Pengalaman Pertama ke UNDIP

Tanggal  4 Juli 2013 adalah salah satu hari paling bersejarah bagiku. Hari kamis itu adalah hari dimana aku diakui sebagai mahasiswa undip dan mendapat KTM untuk pertama kalinya, alias daftar ulang. Aneh rasanya ketika akan mengunjungi undip untuk pertama kalinya. Rasanya deg-degan karena akan melihat suatu tempat yang nantinya akan menjadi rumahku selama kurang lebih 4 tahun lamanya.

Berangkat dari rumah pukul setengah tujuh dan sampai di Semarang pukul sembilan. Dua setengah jam adalah perjalanan yang terhitung cepat dengan bis, karena masih pagi sehingga belum banyak kendaraan berlalu-lalang. Biasanya perjalanan Solo Semarang bisa mencapai tiga jam. Berangkat ditemani abah, yang di sepanjang perjalanan sempat berbincang sebentar dan akhirnya terlelap tidur. Biaya bus Solo Semarang yakni 25 ribu jika kalian dapat tempat duduk. Mengapa demikian? Karena saat tiba di terminal Boyolali dan tempat duduk sudah penuh, si kernet menawarkan harga 13 ribu pada calon penumpang. Wow, harganya turun 2 kali lipat.

Sampai di Semarang, kami turun di daerah sukun, dilanjutkan naik angkot dan turun di ngesrep atau patung diponegoro atau di gerbang undip. Ongkos angkot di undip 2500 rupiah. Belum cukup sampai di situ, kami naik angkot lagi dan turun di gedung sudharto. Di sepanjang perjalanan, rasa lega membuncah karena akhirnya bisa melihat secara langsung gedung dan masjid di undip, meski baru sebagian kecil saja.

Jujur, selama SMA aku tak pernah membayangkan akan belajar di undip sebelum akhirnya memutuskan menjadikan undip sebagai pilihan pertama di jalur seleksi snmptn undangan. Karena selama ini aku menginginkan kuliah di ipb, ugm dan uns. Tapi karena berbagai pertimbangan saat menjelang pendaftaran ditutup, akhirnya tekadku bulat mendaftar di undip. Aneh memang, namun pada waktunya nanti akan kusyukuri pilihanku itu.

Sampai di gedung sudharto undip tembalang, suasana riuh ramai langsung menyambutku. Ramai akan antrian calon mahasiswa dan riuh oleh teriakan-teriakan kakak-kakak tingkat yang  dengan hebohnya menyambut kita, adik-adik barunya. Keberadaan kakak-kakak yang dengan telatennya menyiapkan berbagai perangkat serta tulisan-tulisan penyambutan inilah yang membuat kesan pertama masuk undip adalah rasa kagum akan mereka. Mereka yang punya rasa kepedulian dan kekeluargaan yang tinggi, mereka yang mempunyai rasa solidaritas se-jurusan, se-fakultas, dan se-daerah. Yakni mereka para kakak tingkat yang rela menunggu dengan sabarnya hingga ada adik tingkatnya yang keluar dari pintu utama gedung sudharto.

Saking ramenya, saya sempat bingung di mana tempat masuk pendaftarannya, maklum agak telat. Langsung saja kami menghampiri rombongan kakak-kakak yang membawa identitas Biologi. Kami menanyakan langkah awalnya, dan yang membuat kami kagum adalah spontanitasnya mbak Aisah yang menawarkan bantuan untuk mengantarkan kami ke tempat pengambilan nomor. Mbak Aisah adalah orang pertama yang aku kenal di Undip. Mbak Aisah dan Mbak Linda adalah dua orang istimewa yang pertama kukenal di Undip dan merekalah yang mewarnai hari-hariku di kemudian hari. Trimakasih atas kepedulian kalian semua.

Aku dapat nomor antrian 491. Cukup banyak lah. Nah, di saat mengantri, aku sempat kenalan dengan beberapa temen baru, salah satu yang kuingat adalah fatimah dari palembang. Anaknya baik, bahkan ia menawarkan tempat kostnya dan rela hpnya aku pake buat sms. Di tengah waktu menunggu itu, ada kakak tingkat yang menyapa kami, namanya mbak Linda. Orangnya cantik, baik dan pembawaannya ramah tapi santai. Rupanya ia sedang mengantarkan saudaranya daftar ulang juga. Mbak Linda inilah yang nantinya banyak membantuku hingga saat masuk perkuliahan.

Awalnya aku dan abah baru berkenalan dengan mbak Linda dan bercakap-cakap sebentar. Kemudian aku beralih ngobrol dengan abah saja hingga akhirnya nomorku dipanggil dan aku tidak sadar hingga akhirnya mbak Linda yang tadi sudah menanyakan nomor antrianku malah memperhatikan. Mbak Linda langsung mengingatkanku dan menyuruhku masuk ke ruang daftar ulang.

Di ruang daftar ulang, ternyata masih harus ngantri buat pemeriksaan detak nadi dan mata, penyerahan berkas, pengambilan buku, dan akhirnya foto mengenakan jas almamater. Saat daftar ulang, dari pos awal hingga akhir, aku selalu bersamaan dengan teman baru dari kendal, anaknya lucu dan baik, namanya luluk. Sayang, nantinya saat kuliah kita tidak satu lokasi.

Pos terakhir adalah pos foto sekaligus pengambilan KTM. Seneng rasanya dapet KTM. Maklum belum tahu konsekuensi punya KTM, alias jadi mahasiswa. Daaan waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, waktunya keluar dari gedung sudharto dan disambut oleh teriakan kakak-kakak yang menyebut jurusan masing-masing. Dan setelah aku datengin rombongan Biologi, semakin meriah aja sambutannya, kaya orangtua nemu anaknya yang ilang bertahun-tahun, diberi selamat, diajak kenalan dan akhirnya foto bareng. Rasanya bahagia banget deh disambut oleh keakraban mereka.

Sesudah itu, aku diantar oleh mbak endang mengunjungi stand Biologi dan mengisi beberapa lembar biodata. Selesai nulis-nulis yang cukup lama, aku langsung menghampiri abah yang ternyata sejak aku masuk ruangan hingga selesai masih bercakap-cakap ria dengan mbak Linda. Aku datang bagaikan orang baru yang nggak tahu apa-apa dan berusaha mengetahui apa yang sedang mereka perbincangkan. Ternyata mereka sedang diskusi tentang kost-kosan dan wisma yang sedang ditinggali oleh mbak Linda dan kawan-kawan muslimah dari fsm. Kesimpulan kemudian yaitu kami tertarik dengan tawaran wisma tersebut dan akhirnya memutuskan untuk melihat-lihat wisma. Namun sebelumnya kami solat dhuhur terlebih dahulu di masjid fakultas teknik dekat gedung sudharto. Di perjalanan dari masjid, saya dikenalkan dengan mbak Diba yang juga membantu mencarikan kendaraan buat kami untuk ke wisma. Kami di sini adalah aku beserta abah dan juga Handa dengan orangtuanya yang juga ingin melihat wisma.

Sayangnya, mbak Linda ada ujian jam 1 sehingga tak bisa mengantarkan kami ke wisma. Tak lama kemudian pamanku datang membawa mobil dan hendak mengantar kami ke wisma. Kami diantar oleh mbak Nela dan mbak Salsa. Wismanya bersih dan rapi, fasilitasnya juga lengkap, nantinya dihuni 14 orang muslimah, hingga tak ada lagi alasan menolak tinggal di sana. Karena jam sudah menunjukkan pukul -berapa – dan perut mulai keroncongan, kami pun mampir ke warung makan SBC/sop iga bakar atas rekomendasi mbak Nela. Enak sih, tapi kenapa aku selesai terakhir? Huhu..

Lengkap sudah perjalanan hari itu, tapi sebelum pulang ke Solo, kami datang ke sekretariatan wisma salam samara undip alias RPIM (Rumah Prestasi Insan Mulia) untuk boking tempat di wisma dan membayar dp. Biaya sewa di wisma cukup murah kok, 2 juta setahun. Semoga saja aku mendapat keluarga baru di Semarang, dilimpahi kebahagiaan dan dan dikaruniai banyak kebaikan oleh Allah swt. Semoga ini jalan terbaik untuk memberi kemanfaatan buat aku dan orang-orang di sekitarku kelak. Aamiin..

Just info, sampe Solo jam 6 sore alias maghrib. Sungguh hari yang berkesan. Menginjakkan kaki di Undip untuk pertama kalinya.

July 11, 2013, 12:11:02 AM

6 thoughts on “Pengalaman Pertama ke UNDIP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s