[Mozaik Blog Competition 2014] Menulis itu Gampang, Menulis itu Asyik!

Image

Event Mozaik Blog Competition sponsored by beon.co.id.

Menulis memang bukan hal baru bagiku. Aku sudah menulis sejak kelas 5 SD. Saat itu, diadakan seleksi tingkat sekolah untuk memilih siswa yang akan diikutkan dalam lomba menulis resensi buku di salah satu SMP swasta di kotaku. Aku pun lolos dalam seleksi tingkat sekolah, dan dipercaya untuk mewakili sekolahku dalam lomba resensi buku tingkat kota. Aku pun senang dapat berpartisipasi dalam lomba tersebut meskipun tidak menyabet gelar juara.

Sejak kelas 1 SMP, aku sudah sering menulis berbagai pengalaman dan hal-hal yang menarik di dalam buku harian. Awalnya, aku termotivasi dari banyaknya buku harian yang terbit seiring dengan kesuksesan seseorang. Ternyata perjalanannya menuju kesuksesan memang telah mereka tuliskan dalam buku harian. Sehingga, menurutku buku harian akan memberikan sejarah tersendiri tentang diriku pada suatu hari nanti.

Setelah menulis berlembar-lembar bahkan hingga menghabiskan beberapa buku harian yang kupenuhi corat-coret kehidupanku dan segala curahan hatiku yang tentunya bersifat rahasia, tiba-tiba adikku usil membuka-buka buku harianku. Sejak saat itu, aku merasa semua yang kutulis di situ sudah tidak aman lagi, aku tidak bisa dengan bebas menceritakan semua curahan hatiku. Namun, kebiasaanku menulis tak bisa lenyap begitu saja, aku pun beralih menulis catatan harian di laptop. Menurutku, laptop adalah salah satu sarana menulis yang cukup aman.

Tidak hanya menulis buku harian, aku pun juga berusaha mengembangkan kemampuan menulisku dengan mendeskripsikan tentang profile atlet-atlet, karena ketika SMP aku memang sedang tergila-gila dengan dunia olahraga. Aku banyak membuat kliping olahraga, kemudian menuliskan beberapa keterangan tentang foto-foto yang kutempelkan.

Saat memasuki dunia SMA, aku sempat rehat sejenak dalam aktivitas tulis menulis. Lebih sering membaca novel-novel ketimbang menulis. Namun, saat memasuki kelas 3 SMA, aku mulai mengenal dunia blog. Sejak saat itu, aku kembali aktif menulis, namun bukan lagi hanya sekedar buku harian yang bersifat pribadi. Aku mulai mengembangkan tulisanku dalam bentuk artikel, resensi buku, ataupun membuat sinopsis film-film yang menurutku menarik. Semuanya aku post di blog. Rasanya senang sekali bisa berbagi melalui tulisan, apalagi bisa dibaca banyak orang. Semoga saja memberikan manfaat dan menginspirasi semua orang yang membaca tulisanku. Sekarang, aku sudah tidak malu lagi untuk mempublikasikan tulisan-tulisanku.

Sejak mengetahui dunia menulis di blog, aku pun lebih sering searching-searching di google tentang info-info lomba menulis. Rasanya kurang jika hanya menulis di blog, aku ingin lebih dari itu. Ingin lebih luas jangkauan pembacanya, ingin lebih menggali ilmu tulis menulis, dan yang lebih penting, ada suatu tantangan tersendiri dalam menulis untuk sebuah lomba atau kompetisi.

Nah, suatu hari, aku membaca info lomba menulis cerpen yang diadakan oleh salah satu fanpage di facebook, yaitu fanpage Indahnya Islam atau lebih sering disebut Indhis. Aku pun tertarik untuk mengikutinya. Tidak bisa dipungkiri bahwa hadiahnya memang cukup menggiurkan. Total hadiah 5 juta! Namun, bukan berarti itu adalah satu-satunya alasanku mengikuti lomba ini. Malahan, motif utamaku adalah ingin mengasah kemampuanku dalam hal menulis dan berharap tulisanku bisa dibaca lebih banyak orang.

Aku segera mengarang cerpen, namun sebenarnya bukan mengarang, lebih tepatnya menceritakan kembali perihal pengalamanku. Itu adalah cerpen pertamaku dan lomba menulis pertama yang kuikuti. Yakni LKMAI (Lomba Kreativitas Menulis Artikel Islam) edisi 4 Indahnya Islam. Namun, di edisi 4 ini, khusus lomba cerpen atau narasi saja, bertemakan “problematika remaja dalam Islam”. Lomba ini terdiri dari 2 tahap, yaitu tahap awal yang penilaiannya dilaksanakan tiap bulan dan diambil 1 pemenang tiap bulannya. Tahap awal dilaksanakan selama 5 bulan. Sedangkan tahap 2 adalah tahap final yang diikuti oleh 5 orang pemenang dari tiap bulan.

Sebenarnya, aku hanya sekedar coba-coba dalam mengikuti lomba ini, karena aku belum pernah mengikuti lomba menulis cerpen sebelumnya. Alhamdulillah. Hasilnya cukup mengejutkanku, meskipun tidak keluar sebagai pemenang di edisi 4 kali ini, namun aku sangat bersyukur bisa meraih nilai tertinggi ke-3 dari 47 naskah yang lolos seleksi. Aku benar-benar tidak menyangka dengan hasil ini, mengingat ini adalah lomba pertama yang kuikuti. Yang jelas, aku harus tetap belajar lagi dan lagi untuk memperbaiki kekeliruanku di sana-sini yang tentunya masih perlu banyak perbaikan. Dengan mengikuti banyak lomba, aku bisa mengukur kemampuanku dengan melihat penilaian para juri terhadap karyaku.

Untitled

Intinya, kita tidak boleh cepat puas dengan hasil apapun dan harus selalu belajar untuk membenahi diri menuju arah yang lebih baik demi kemajuan kualitas diri kita masing-masing. Jangan mudah menyerah dalam berusaha, yakinlah suatu saat kita akan memetik hasil yang lebih baik dari semua usaha yang telah kita lakukan. Doa tidak lupa menyertai setiap usaha, dan tawakal senantiasa mengikuti.

Masih teringat di benakku saat itu, yakni pada tanggal 6 oktober 2012, setelah beberapalama browsing-browsing di internet mengenai info lomba menulis, akhirnya dapat juga, yaitu lomba menulis artikel tentang budaya tradisi bagi para pemuda. Saat itu aku langsung tertarik untuk mengikutinya, terlebih lomba menulis ini dibagi dalam 2 kategori, yakni kategori mahasiswa dan kategori pelajar. Sehingga dapat membuka peluang lebih untuk memenanginya.

Waktu itu, aku tidak berharap banyak sama yang namanya hadiah, bahkan cenderung pesimis bakal jadi finalis, apalagi jadi juara. Apalagi setelah kubaca berita on line bahwa beberapa sekolah di Jakarta mewajibkan seluruh siswa-siswinya mengikuti lomba ini. Waduh, semakin kecil aja rasanya buat bisa lolos. Maka dari itu, memang dari awal aku nggak terlalu mikirin soal hadiahnya, meskipun hadiah yang ditawarkan cukup besar, dengan totalnya mencapai 15 juta rupiah plus 2 buah ipad.

Satu-satunya motivasiku buat ikut lomba ini adalah untuk mengukur kemampuanku dalam hal menulis. Apalagi tulisanku akan diseleksi dahulu dan apabila lolos, nantinya akan dibaca dan dinilai oleh juri-juri yang menurutku sudah profesional di bidang tulis-menulis. Yang jelas, nggak dapet apa-apa juga nggak papa alias nggak berharap banyak.

Akhirnya pada pagi harinya, aku minta pendapat plus ide dari teman-teman di sekolah. Aku yakin kalau ide dari banyak orang akan lebih bervariasi dan lebih kreatif dibandingkan jika hanya dari sudut pandangku sendiri. Ternyata keyakinanku terbukti, banyak ide-ide cemerlang yang keluar dari masing-masing orang yang aku mintai pendapat.

Malamnya, aku langsung menghadap komputer, karena hari itu adalah hari terakhir pengumpulan naskah lomba alias deadline-nya, tepatnya tanggal 7 Oktober 2012. Semua ide-ide yang telah kupilah-pilih, kutuangkan satu-persatu ke dalam bentuk paragraf-paragraf tulisan. Malam itu benar-benar malam yang penuh kerja keras, aku harus menyelesaikan artikel dan mengirimkan naskah tersebut sebelum jam 12 malam. Padahal kalau tidak salah, pagi harinya itu ada ulangan harian. Tapi, pikiranku saat itu hanya fokus ke lomba itu.

Setelah  beberapa bulan kemudian, entah kenapa lomba itu tidak terpikirkan lagi olehku. Namun, pada suatu hari, saat modem akhirnya diisi pulsa dan bisa digunakan kembali untuk ‘ngenet’, tiba-tiba ingatanku tertuju pada lomba tersebut. Langsung saja kujelajahi web yang menyelenggarakan lomba itu, akhirnya ketemu juga pengumuman pemenang lomba menulis tersebut. Dan ternyataa.. percaya tak percaya, namaku terpampang di pengumuman itu sebagai finalis. Jujur saat itu aku benar-benar tidak ada pikiran sama sekali namaku bakalan ada di situ. Rasanya saat itu surprise banget, terkejut, bangga, seneng, dan campur-campur. Setelah mengirim naskah ke beberapa lomba, akhirnya ada juga yang membuahkan hasil. Walaupun tidak juara, tapi bagiku ini adalah awal yang sangat berarti buat aku. Hikmahnya adalah, tetaplah berjuang, tetaplah berkarya, meskipun semua itu terlihat tidak mungkin bagi kita. Tapi yakinlah Allah yang akan melihat dan menilai sejauh mana usaha kita, dan Allah pula yang akan menentukan hasilnya.

Foto0497

Sedikit untaian kata tentang #Ayo Menulis

Nulis itu nggak perlu keahlian, nulis itu nggak usah mikir lama-lama, nulis itu nggak perlu inspirasi, nulis itu nggak butuh persiapan, nulis itu nggak perlu bahasa tingkat tinggi dan nulis itu nggak perlu ribet. Kenapa bisa begitu? Pertama, nulis itu nggak perlu keahlian, tapi nulis itu cuman butuh latihan. Nulis juga nggak butuh mikir lama-lama, karena kalo mikirnya lama pasti nggak nulis-nulis.  Yang jelas, kamu cuma perlu cerita atau curhat dalam bentuk tulisan. Tinggal tulis apa saja yang sedang kamu rasakan. Pasti deh, bisa ngalir panjang tuh tulisan. Bayangin aja kamu lagi cerita ke temen atau sahabat kamu, tentang apa saja yang kamu rasakan dan apa saja yang kamu inginkan. Yang ketiga, nulis itu nggak butuh inspirasi. Kita nggak perlu cari-cari inspirasi yang muluk-muluk kalau mau nulis. Tulis aja mulai dari hal-hal yang sederhana. Misalnya, karena aku lagi nulis, makanya aku juga tergerak untuk menulis tentang “menulis”. Atau mungkin saja nanti kita terdampar di perpustakaan, nggak usah pusing-pusing cari inspirasi, kita tulis dan deskripsikan tentang perpustakaan di sana. Selesai kan? Lanjut nih, nulis pun nggak perlu persiapan yang susah, kita hanya perlu ambil pensil dan kertas, kemudian toreskan hal apapun di sana. Atau kalau ada laptop, manfaatkan aja tuh laptop. Terakhir, nulis itu nggak perlu bahasa tingkat tinggi bagai penyair handal atau pengarang best seller. Yang namanya nulis, berarti semua aturan di kertas itu murni kekuasaan penulis. Pokoknya tulis aja pake bahasamu sendiri, bahasa yang umum dan sering kalian gunakan. Nah, nulis itu gampang kan?

Nggak ada alasan orang buat ngomong “aku nggak bisa nulis”, yang ada hanyalah “aku nggak mau nulis”, nah itu kembali pada kemauan dan niat awal dari hati kita. Yang jelas, nulis itu gampang, semua orang bisa nulis, semua orang punya ide yang cemerlang dan unik dari dirinya masing-masing. Marilah kita menulis untuk saling berbagi dan bertukar pikiran. Nggak mungkin kalo semua orang idenya sama, kalaupun sama, pasti ada sudut pandang tertentu yang berbeda. Coba kita bayangkan kalau semua orang di dunia mau menulis dan berbagi ide serta bertukar pikiran untuk kemajuan bersama, pasti dunia ini akan penuh berbagai inspirasi yang unik, asyik dan tentunya menarik untuk dibuat di dunia nyata atau direalisasikan.

One thought on “[Mozaik Blog Competition 2014] Menulis itu Gampang, Menulis itu Asyik!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s