UNDIP-Semester3 #SemesterPerjuangan

Refleksi semester 3 harus segera dibuat gengs! Hutang pengalaman sama teman-temanmu di luar sana yang butuh ceritamu, butuh idemu, butuh semangatmu. Tunjukkan itu!

Dan Alhamdulillah terlaksana juga buat nulis inih, semoga bermanfaat🙂

Di semester 3 aku dapat pesanan seragam kepanitiaan seminar kemuslimahan. Ini pencapaian yang cukup menyenangkan dalam belajar bisnisku yang tersendat-sendat ini. Alhamdulillah mendapat pesanan baju kemeja batik muslimah sebanyak 40 setel. Meski begitu, di semester 3 penjualannya nggak segampang dulu, di semester ini hanya bisa menjual beberapa rok jeans dan 2 lusin kaos kaki aja. Tak apalah, memang usahaku juga kurang. Hasil nggak akan mengkhianati proses. Bersyukur aja and keep fighting!

Di semester 3 aku berada di lingkaran organisasi yang mengelilingiku, namun semua seperti berputar begitu saja tanpa campur tangan yang berarti dariku. Ada peran memang, tapi tak sedikit juga yang terlewatkan. Semester puncak bagi organisasi berada di semester ganjil ini. Hampir semua proker besar ada di sini, ditambah kerja besar dalam penyambutan maba, alias warga baru kampus undip atau adik-adik kita (berasa tambah tua aja). Terjun di 4 organisasi adalah nano-nano, apalagi di-mix dengan puncaknya laporan tersibuk di semester 3. Mencicipi berbagai rasa di beberapa kepanitian itu nikmat tersendiri. Meski semua telah terlaksana, tapi ada saja rasa kurang di sana-sini. Namun, biarlah itu menjadi pelajaran di kemudian hari.

Satu tamparan keras buat aku, mungkin karena kurang bisa memaksa diri untuk disiplin, maka kegiatan menunda adalah dosa terbesarku saat itu, banyak agenda yang ku-korbankan hanya karena alasan memalukan, yakni ‘laporan’. Mungkin juga karena semangat yang kendor, iman yang futur, atau pikiran yang kabur, maka aku semakin tak terlihat saja. Hingga kerja-kerja tak selesai, amanah terlalaikan, dan penyesalan yang selalu berada di akhir. Yah, mereka bilang aku kemana saja, aku ngapain aja, dan aku makin nggak jelas menurut mereka. Tapi rasa kecewa adalah tanda cinta mereka kepadaku. Dengan adanya kecewa, berarti banyak harapan yang mereka gantungkan di pundakku. Maafkan aku kawan..

Bukan tentang balas dendam, tapi berusaha menjalankan tanggung jawab moral. Peran yang kuambil juga yang sejalan dengan hati dan pemahaman. Menjadi panitia PPM (Pengenalan dan Pengakraban Mahasiswa) adalah tentang rasa kasih sayang, tentang kepedulian dan tentang pengorbanan. Tak ada yang didapat selain rasa lelah yang dikalahkan oleh rasa bahagia melihat adik-adik yang terus berkembang. Berbagi, yah itulah peran yang ingin kulakukan. Menjadi kakak adalah menjadi teladan dan sumber informasi. Berusaha memberikan yang diketahui untuk kebaikan adik-adik ke depannya. Bukan hanya itu, ada bagian paling spesial di sini, yakni ngerasain “ohh gini toh jadi panitia PPM”, beruntung banget bisa jadi bagian dari panitia PPM 2014. Bangga bisa kerja bareng kalian dan maaf dengan peranku yang kurang maksimal. Best wishes for bioryza!

Menjadi pementor adalah tentang tanggung jawab pada diri sendiri dan memenuhi hak-hak adik-adik mentee. Lebih dari sekedar kasih sayang dan berbagi, namun juga belajar untuk sabar, berbaik sangka dan memahami mereka dari banyak sisi. Tanggung jawab menyalurkan ilmu, karena kita pun telah diberikan ilmu, maka kita wajib membagikannya. Ilmu yang bermanfaat itu yang dibagikan, bukan dipendam. Bukan panggilan jiwa, tapi sebagai tabungan jawaban ketika ditanya di alam kubur, “untuk apa ilmu yang telah engkau dapatkan?”. Kembali lagi, luruskan niat hanya karena Allah. Buat saudariku yang karena Allah kita dipersatukan: nurul, nisa, isti, ana, sinta, anis dan fatim, maafkan mbak yang belum bisa membersamai kalian di saat dibutuhkan dan kurang dalam memberikan apa yang seharusnya kalian dapatkan. Semoga Allah selalu memberikan kebaikan dan keberkahan pada apapun yang kalian kerjakan. Love you cause Allah.

Di Semester 3 aku seperti menjadi orang paling nggak jelas dalam laporan praktikum, morat-marit dalam revisinya dan paling banyak hutang budi pada teman-teman seangkatan. Gimana enggak, H-1 laporan dikumpul, belum nyari bahan apapun. Terimakasih banyak dan tak terkira pokoknya buat temen-temen yang udah menyelamatkan aku dan banyak membantuku tanpa tahu kapan itu akan berbalas. Inilah istilah-istilah yang menggambarkanku saat itu: “Laporan menyita hidupku. Laporan menguasaiku. Laporan sumber alasanku. Laporan pembatal agendaku. Laporan perebut kekuasaanku.” Lebay sih, yang bener, ”itu semua adalah salahku”.

Ada kenangan ngumpulin laporan setiap kamis atau jumat malam dengan jalan kaki sendirian ke maskam. Sesungguhnya deadline itu nikmat. Ada juga kisah sakit ke-dua ku selama di Undip, parahnya ini di malam UAS, dan pada akhirnya beberapa hari UAS berjalan tanpa belajar selayaknya. Hanya sepotong-sepotong saja, karena pening yang melanda tiba-tiba. Ada juga sedihnya ketika IP terpuruk sedang yang lain naik. IP terpuruk sempat membuatku down, pasrah dan malas untuk berdoa lagi. Tapi itu semua ternyata salah. Ikhlas itu ketika berdoa belum dikabulkan, lantas tetap setia untuk memohon pada Allah. Memang yang namanya ikhlas, baik sangka, dan sabar itu sesuatu banget. Easy to say but its hard to do.

Di semester 3 adalah semester petualangan. Di tengah hiruk pikuknya kegiatan lain, mulai nih aku sempatkan untuk ikut berbagai seminar. Aku sempatkan untuk mengenal Undip lebih dekat, keliling berbagai fakultas di Undip. Sempat menyesal kenapa baru sekarang memulainya, kenapa bukan dari kemaren menangkap manfaat yang beterbangan bebas di kampus Tembalang ini. Bertemu Muhammad Assad dan Merry Riana adalah perjuangan dan jawaban dari sebuah kekuatan rasa percaya. Semuanya gratis dan penuh ketidakpercayaan. Meski bermodal ‘believe’, tapi tetep merasa ‘unbelieveble’. Bahkan hingga H-1 pun belum mendapat kepastian bisa mengikuti seminar. Hingga akhirnya Allah mengirim orang-orang yang memberikanku tiket padaku secara cuma-cuma.

Selain seminar, aku juga beruntung bisa melihat kompetisi lomba debat ilmiah tingkat Nasional 2014 yang diadakan oleh Undip, khususnya Research Incubator Centre (RIC) Fakultas Sains dan Matematika. Lomba ini dinamakan Diponegoro Science Challenge atau DSC. DSC merupakan acara tahunan dari RIC yang terdiri dari lomba Debat Ilmiah dan Teknopreneur Competition. Merasa beruntung bisa bertemu orang-orang hebat Indonesia yang berkumpul dan berkompetisi di Undip. Tapi sayangnya Undip belum bisa menjuarai. Aku pun berharap suatu saat bisa mengharumkan Undip di kancah nasional. Aamiin.

Di semester 3, buat lingkaran ukhuwah-ku, aku berharap kita bisa lebih dekat, bisa lebih mengenal, bisa lebih saling bergantung, bisa lebih saling merepotkan, bisa lebih saling menguatkan. Aku berharap ego kita bisa melebur di sini, aku berharap rasa rindu bisa muncul dari lingkaran ini, aku berharap bukan hanya rutinitas, tapi menjadi prioritas yang dibutuhkan. Aku harap pejuang islam sejati lahir dari lingkaran ini, pejuang yang karena Allah kita hidup dan karena Allah kita bergerak. For the our new leader, keep spirit ajah😀

Kawaan, memang semakin banyak tahu semakin besar tanggung jawab terpampang. Terkadang, tidak tahu itu adalah sebuah anugerah. Tapi tak perlu disesali dengan menjadi lebih tahu. Diberi pengetahuan lebih berarti diberi kepercayaan lebih dari yang lain. Maka yang harus dilakukan yaitu berusaha semaksimal mungkin untuk menjalankan kepercayaan itu. Bukan menambah beban, tapi berusaha menjadi dewasa dengan menguatkan pijakan. Keep positive thinking for everything!

‎April ‎26, ‎2015 @rumaisha sesi 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s