Go to Semarang #Jadi Maba1

Minggu pagi tanggal 25 Agustus 2013, aku dan abah mau pergi ke Semarang, rencana berangkat jam setengah 7. Faktanya, jam 7 baru ribut cari makanan. Akhirnya aku, abah, fida dan zahro jalan bareng cari makan. Kita sepakat makan di warung sate di pinggir jalan raya biar nantinya bisa langsung naik bis. Nah, aku masih inget banget kalo fida sama zahro disuruh abah bawain tasku yang kaya orang mau pindahan. Dengan terpaksa mereka mau, demi makan sate bareng. Semalam sebelumnya, aku bingung milah-milih baju mana yang mau aku bawa. Udah rapi semua, masih aja bongkar pasang lagi sampai tengah malem. Akhirnya, dengan berat hati, aku hanya bisa membawa 3 tas dengan beberapa baju. Karena di rumah memang hanya ada 3 tas.

Sampai di warung sate, penjualnya terheran-heran melihat kita, kaya orang mau pindahan aja. Padahal yang mau pindah cuma satu orang tapi yang nganterin rombongan. Habis makan-makan, abah ngasih wejangan banyak banget buat aku sama adik-adikku. Kaya semacam pesan perpisahan gitu. Pas itu perasaanku biasa aja, belum kerasa kalau mau pergi lama. Aku sama abah langsung naik bis wahyu menuju terminal Kartosuro.

Rencana awal bubar semua, dari target awal jam setengah 7, jadi setengah 9 kita baru berangkat. Setelah turun di terminal, kami pindah ke bis patas jurusan Solo-Semarang,aku lupa nama bisnya apa. Tempat duduknya nggak bisa sebelahan sama abah, soalnya udah pada penuh. Ya nggak papa lah, cari kenalan baru. Aku sebangku sama seorang mbak asal Sragen yang bekerja di Semarang sebagai buruh di pabrik kerajinan tangan berbahan rotan. Mbaknya baik banget, setelah tau kalau aku mahasiswa baru dan masih awam tentang Semarang, mbaknya banyak kasih nasehat dan cerita perihal kehidupan di Semarang. By the way, makasih ya mbak, dan maaf aku lupa nama mbak siapa, moga kita dipertemukan lagi di lain waktu.

Nah, sekitar jam setengah sebelas kami sampai di Semarang. Turun di Sukun, lalu oper bis kecil sampai patung Diponegoro/Ngesrep. Lanjut angkutan dengan rute Undip-Ngesrep. Sebenernya aku nggak tau apa-apa sih, pun nggak tau mau turun di mana, tapi asal naik angkot aja lah. Setelah masuk angkot, baru aku telfon mbak linda. Mbak linda itu mas’ul wisma shofiyah/ ketua wisma yang mana wisma ini akan menjadi tempat tinggalku selama setahun. Akhirnya mbak linda kasih instruksi tempat di mana aku harus turun, dan aku nurut aja. Keluar angkot, aku udah dinanti sama mbak linda dan nana di depan gang. Kita jalan kaki ber-empat menuju wisma, dan mbak linda juga membantu membawakan tasku yang lumayan berat. Mbak linda inilah yang pertama kali mengenalkan aku dengan wisma dan nantinya banyak membantuku di hari-hari selanjutnya (?).

Saat pertama kali merasakan sejuknya hawa di wisma itu rasanya lega banget. Akhirnya bisa sampai pada suatu keadaan yang sebelumnya masih abstrak di bayangan dan kini menjadi konkrit. Nah, meski aku adalah maba terakhir yang datang ke wisma, tapi suasana wisma masih sepi. Masih pada ngamar, belum akrab dan sebagian ada yang pergi. Alhasil, masih krik-krik lah. Aku sama abah disuguhin air putih sama mbak linda. Lalu seperti biasa, abah nitip pesan ini itu buat aku dan mbak linda. Nggak kerasa, tiba-tiba waktu dhuhur pun menghampiri. Abah solat di musola dan temen-temen solat di wisma. Setelah solat, kita rencana mau cari makan siang bareng. Saat waktu solat di wisma itulah aku agak heran, soalnya, mau solat aja kok lama banget. Ternyata di wisma itu harus solat berjamaah, saling tunggu menunggu. Tiap mau solat, kita antri wudhu. Namun dengan sabar menunggu itulah kita menuai pahala jamaah yang jauh lebih besar.

Oke, habis solat kita beranjak menuju rumah makan penyetan oishi. Anehnya, aku sama nana hanya pesen nasi goreng, makanan yang udah biasa dimakan di rumah. Kalau abah dan mbak linda pesen gongso dan tempe penyet. Baru satu hari di Tembalang, udah ketemu sesuatu yang baru, penyetan sama gongso. Nah, tempe penyet yang aku kira dipenyet, ternyata cuma tempe goreng biasa, haduh. Kalo gongso itu, bumbunya kaya tongseng, tapi isinya tergantung pesenan kita. Asal tahu aja, nasi goreng yang aku pesen itu porsinya super gede. Masih inget banget kalo waktu itu tinggal aku sama nana yang makannya nggak habis-habis. Kita cuman liat-liatan dan sesekali senyum, sama-sama tahu kalo udah nggak kuat makan sebenernya. Rasanya itu nggak muat nih perut, udah muneg. Sampe makanan yang cuma satu sendok aja bisa lama banget di mulut. Yaudah itu aja about makan.

Kejadian habis makan itu yang agak janggal, apalagi saat abah udah naik angkot buat kembali ke Solo. Rasanya nggak mau ditinggal pulang, apalagi tinggalnya sama orang-orang yang belum kenal. Saat itu rasanya percaya nggak percaya kalo bakalan berpisah sama keluarga dalam waktu lama. Pas aku lagi nulis ini, tepat 3 minggu sudah aku di wisma, dan aku belum pulang sampai sekarang, huhu. .

Perjalanan pulang ke wisma bareng mbak linda dan nana adalah awal mula aku berjalan tanpa keluarga di sebelahku. Tapi perjalanan selanjutnya akan lebih indah dari yang dipikirkan. Saat itu aku masih nggak tau apa-apa, nggak mikir apa-apa, nggak tahu kehidupan nantinya gimana. Masih kebawa suasana rumah yang bisa dibilang serba ada, meski pas-pasan.

Jujur, hari-hari pertama di wisma itu aku masih banyak kaget, masih kaku, masih bingung dengan keadaan. Kaget karena belum terbiasa mandiri, lalu tiba-tiba harus mikir semuanya sendiri. Sekarang baru nyadar gimana perjuangan orangtua yang harus memikirkan kebutuhan orang sekeluarga. Saat itu aku kaget ,soalnya, tiba-tiba harus cari makan sendiri, sedang aku sama sekali nggak tahu daerah ini, belum kenal siapa-siapa dan jalan ke wisma aja masih lupa-lupa. Pokoknya jauh sama suasana di rumah yang semuanya udah disiapkan, atau paling enggak kita udah tahu cara memasaknya dan segala macam alat bahannya. Lah kalo di sini, air aja aku bingung ngambilnya di mana. Pokoknya pas itu aku parah banget deh. Apalagi hari pertama belum pada kenal.

Orang pertama yang aku kenal setelah mbak linda, nana dan mbak aik, adalah clara. Nasib dia sama kaya aku, datang di hari paling akhir sebelum upacara penerimaan mahasiswa baru. Clara itu temen wisma yang pertama akrab sama aku. Pertama kenalan tuh dia ngobrol sama aku di kamar pojok shofiyah. Ngobrol ngalor ngidul sampe pada urusan makan. Dan asal tahu aja, tiap hari kita barengan makan nasi sama telor selama seminggu PMB. Parah banget kan, kaya nggak tahu apa-apa aja. Padahal kalo mau cari warung, di kanan kiri juga ada. Yang kita pikirkan waktu itu ya biar gampang aja, biar nggak ribet. Tapi jujur, bosen banget.

Clara itu orangnya memang suka cerita. Kesan pertama, dia itu masih kalem, masih malu-malu. Tapi ternyata, setelah seminggu di wisma. Clara berubah seratus delapan puluh derajat, ternyataaa parah banget dah. Gak usah aku sampein di sini, cukup hanya penghuni wisma aja yang tahu, dan yang lain cukup tahu saja. Haha..

September 2013, @Shofiyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s