan kopi. Ia juga menjanjikan susu segar gratis di keesokan harinya. Homestay tersebut disewakan seharga 450 ribu per malam. Namun jika di hari sabtu dan minggu akan ditawarkan seharga 550 hingga 750 ribu per malam. Letaknya tidak jauh dari tempat wisata, yakni di tengah-tengah antara Jatim Park 2 dan BNS alias Batu Night Spectacular. Sehingga kami bisa mencapai 2 obyek wisata tersebut hanya dengan berjalan kaki.

Karena hari itu hari Jumat, maka ayah harus menunaikan sholat Jumat terlebih dahulu. Sedangkan aku dan adik menunggu di homestay. Sekitar jam 1 siang kami sampai di Jatim Park 2. Kami di sambut dengan kemegahan museum satwa dan hotel dalam pohon raksasa yang sangat unik. Tiket masuk ke Jatim Park 2 yaitu 90 ribu rupiah, harga yang mahal karena musim liburan. Sedangkan pada hari biasa hanya 65 ribu. Tiket tersebut sudah termasuk tiket Batu secret zoo, museum satwa, dan 35 wahana permainan.

Setelah masuk, kita akan disambut oleh tikus-tikus raksasa. Baru masuk saja sudah terkesan dengan tikus, setidaknya itulah yang kurasakan. Selain itu, arsitektur kebun binatang ini begitu istimewa, berbeda dengan kebun binatang lainnya. Meski pada awalnya saya sempat malas-malasan ketika akan memasukinya. Gambaran kebun binatang yang biasanya membosankan karena begitu-begitu saja berkelebat di pikiranku. Namun, setelah melihat langsung, ternyata kenyataannya sangat berbeda. Pengunjung akan merasakan suasana baru, dan Batu secret zoo adalah kebun binatang terbaik yang pernah kukunjungi.

Dari pintu masuk, pengunjung telah digiring melalui satu jalan berkelok-kelok yang di kanan-kirinya adalah kandang-kandang hewan. Hewan-hewan tersebut seperti menyambut kita satu persatu tanpa perlu kita susah-susah mencari kandangnya. Cukup mengikuti satu jalur yang telah disediakan, kita bisa menikmati semua tingkah polah binatang yang menggelikan.

Ada satu area terbuka yang sangat luas, sedangkan kita akan berjalan di tengah-tengahnya. Area tersebut diberi nama savanah, yang dibuat menyerupai daerah di benua Afrika. Savanah terdiri dari tanah kering dan tandus, serta hanya ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan ala Afrika. Semua binatang di savanah didatangkan langsung dari benua Afrika. Hanya sebilah kaca yang membatasi kita dengan para binatang Afrika ini. Sungguh sensasi berada di benua Afrika sangat terasa.

Jujur, saking jauhnya jalan yang ditempuh dan sepertinya tidak ada yang namanya jalan pintas, maka kaki ini pun mulai meminta istirahat. Memang disediakan beberapa kursi peristirahatan, namun rasa penasaran akan seberapa jauh lagi kaki harus melangkah mampu mengalahkan rasa letih. Ditambah kejutan-kejutan lain yang akan didapat tiap kali melihat hewan-hewan di area lain.

Sebenarnya ada fasilitas lain yang ditawarkan untuk mengobati rasa letih, yakni e-bike. Modelnya seperti sepeda kecil yang memiliki tempat duduk berjejer yang bisa dinaiki dua orang tanpa kita harus mengayuh. Harganya cukup mahal, kita harus membayar 100 ribu rupiah per jamnya. Yang jelas, tentu tidak cukup hanya satu jam untuk menjelajahi Jatim Park yang sangat luas ini. Disamping harganya yang mahal, akan ada sedikit rasa kurang puas karena tidak merasakan berjalan kaki sendiri.

Nah, setelah berjalan kaki cukup jauh, tibalah saatnya beristirahat dan bertemu arena bermain yang memang sudah ditunggu-tunggu. Di area inilah terdapat 35 wahana permainan, atau bahkan lebih. Di sini pula terdapat tempat peristirahatan yang memadai, yakni area makan dan minum dengan berbagai pilihan. Meski sedikit kecewa karena tiba di Jatim Park sudah terlalu siang, tapi baru kali ini kami mendapat hikmahnya. Kita bisa berkeliling-keliling mencoba wahana satu-persatu dengan nyaman tanpa dilanda panas matahari. Maklum, saat tiba di arena permainan, hari sudah beranjak sore.

Ada 6 wahana yang aku coba, mulai dari rumah hantu, gurita, roller coaster, tsunami, safari 5 benua, hingga animal coaster. Dari semua wahana yang kucoba, animal coaster lah yang menurutku paling menegangkan. Dengan jalur berkelok-kelok dan ketinggian yang membuat deg-degan, ditambah satu kereta hanya untuk dua orang, wahana ini benar-benar berhasil  membuatku tak bisa berhenti berteriak atau pun berdoa di sepanjang jalurnya. Hal yang paling menakutkan adalah ketika kereta berbelok tajam di daerah paling atas dengan tidak manusiawi. Rasanya seperti akan terpental keluar kereta dan jatuh di pekarangan rumput samping wahana. Satu hal kesimpulannya, saya tidak akan mau naik animal coaster lagi!

Selain segala bentuk permainan, dari yang paling anak-anak hingga yang bisa membuat pusing nenek-nenek, ada hal lain yang menarik perhatian pengunjung, yakni aksi-aksi mengagumkan dari singa laut. Kedua singa laut yang melakukan atraksi-atraksi ini didatangkan langsung dari Spanyol. Jadi, bagi pengunjung yang mungkin tidak berani menaiki permainan-permainan menegangkan atau mempunyai penyakit tertentu, menikmati atraksi singa laut bisa menjadi solusinya.

Hari sudah sore, tentunya ingin segera beristirahat di homestay. Perkiraan saya, setelah melewati segala permainan ini, kita bisa langsung bertemu pintu keluar. Namun ternyata salah besar, pengunjung masih harus melewati suguhan hewan-hewan buas yang bahkan saya sendiri tidak sadar jika belum melihatnya. Di akhir perjalanan ini terdapat gajah, harimau, macan, dan masih banyak lainnya. Hal paling menarik adalah ketika melewati jembatan yang di bawahnya terdapat kuda nil dengan ukuran sangat besar. Selain itu, di dekat jembatan terdapat kapal besar dengan nama kapal nabi nuh.

Selesai dengan kebun binatang, masih ada satu tempat lagi yang wajib dikunjungi. Museum satwa terbesar dan terlengkap di Indonesia. Museum ini dilengkapi dengan kerangka dinausaurus, kerangka ikan raksasa, dan kerangka hewan-hewan yang telah punah lainnya. Tak hanya itu, kita juga disuguhi hewan aslinya yang telah mati, namun benar-benar terlihat seperti aslinya. Tata letak hewan serta latar belakang hutan-hutan benar-benar membuat kita seperti berada di alam habitatnya. Hewan yang mungkin sulit kita temui pun ada di sini dengan segala tingkah polahnya, seperti ular yang sedang menelan kijang, zebra melawan kuda dan harimau menerkam kijang. Kita akan dibawa ke dalam habitat aslinya. Ada pula pinguin dan beruang kutub yang ukurannya sangat besar. Museum satwa ini memberikan pengalaman dan kesan tersendiri terhadap kelestarian satwa di dunia ini.

Setelah keluar dari museum, barulah lega karena telah melihat semuanya meski hari sudah menjelang maghrib. Saran bagi yang ingin ke Jatim Park 2, datanglah pagi hari karena waktu sehari saja terasa kurang cukup untuk bisa menikmati semuanya, jalur yang dilewati pun juga jauh. Jatim Park 2 ditutup pada pukul 18.00 WIB.

Sebelum kembali ke homestay, kita mampir dulu ke warung di depan Jatim Park 2, saya pun melahap bakso Malang yang nikmat dengan ditemani teh panas untuk mengurangi rasa dinginnya kota Batu. Selesai makan, kita berjalan kaki ke homestay untuk beristirahat.

Pagi harinya, pemilik homestay menyediakan susu segar gratis sebagai fasilitas homestay. Memang banyak warga mempunyai sapi perah yang menghasilkan susu segar dengan rasa yang masih asli. Pada hari kedua ini, kami berniat mengunjungi Selecta. Salah satu tempat wisata yang terkenal di Malang dan tempat ini sudah lama dibangun. Selecta berada di wilayah yang dikelilingi pegunungan, dengan fasilitas kolam renang yang airnya begitu dingin, juga ada beberapa permainan anak-anak. Kami berangkat dari Jatim Park 2 naik angkot menuju terminal Batu dengan biaya 2500 rupiah per orang. Lalu dilanjutkan naik angkot jurusan Selecta dengan biaya 4000 rupiah per orang. Di sepanjang kanan kiri jalan menuju Selecta, banyak ditemui kebun-kebun apel dan kios-kios penjual apel Malang. Tiket masuk ke Selecta sebesar 15 ribu rupiah. Di Selecta juga terdapat kios kecil-kecilan yang menjual pakaian, buah-buahan dan berbagai jenis kripik buah.

Kolam renang di Selecta dibagi menjadi beberapa kategori, kategori pertama untuk dewasa dengan kedalaman 2 meter dilengkapi fasilitas lompat yang tinggi dan perosotan yang juga tinggi. Kategori kedua adalah untuk anak-anak dengan kedalaman bervariasi dengan dilengkapi fasilitas perosotan berkelok-kelok yang cukup tinggi namun aman bagi anak-anak. Kategori ketiga adalah untuk balita dengan kolam yang kedalamannya sangat pendek, namun dilengkapi fasilitas permainan paling banyak. Selain kolam, ada juga ayunan raksasa yang bisa dinikmati semua kalangan. Setelah puas berenang di Selecta, kami membeli pop mie seharga 6 ribu rupiah dan sekotak nasi goreng seharga 15 ribu rupiah.

Pulang dari Selecta, kami kembali naik angkot, namun kali ini bapak angkot bersedia mengantar kami langsung ke Jatim Park 2 yang dekat dengan daerah homestay tanpa beralih angkot di terminal Batu. Sayang, kami tidak bisa langsung istirahat di homestay karena sebelum berangkat kami sudah pamit kepada pemilik homestay dan sudah berniat kembali ke Solo. Namun rencana tersebut batal karena kursi travel ke Solo sudah habis dan tinggal tersedia kursi dengan keberangkatan  esok harinya. Kami pun batal pulang dan harus mencari kembali kesana kemari homestay yang cocok dengan kantong. Akhirnya kami pun mendapat homestay lain yang letaknya lebih jauh dari jalan raya dengan harga 300 ribu rupiah per malam. Kami pun beristirahat di sana selama semalam.

Namun, malam itu tidak kami sia-siakan begitu saja. Masih ada satu obyek wisata yang mengganjal di benak kami, yakni BNS alias Batu Night Spectakuler. Seperti pasar malem namun jauh lebih modern dari pasar malam biasanya. Kami berjalan kaki menuju BNS sekitar pukul tujuh malam. Tiket masuknya seharga 20 ribu rupiah per orang. Namun, di setiap wahananya kita wajib membayar kembali jika ingin menikmatinya, harga tiket wahana permainan mulai dari 7500 hingga 12.500 rupiah per wahana. Satu hal yang membuat BNS begitu menarik perhatian, yakni permainan lampu yang luar biasa megahnya. Ditambah wahananya yang menarik serta menguji adrenalin, seperti kursi terbang dan sepeda udara. Melalui kursi terbang dan sepeda udara, rasanya kita bisa melihat seluruh area BNS. Karena BNS berada di daerah atas, maka kita bisa melihat lampu-lampu rumah yang ada di lembah-lembah gunung. Rasanya wow banget. 2 wahana tersebut yang terlihat paling menantang dan juga paling asyik, bisa dilihat dari antriannya yang super panjang, dan memang hanya 2 wahana tadi yang berhasil menarik perhatian saya dan akhirnya saya tumpangi. Namun sebenarnya, masih banyak wahana lain yang menarik, seperti rumah hantu, lampion, rumah kaca dan bom-bom car.

Malam terakhir di Batu benar-benar kami manfaatkan. Itu saja belum semua terpenuhi, masih ada 1 tempat yang terlewatkan yakni pasar malem yang menjual berbagai pernak-pernik dan kerajinan tangan khas Batu yang sebenarnya sayang untuk dilewatkan. Sehingga, kami pulang tanpa membawa cinderamata apapun dari Batu. Kami sampai di homestay hampir jam 12 malam. Namun, sebelumnya kami mampir dulu ke restoran dekat BNS. Harga satu porsi makan di sana sekitar 10 hingga 20 ribu rupiah.

Pagi harinya, kami sudah berkemas barang untuk pulang naik travel yang bersedia menjemput di homestay. Sebelum pulang, kami masih menyempatkan diri untuk jalan-jalan ke pasar Batu sekaligus menghirup udara segar pegunungan di pagi hari. Di pasar kami belanja apel Malang, karena itulah makanan khas dan oleh-oleh yang menurut kami pas untuk di bawa pulang. Kami membeli 2 jenis apel, jenis pertama seharga 13 ribu per kilo, sedangkan jenis kedua seharga 27 ribu per kilo. Dan ternyata apel yang harganya 27 ribu itu rasanya lebih kecut dari yang pertama. Di pasar, kami juga membeli nasi bungkus di sebuah warung kecil untuk sarapan pagi seharga 9 ribu rupiah, dengan lauk ayam dan sayuran dengan porsi besar.

Sekitar pukul 9 pagi kami berangkat dengan mobil travel jurusan Malang- Solo seharga 110 ribu rupiah per kursi. Di tengah perjalanan, yakni di Madiun kami disediakan makan siang dengan sistem prasmanan. Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan menuju Solo, dan tiba di Solo sekitar pukul 8 malam dengan selamat. Alhamdulillah…

Nah, begitulah sedikit cerita dariku, semoga bermanfaat dan tentunya menambah inspirasi teman-teman dalam menentukan tempat wisata yang akan dikunjungi, sekaligus bisa memperkirakan biaya yang harus dipersiapkan untuk jalan-jalan ke tempat-tempat wisata. Senang bisa berbagi pengalaman dengan teman-teman. Bagi yang ingin bertanya, memberi saran atau sekedar berkomentar silahkan, akan diterima dengan senang hati. Apalagi jika teman-teman pun bersedia berbagi pengalaman juga.

July 13, 2013, 6:27:01 AM until August 15, 2013, 9:36:28 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s