#Semester 5- Semester Hijrahku

Di semester 5 aku mulai berubah, mulai menyadari suatu tanggungjawab, mulai merasa malu akan kesalahan-kesalahan. Banyak faktor yang membuatku mulai berfikir dan akhirnya memutuskan untuk mulai berubah, terutama mengubah kebiasaan-kebiasaan dulu. Dari semua faktor, menurutku faktor terbesar adalah keberadaan adik-adik di wisma yang kritis-kritis, yang lebih baik dari aku, yang banyak cerita ini itu ataupun mengeluhkan sesuatu yang bahkan sebelumnya tak pernah terfikirkan olehku. Memang belajar tak perlu dengan orang yang lebih dewasa atau yang lebih pintar dari kita, karena sesungguhnya setiap orang pun bisa memberikan pelajaran berharga buat kita. Apabila dikerucutkan lagi, faktor terbesar dari keberadaan adik-adik di wisma yaitu faktor malu. Ya, malu. Malu ketika mereka lebih baik dariku dari segi banyak hal, malu ketika mereka lebih rajin membersikan kamar, malu ketika mereka bangun lebih pagi dariku dan lebih dahulu membangunkanku, malu ketika mereka berwudhu di sepertiga malam dan mendirikan tahajud, malu ketika mereka menjumpaiku tidur sehabis subuh, malu ketika mereka rajin puasa senin-kamis, malu ketika berangkat kuliah telat sedang mereka dengan semangatnya berangkat lebih pagi, malu ketika mereka lebih rajin datang kajian, malu ketika pengetahuanku belum seberapa dibanding mereka, malu ketika diri ini mengeluh sedangkan keadaan mereka tidak lebih baik dariku, malu ketika mereka lebih baik dan lebih rajin dalam membaca Al-Qur’an, malu ketika hafalannya jauh lebih banyak, malu ketika mereka dengan semangatnya berusaha berubah menjadi lebih baik, malu ketika mereka meminta nasehat ini itu tapi sebenarnya diri ini pun belum mampu, malu ketika belum bisa menjadi teladan yang baik buat mereka, malu ketika mereka lebih peka dariku, malu ketika dikritik dan dikomen ini itu, malu ketika banyak laporan dan keluhan datang kepadaku, malu ketika mereka yang mengingatkan dan menasehati tentang tanggungjawabku. Oh Allah, terimakasih atas segala nikmatmu, terimakasih atas segala takdir pertemuan ini, terimakasih telah diberi tempat belajar terbaik di Semarang ini.

Di semester 5 baru menyadari adanya tanggungjawab yang besar, baik di kampus maupun di wisma. Tanggungjawab untuk turut membangun peradaban Islam dengan rajin mengadakan mentoring. Tanggungjawab mensyi’arkan nilai-nilai Islam di lingkungan kampus ataupun di organisasi kampus. Tanggungjawab pembinaan di dalam wisma. Tanggungjawab terhadap saudara-saudara seiman, karena sudara-mu, amanah-mu.

Di semester 5 ini banyak orang yang menyadarkanku akan kesalahan-kesalahanku dan berusaha membuatku lebih baik. Terimakasih buat semua kritikannya, nasehat-nasehatnya, makasih sudah banyak mengingatkan, makasih udah marahin aku, makasih udah nge-jleb in aku, makasih udah nyindir-nyindir aku, makasih udah banyak memberi pelajaraan berharga dengan berbagai kisahnya, tapi aku tahu bahwa semua itu dilakukan untuk membuatku lebih baik lagi. Makasih buat semua ilmu yang kalian berikan dengan mewarnai hidupku di semester 5 ini, karena setiap jejak langkah, setiap detik waktu adalah pelajaran bagi orang yang mau mengambil pelajaran dan hikmah.

Di semester 5 aku telah melewati satu bagian dari kewajiban kuliah yang bernama KP alias kerja praktek. Berasa mengingat segala memori tentang KP yang sebenernya pengen aku lupakan. Memang setiap orang memiliki kisahnya masing-masing, memiliki perjuangannya masing-masing, maka dari itu hargailah setiap perbedaan yang ada, karena kalian memang berbeda. Pengalaman hiduplah yang memberikan persepsi berbeda pada setiap orang. Hargailah perbedaaan, dan jika terdapat kesalahan, maka nasehatilah dengan cara yang baik agar tidak menyakiti hatinya, dan aku pun masih belajar dalam hal ini. Cerita tentang KP itu perjuangan banget, kerasa banget ketika dibenturkan tuntutan KP harus cepat selesai dengan agenda-agenda penting yang juga tak bisa ditinggalkan begitu saja. Alhasil harus izin sana sini dan terkadang pun kabur-kaburan. Maafkaan L. Harus bisa pinter-pinter mencuri waktu di sela-sela kesibukan kuliah dan organisasi, belum lagi bukan hanya waktuku, tapi waktu teman-teman juga, karena aku ngga bisa kerja KP tanpa bantuan teman. KP itu perjuangan di wisma sendirian dan ngga pulang waktu minggu tenang. Merasakan sedihnya ketika dosen sendiri yang meragukanku dan bertanya, kira-kira selesai nggak ya KP-mu? Masih kurang ini kurang itu lho. Pengen nangis aja, tapi aku harus meyakinkan diriku bahwa KP harus selesai semester ini juga, apapun yang terjadi. Tapi, terimakasih buat dosen yang udah membimbing dan banyak ngingetinnya, dan semua itu dilakukan buat nyemangatin aku biar cepet selese. Terimakasih buat Tati dan Anggi yang udah mau diajak capek-capek ria dan panas-panasan nyari lichen. Hoho.. terimakasih buat semangatnya dan segala macam bantuannya. Makasih juga buat Tasya dan Vera yang sering ngingetin aku dan nyuruh-nyuruh aku buat ngerjain laporan KP. Makasih buat Tasya yang udah nemenin aku di waktu-waktu krusial itu, waktu lembur-lembur ngga tidur sampe tengah malem kaya orang frustasi buat ngerjain revisi, udah ngehibur cerita sana-sini tapi ngga digubris, maafkaan, dan makasih udah puas ngetawain aku. But, semua itu akhirnya berlalu. It’s over. Alhamdulillah ya Allah.

9:00 AM, 31 Januari 2016, @kamarhanin#Solo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s