Mengapa Sopir Bus Ugal-ugalan?

 

Mungkin sebagian orang atau bahkan kita sendiri sering merasa sebal dengan keberadaan bus-bus umum yang ugal-ugalan. Geram dengan kelakuan para sopir bus yang terkadang berlaku seenaknya di jalan raya. Terutama bagi pengendara sepeda motor, sebal karena tiba-tiba klakson bus mengagetkan atau tiba-tiba bus menyalip dan tiba-tiba juga berhenti seenak hati.

Andai kita tahu bahwa para sopir bus juga bukan tanpa alasan mengendarai bus dengan kecepatan tinggi. Ini adalah percakapan antara sopir bus dengan seorang ibu yang duduk di sebelah sang sopir. Saat bus tengah melaju kencang, si ibu spontan saja berkata, “pak, kalau nyopir jangan ngebut-ngebut to pak, bahaya lho”.

Pak sopir menjawab, ”sebenarnya itu juga bukan kemauan saya pribadi. Soalnya dari kota A menuju kota B itu sudah ada jadwalnya, dan saya harus menuruti jadwal, sehingga saya sering dikejar waktu.”

Nah menurut percakapan di atas, kita pun menjadi sedikit busa memahami apa yang sedang dilakukan oleh pak sopir. Mereka bukan tanpa alasan dan tanpa sadar akan bahaya, namun mau bagaimana lagi karena itu adalah tuntutan pekerjaan yang sudah diatur oleh atasannya. Sesungguhnya para sopir pun juga dalam tekanan waktu, apalagi jika di tengah jalan sempat bertemu kemacetan.

Coba kita pikirkan kembali, apakah memang watak asli si sopir juga senang ugal-ugalan? Kan belum tentu juga, karena jika sadar bahaya akan kecelakaan dan ingat keluarga di rumah yang sedang menantinya, pastinya para sopir juga tidak mau ngebut dan ugal-ugalan di jalan raya. Namun, lain halnya jika memang tuntutan pekerjaan. Bahkan menurut informasi yang saya dapat, tes untuk menjadi sopir bus adalah mengendarai bus dari kota A ke kota B dan hanya diberi waktu beberapa jam saja, tergantung jauh dekatnya jarak yang ditempuh.

Hal lain misalnya, ketika tiba-tiba ada bus nyelonong nyalip tanpa permisi, mungkin dalam hati kita berkata, “emang jalannya nenek moyang lu apa? Seenaknya saja ngebut kanan ngebut kiri”. Nah, jika ditelaah kembali, celotehan itu ada benarnya juga lho. Pasalnya, yang dikenakan biaya pajak termahal adalah perusahaan-perusahaan bus. Sedangkan kita yang hanya mengendarai motor pribadi, pajaknya jauh lebih kecil. Sehingga bisa dibilang memang jalan raya itu sebagian besar milik bus-bus itu.

Memang tingkah polah bus yang seenaknya sendiri juga tidak busa dibenarkan. Namun, kita hidup juga harus saling pengertian. Mengerti apa alasan para sopir bus sering bertindak nyeleneh dan kebut-kebutan di jalan raya. Meski begitu, tentu saja tidak semua sopir bus seperti itu, masih banyak para sopir yang baik dalam pengertian tidak pernah menyulitkan pengendara lain dan tidak mengendarai bus dengan kecepatan tinggi sehingga membahayakan kendaraan lainnya.

Tulisan ini bukan bermaksud menjelek-jelekkan atau membenarkan pihak tertentu, namun lebih kepada menyadarkan pada kita semua agar tidak hanya melihat dari sisi tertentu saja, karena masih banyak sisi-sisi lain yang mungkin belum kita mengerti.

July 10, 2013, 5:38:20 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s