Kenangan Manis Wisma Shofiyah 2013 #sesi1

Sungguh beruntung berada di lingkungan yang sangat baik di Undip ini, yakni dipertemukan dengan orang-orang spesial dan harus kuakui mereka luar biasa. Mereka dipersatukan dengan ukhuwah meski dengan latar belakang yang berbeda-beda. Mereka saling memahami satu sama lain, meski dengan karakteristik yang sangat berbeda. Mereka dapat menyatu meski banyak perdebatan terjadi. Sesungguhnya bukanlah mereka, namun sesungguhnya ‘kami’ telah dipersatukan. Kami merasa telah mempunyai saudara di Semarang yang bisa saling mengerti. Kami sadar bahwa mereka-lah yang senantiasa berada di sekeliling kami, senantiasa siap sedia untuk menolong kami. Merekalah yang sangat mengerti karakter dan sifat buruk kami, namun mereka jualah yang pandai menyembunyikan keburukan-keburukan kami. Kami sadar, bukannya tak ada pertengkaran yang terjadi, tapi kami pun sadar untuk apalah bermusuhan, jika sekembalinya, kami pun akan dipersatukan dalam naungan wisma tercinta kami. Kami yakin telah banyak kenangan terukir yang tentunya tak bisa dilupakan begitu saja, segala canda, gurauan, curhatan, keluh kesah, tangisan, dan segala hal yang tercipta sangatlah berharga untuk sekedar dilewatkan. Pengalaman yang akan begitu kami rindukan, yakni adanya cinta dan kebersamaan. Wisma, yang semoga dengan adanya para penghuninya bisa saling mengerti dan akan tetap saling mencintai meski waktu harus memisahkan. Rindu kalian karena Allah warga Shofiyah 2013. Semoga kita dipertemukan dalam naungan kekal surga-Nya di akherat nanti.

@my middle room Shofiyah,  13 Juli 2014, 11;23 AM

Beruntung berada dalam naungan orang-orang luar biasa yang telah banyak memberi bimbingan, petunjuk, dan mungkin paksaan pada kebaikan. Terimakasih buat mbak-mbak di wisma Samara 2013 yang selama setahun ini telah banyak memberikan segala hal kebaikan buat kami, adik-adik maba 2013. Terimakasih buat segala nasehat, semangat, peringatan, sindiran, paksaan, dan pengorbanan mbak-mbak buat kami. Maafkan kami yang jelas banyak berbuat kesalahan, dan bahkan mengecewakan harapan. Semoga segala hal itu bisa menjadi amal jariyah mbak-mbak dan doakan kami bisa meneruskan perjuangan.

Berada di lingkungan luar biasa ini membawa kami menjadi pribadi-pribadi yang mau tidak mau menjadi mau untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri, tapi juga mau memikirkan kepentingan umat, salah satunya yaitu terjun dalam suatu organisasi. Mereka, pembina wisma, adalah orang-orang luar biasa yang mau mengorbankan tenaga, waktu, harta untuk kepentingan umat. Hingga akhirnya, entah bagaimana caranya, kita pun tersadar, berubah, dan beranjak ikut berjuang dalam kebaikan bersama mereka.

@Shofiyah, 14 Juli 2014, 12:11 PM

Sedih, udah nggak gabung lagi sama the geng’s Shofiyah 2013, udah nggak ada lagi cerita-cerita dan ngumpul bareng, udah nggak ada lagi makan dan nonton TV bareng, udah nggak ada lagi kekonyolan-kekonyolan warga Shofiyah, udah nggak ada lagi teriakan “hafiiiizz” nya clara, udah nggak denger lagi “uwedan” nya mbak iin, udah nggak ada lagi “pie jhal” nya mbak hanna, udah nggak ada lagi nonton film horror bareng, udah nggak ada lagi gertakannya mbak dila yang lucu, udah nggak ada lagi curhatannya mbak aik, udah nggak ada lagi sindirannya mbak linda, udah nggak ada lagi omelannya mbak desy. Hehe.. piss🙂

Aku ngerasa hati ini udah saling terikat, saling mengerti, saling mengikhlaskan satu sama lain, meski terkadang masih ada konflik kecil antar individu, tapi itu adalah hal sangat kecil, karena yang harus dikedepankan bukan ego masing-masing, tapi bagaimana kita bisa saling mengikhlaskan dan memaafkan untuk melebur dalam satu keluarga, sehingga kenyamanan berada di wisma itu dapat tercipta dan kita rasakan.

Mau nyaman atau enggaknya di wisma itu ya tergantung bagaimana kita memandang wisma itu sendiri. Jika kita selalu positif thinking dengan mereka dan selalu berusaha untuk memaafkan dan mengikhlaskan, maka rasa nyaman itu akan datang dengan sendirinya.

Jika ada suatu hal yang tidak beres atau tidak sesuai dengan seharusnya, nah bagaimana kita bisa memberi contoh dan teladan dulu tanpa langsung menegur,  jika belum mengena, selanjutnya bisa lewat sindiran halus untuk menghindari kesan menggurui, jika belum mengena juga, barulah kita komunikasikan, yakni bertanya masalahnya dan memberi solusi serta nasehat yang baik agar tidak ada rasa sakit hati.

Saturday, ‎July ‎19, ‎2014, ‏‎10:00:11 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s