Perjalanan ke Brebes hingga Kuningan

Jumat 07:00 pm – senin 05:00 am/21-24 Juni 2013

Perjalanan dimulai pada hari Jumat, tepatnya sehabis maghrib, aku beserta keluarga dari paman dan bulek sudah ngumpul di rumah paman di daerah Solo. Perjalanan kami tempuh menggunakan mobil APV dengan tujuan Brebes. Sayangnya, bensinnya sudah hampir habis, jadi harus beli bensin terlebih dahulu. Sampai di pom bensin, ternyata antrian pembeli BBM yang terdiri dari mobil dan motor sangat-sangat banyak. Kondisi ini karena hari Jumat malam itu adalah hari dimana harga BBM akan dinaikkan. Antrian membludak hingga ke jalan raya, sehingga menimbulkan kemacetan luar biasa. Jujur, ini adalah pemandangan antrian di pom bensin paling mengesankan, saking penuhnya. Akibatnya, kami baru bisa lega dan bebas melenggang dari pom bensin tersebut pada pukul 7 malam. Bener-bener momen istimewa, sampai-sampai banyak pengendara yang mengabadikan antrian panjang melalui ponselnya.

Perjalanan malam adalah perjalanan yang kusukai dibanding perjalanan siang. Malam menjadi waktu ideal karena bisa dimanfaatkan buat tidur di mobil dan tidak membuang-buang waktu. Alasan lain yaitu jalanan yang lumayang lengang jika malam hari. Sedangkan perjalanan siang akan lebih macet dan hawa yang panas di dalam mobil. Berada di mobil sambil menikmati perjalanan jauh adalah momen favorit, karena bisa melihat keadaan di kanan kiri jalan yang masih asing.

Di waktu keberangkatan, jalanan lumayan lancar, namun setelah melewati Kendal, ada beberapa titik kemacetan, yakni disebabkan perbaikan jalan. Yang membuat kejutan di malam hari adalah penuhnya jalan yang disesaki oleh truk-truk besar dengan muatan yang berat serta melebihi kuota penuh.

Kami beristirahat sejenak di rumah makan Salsabil di Kendal sambil menikmati hidangan di sana. Agak berat juga saat baru saja terlelap, tiba-tiba di suruh makan jam 11 malam. Tapi dikarenakan perut yang keroncongan, maka menu opor ayam yang kupilih langsung ludes juga. Sehabis makan dan melanjutkan perjalanan, aku pun terlelap tidur lagi dan baru bangun setelah melewati Alas Roban. Kemudian sampai di Tegal pada pukul 4 pagi, tepatnya di pom bensin MURI Tegal yang katanya memiliki 100 kamar mandi. Kami istirahat, solat dan meneguk segelas kopi panas yang harganya ternyata 7500 kawan. Wow, kaget! Berangkat lagi sekitar pukul 6 dan tiba di Brebes pada pukul 7 pagi, ini juga dikarenakan macet dan jalan di Brebes yang sedang diperbaiki.

Pagi-pagi kami sudah mampir ke rumah makan sate kambing milik saudara paman. Namanya rumah makan Murni, karena pemiliknya bernama Murni. Di sana kami dijamu makan sop kambing. Ini kali pertama kalinya saya makan sop kambing Brebes. Rasanya enak banget, tapi agak pedes karena merica. Satenya juga enak, pantas saja grup band ungu pernah singgah di rumah makan ini. Ada bukti foto yang ditempel di dinding rumah makan. Setelah kenyang, kami beranjak pergi karena hendak menjemput saudara sepupu saya di pondok pesantren Husnul Khotimah Kuningan, atau biasa disebut HK.

Pondok HK terletak di kaki gunung Ciremay, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Maka dari itu, udara di sana sejuk dan dingin, apalagi airnya, kaya air es (lebay sih). Saat kami ke sana, belum waktunya liburan sekolah, maka suasana di pondok masih rame. Kesan pertama mengunjungi pondok adalah rasa persaudaraan yang tinggi. Saat menjemput adik sepupu, dia bukannya langsung mengajak pulang, tapi malah meminjamkan HP milik orangtuanya untuk dipakai teman-teman di pondok untuk menghubungi orangtuanya masing-masing. Bahkan, ada yang mau pulang kampung bersama kami, namun sayang tidak mendapat izin dari pihak pondok.

Setelah muter-muter pondok, melihat-lihat kamar asrama dan gedung sekolah. Akhirnya sampai juga di kantin. Jajanan di kantin cukup beragam, tapi kami memutuskan membeli es jagung. Penasaran juga dengan namanya, baru denger ini. Ternyata yang namanya beli es jagung itu perjuangan. Perjuangan antriannya. Rasanya seger, isinya jagung rebus dicampur susu kental manis vanila. Mantab deh, gak sia-sia perjuangannya, maklum haus.

Belum puas dengan es jagung, saat perjalanan pulang dari pondok, kita masih mampir beli es pisang ijo, katanya sih khas Makassar. Salah banget kalo ngira pisangnya ijo, yang ijo cuman bungkusnya. Selebihnya, seperti pisang biasa. Es-nya cocok buat ngilangin laper dan bukan buat ngilangin haus. Soalnya, komposisinya adalah pisang, bubur sum-sum, bubur mutiara, tape, susu dan sirup. Airnya dikit banget, kalo haus harus tunggu si es mencair dulu.

Lokasi selanjutnya yang kami singgahi adalah objek wisata Cibulan. Letaknya sangat dekat dengan pondok HK. Harga tiket masuknya, delapan ribu rupiah per orang. Cibulan adalah kawasan kolam renang, mulai dari kolam anak-anak lengkap dengan tempat bermainnya, sampai kolam orang dewasa. Uniknya, kolam renang di sini luas dan dilengkapi dengan ikan-ikan yang lumayan besar. Saya nggak tahu jenisnya, tapi sekilas warnanya hitam abu-abu. Silahkan rasakan sensasi berenang bersama ikan-ikan besar ini.

Selain kolam renang, ada juga kawasan terapi ikan. Tiap orang dikenakan tarif lima ribu jika ingin merasakan terapi ikan. Ikannya kecil-kecil, tapi kalau semua merubung kaki, rasanya juga merinding kaya kesetrum. Katanya sih, ikan-ikan akan memakan kuman-kuman yang ada di kaki, sehingga kaki akan bersih dan terasa seperti dipijat oleh ikan-ikan ini.

Di kanan kiri pintu masuk Cibulan, banyak kios-kios pedagang kerajinan tangan yang elok-elok. Ada yang bersifat sebagai hiasan saja dan ada pula yang dapat digunakan sebagai peralatan sehari-hari. Tersedia pula berbagai mainan anak-anak dan beragam jam tangan dengan harga terjangkau. Keluarga paman memilih untuk membeli bunga-bunga kecil warna-warni sebagai hiasan di ruang tamu.

Puas bermain di Cibulan, kami kembali menuju ke Brebes untuk menghadiri acara resepsi pernikahan salah satu adik dari paman. Saat kami datang, hanya ada iringan lagu-lagu dari kaset yang disetel. Setelah itu kami dipersilahkan masuk ke rumah dan dijamu dengan makanan kecil-kecilan. Dan ketika hendak keluar, kami dijamu dengan makan besar yang dihidangkan secara prasmanan. Sepertinya tidak ada jam yang pasti harus datang dari jam sekian hingga jam sekian.

Malam itu kami menginap di rumah orangtua paman di Brebes. Letaknya di sebuah desa yang untuk sampai di sana harus melewati jalan sempit yang berbatu dan sebuah jembatan yang untungnya sudah diaspal rapi, karena sebelumnya jembatan tersebut hanyalah dari kayu. Jarak dari jalan raya cukup jauh dan melewati banyak kelokan, hingga jika harus ke sana lagi pasti kulupa jalan mana yang harus dilewati. Tapi jangan mengira kondisi desanya memprihatinkan, karena rumah-rumahnya telah bercat warna-warni dengan alas keramik.

Sambutan keluarga di sana sungguh hangat, penuh keramahan. Mereka berusaha menjadi tuan rumah yang baik, namun terkadang aku tidak paham apa yang mereka bicarakan. Bahasa Brebes sangat unik, beberapa kali aku mengira bahwa salah satu kata yang mereka ucapkan adalah nama seseorang. Hingga aku bertanya, “rika itu siapa?” Lucu juga sih mengingatnya kembali.

Pagi harinya aku diajak oleh keluarga paman untuk silaturahim ke beberapa sanak saudara paman yang ada di Brebes. Yang terakhir kami kunjungi adalah warung sate Murni, yang ternyata mempunyai cabang yang letaknya tidak jauh dari warung pertama. Di sana kami silaturahim sekaligus pamit untuk kembali ke Solo. Tidak lupa disuguhi sate kambing yang sangat lezat karena selain teksturnya empuk, bumbunya juga sangat terasa. Bedanya sate di Brebes dengan di Solo adalah kecapnya yang diletakkan terpisah dengan satenya. Sehingga kita harus mencolekkan sate ke dalam kecap. Selain itu, kita juga bisa memesan kecap manis atau kecap pedas. Keunikan lainnya terletak pada daging kambing yang masih menjadi satu dengan tulang yang digantung di depan warung. Entah tujuannya untuk menarik perhatian atau apa, sebenarnya masih penasaran juga.

Di samping warung sate, ternyata ada sepetak tanah yang dimanfaatkan menjadi kolam ikan. Menurutku hal ini sangat kreatif. Saudaraku mencoba peruntungan memancing di sana. Beberapa kali umpan berupa cacing dimakan, namun tak satu ikan pun didapatkan. Hingga akhirnya kami pamit pulang karena waktu beranjak sore.

Perjalanan pulang dari Brebes-Tegal benar-benar macet, bahkan sesekali mobil kami terhenti total beberapa waktu. Setibanya di Tegal, kami mampir sejenak ke pantai. Meski ada objek wisata pantai, namun kami memilih untuk mengunjungi pantai yang terlihat dari pinggir jalan saja, sehingga hanya perlu melewati jalan kecil beberapa meter tanpa perlu membayar parkir dan tiket masuk.

Bermain di pantai yang ombaknya tenang karena tidak terlalu tinggi, sambil sesekali menikmati pemandangan indah di depan mata, membuat hati terasa damai. Di tepi pantai banyak terdapat cangkang kerang yang bentuknya begitu unik yang sudah ditinggalkan penghuninya. Namun, jika lebih jeli mau mencari, kita bisa mendapatkan kerang -atau apalah namanya- yang masih hidup.

Sambil menikmati pemandangan sunset di pantai, kami menyantap telur asin panggang  yang sebelumnya kami beli di warung telur asin yang banyak bertebaran di jalan raya Brebes.  Telur asin dan bawang merah adalah produk khas Brebes. Setelah puas berfoto ria dan matahari telah tenggelam, kami melanjutkan perjalanan pulang ke Solo dengan suasana perjalanan malam (lagi). Yang membuat kami bergidik ngeri adalah, selama perjalanan pulang ini kami telah menjumpai dua truk yang terguling. Satu truk terguling di pinggir jalan, sedangkan truk lainnya terguling di tengah jalan hingga barang bawaannya yang berkarung-karung tumpah di tengah jalan. Sesampainya di Solo, kami patut bersyukur karena telah diberi keselamatan hingga akhirnya tiba di rumah sekitar pukul 5 pagi. Alhamdulillah ya Allah…

July 12, 2013, 6:11:00 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s